LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Klik Madura.
****
TERIK matahari siang itu tak menghalangi langkah menuju sebuah kafe sederhana di Kelurahan Lawangan Daya. Dari luar, tempat itu tampak seperti kafe pada umumnya, menyajikan kopi dan minuman khas anak muda. Namun, di balik suasana santainya, ada denyut kecil gerakan literasi yang terus hidup.
Kafe Balada, begitu masyarakat menyebutnya, bukan sekadar tempat nongkrong. Di sudut ruang yang tak terlalu luas, rak-rak buku berdiri menemani aroma kopi.
Di sinilah sekelompok anak muda berkumpul setiap Minggu, membaca, berdiskusi, dan merawat semangat literasi melalui komunitas bernama Booktalkzone (BTZ) Pamekasan.
Jumlah mereka memang tidak banyak. Namun, konsistensi menjadi kekuatan utama. Tanpa absen, kegiatan ini terus berjalan, menghadirkan ruang diskusi yang terbuka bagi siapa saja.
“Insya Allah semoga kami rutin mengadakan setiap minggunya,” ujar Fasilitator BTZ Pamekasan, Rahmat Hidayat.
Di tengah minimnya komunitas literasi di Kabupaten Pamekasan, kehadiran BTZ menjadi oase kecil bagi mereka yang ingin berbagi gagasan dari buku yang dibaca. Tak ada batasan genre dalam diskusi ini. Fiksi, nonfiksi, hingga tema-tema bebas, semuanya diterima.
Bagi BTZ, buku bukan sekadar bacaan, melainkan pintu untuk memperluas wawasan dan memperkaya perspektif.
“Selain itu juga kami mendiskusikan hal-hal lain walaupun di luar konteks bacaan. Sebagai bentuk memperluas nalar perspektif berbagai aspek,” kata Rahmat.
Diskusi berlangsung santai, tanpa sekat usia maupun latar belakang. Siapa pun bisa bergabung. Dengan mengusung slogan khas “baca bagiin” dan “duduk nikmatin”, BTZ mencoba menghadirkan wajah literasi yang lebih cair dan menyenangkan.
Bukan tanpa alasan. Rahmat menilai, generasi saat ini cenderung memandang buku sebagai sesuatu yang membosankan. Padahal, di tengah arus informasi yang serba cepat, literasi justru menjadi benteng penting.
“Dengan itu kami ingin menggiring perspektif baru perihal buku yakni sangat menyenangkan,” ungkap pemuda asal Desa Branta tersebut.
Kegiatan yang digelar setiap pekan ini juga menjadi ajakan halus kepada generasi muda agar lebih sadar terhadap pentingnya literasi.
Minimnya budaya membaca, menurutnya, menjadi salah satu penyebab mudahnya masyarakat terpapar informasi yang belum tentu benar.
Tema yang diangkat pun beragam. Pada pertemuan kali ini, BTZ mengusung tema “Membaca Madura”. Sebuah upaya untuk mengajak masyarakat kembali mengenali jati diri dan akar budayanya.
Dalam diskusi itu, nama-nama tokoh besar Madura kembali diangkat. Salah satunya M. Tabrani, sosok penggagas Bahasa Indonesia.
“Kita memiliki tokoh seperti M. Tabrani sebagai penggagas bahasa Indonesia.
Hal itu bisa mematahkan pandangan sebagian suku lain yang memandang negatif terhadap Madura. Dengan adanya ini kita harus berbangga terhadap Madura dan senantiasa mengembangkan literasi,” tandasnya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, langkah kecil seperti yang dilakukan BTZ Pamekasan mungkin terlihat sederhana.
Namun, dari ruang sempit di sudut kafe itu, harapan besar sedang dirawat. bahwa membaca tetap punya tempat, dan literasi masih bisa tumbuh di kalangan generasi muda. (enk/nda)













