Ahli Waris Tegaskan Tanah TK ABA IV Tak Pernah Dijual, Siap Tempuh Jalur Hukum dan Laporkan Pihak Terkait

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahli waris lahan di Yayasan Madrasah Ibtidaiyah dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Pamekasan Siti Nurul Aini Siska menunjukkan beberapa dokumen kepemilikan lahan (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Ahli waris lahan di Yayasan Madrasah Ibtidaiyah dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal 4 Pamekasan Siti Nurul Aini Siska menunjukkan beberapa dokumen kepemilikan lahan (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Sengketa lahan yang melibatkan ahli waris dengan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) IV Pamekasan terus bergulir.

Ahli waris, Siti Nurul Aini Siska, tetap bersikeras bahwa tanah yang saat ini digunakan lembaga pendidikan tersebut tidak pernah diperjualbelikan kepada pihak mana pun.

Nurul menanggapi klaim yang menyebut lahan tersebut telah dibeli oleh pihak lain sebelum kemudian diwakafkan untuk kepentingan pendidikan.

Menurutnya, pernyataan itu tidak memiliki dasar yang kuat karena hingga kini tidak pernah ditunjukkan dokumen jual beli yang sah kepada pihak keluarga.

“Kami sekeluarga juga merasa tidak pernah menandatangani dokumen jual beli lahan tersebut, karena memang lahan itu sudah wasiat dari kakek kalau tidak boleh dijual,” ujarnya.

Baca juga :  Kenalkan Warisan Sejarah, Disdikbud Pamekasan Gelar Pameran Museum Temporer

Ia mengungkapkan, sejumlah pihak dari lingkungan Muhammadiyah pernah mendatangi kediamannya untuk membahas persoalan tersebut.

Dari pertemuan-pertemuan itu, menurut Nurul, tidak pernah ada pengakuan ataupun bukti yang menunjukkan bahwa lahan tersebut telah dibeli oleh pihak tertentu.

Karena itu, ia semakin yakin bahwa tanah seluas kurang lebih 700 meter persegi tersebut tidak pernah berpindah tangan melalui mekanisme jual beli.

Nurul juga menegaskan, apabila di kemudian hari muncul dokumen kepemilikan baru atas lahan tersebut, pihak keluarga akan menelusuri proses penerbitannya secara menyeluruh.

“Sekalipun nanti ada sertifikat yang keluar, kami akan mencari tahu siapa yang menandatangani dan bagaimana prosesnya. Tapi kami pastikan hal itu tidak akan terjadi,” tegasnya.

Baca juga :  27 Orang Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Anak Usia 15 Tahun, Polres Sampang Tangkap 12 Terduga Pelaku

Menurut Nurul, pada awalnya keluarga tidak keberatan apabila lahan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan. Bahkan, terdapat keinginan untuk mewakafkannya.

Namun, persoalan muncul setelah adanya keberatan keluarga terhadap bangunan kamar mandi yang disebut menjorok ke area makam leluhur mereka.

Ia menilai, persoalan tersebut menjadi titik awal memanasnya sengketa yang kini berkembang menjadi polemik kepemilikan lahan.

Nurul mengaku tengah menyiapkan langkah hukum terhadap sejumlah pihak yang dianggap terlibat dalam persoalan tersebut. Selain gugatan perdata, ia juga membuka kemungkinan mengambil langkah lain apabila tidak ada penyelesaian yang jelas.

“Saya bukannya tidak memikirkan nasib para murid dan guru. Tapi ini akibat tindakan oknum yang mengaku-ngaku itu,” katanya.

Baca juga :  Toko Bangunan di Kecamatan Pakong Pamekasan Dilalap Si Jago Merah

Ia juga menegaskan bahwa tanah yang pernah diperjualbelikan pada masa lalu bukanlah lahan yang saat ini ditempati sekolah, melainkan bidang tanah lain yang berada di sebelah barat lokasi lembaga pendidikan tersebut.

Menurutnya, pesan dari leluhurnya sangat jelas bahwa lahan yang digunakan untuk sekolah tidak boleh diperjualbelikan dalam kondisi apa pun.

Meski demikian, Nurul berharap sengketa tersebut dapat segera diselesaikan tanpa menimbulkan dampak lebih besar terhadap kegiatan pendidikan.

“Kalau itu nanti lepas dari Muhammadiyah, kami sekeluarga yang akan mengelola sendiri lembaga pendidikan itu,” pungkasnya. (enk/nda)

Berita Terkait

Peringati HLN ke-81, PLN UP3 Madura Bantu Warga Pamekasan Hadapi Krisis Air Bersih
Diduga Cabuli Santri Berulang Kali, Guru Madrasah di Pamekasan Dilaporkan ke Polisi
Arogansi SDIT Al-Uswah terhadap Dua Karyawan, Dikeluarkan dari Grup WA Tanpa Sebab Lalu Dipecat
Disangka Boneka, Ternyata Mayat MrX Tergeletak Membusuk di Ladang Petani Pamekasan
Penanganan 917 Bal Rokok Marbol KW Tak Jelas, Aktivis Hadiahi Bea Cukai Madura “Tolak Angin”
Membanggakan! 14 Siswa Pamekasan Borong Prestasi di Ajang FTBI Jatim
UNIRA Raih Hibah Program Kampus Berdampak Rp2 Miliar, Rektor Tegaskan Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan
849 Mahasiswa Diwisuda, Rektor UNIRA Minta Para Sarjana Harus Berdampak bagi Masyarakat

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:34 WIB

Peringati HLN ke-81, PLN UP3 Madura Bantu Warga Pamekasan Hadapi Krisis Air Bersih

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Diduga Cabuli Santri Berulang Kali, Guru Madrasah di Pamekasan Dilaporkan ke Polisi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Arogansi SDIT Al-Uswah terhadap Dua Karyawan, Dikeluarkan dari Grup WA Tanpa Sebab Lalu Dipecat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Disangka Boneka, Ternyata Mayat MrX Tergeletak Membusuk di Ladang Petani Pamekasan

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:33 WIB

Penanganan 917 Bal Rokok Marbol KW Tak Jelas, Aktivis Hadiahi Bea Cukai Madura “Tolak Angin”

Berita Terbaru