Fauzi As: Kritik Pemerintah Itu Sehat, Tapi Jangan Sampai Berubah Menjadi Kebencian terhadap Negara

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi As. (DOK. KLIKMADURA)

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi As. (DOK. KLIKMADURA)

SUMENEP || KLIKMADURA – Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi As mengingatkan masyarakat agar tetap mengedepankan akal sehat dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa.

Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari demokrasi, tetapi tidak boleh berubah menjadi kebencian yang justru merusak persatuan nasional.

Pandangan tersebut ia tuangkan dalam sebuah tulisan opini berjudul “Penjahat Bernama Prabowo”. Melalui tulisan itu, Fauzi menyoroti fenomena yang berkembang di ruang publik.

Terutama di media sosial, di mana berbagai persoalan bangsa kerap diarahkan kepada satu figur, yakni Presiden RI, Prabowo Subianto.

Menurut Fauzi, kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, masyarakat juga perlu membedakan antara kritik yang berbasis data dengan kebencian yang lahir dari prasangka.

“Kritik adalah vitamin demokrasi. Kebencian adalah racun demokrasi,” tulisnya.

Baca juga :  SMAN 2 Pamekasan Gencarkan Digitalisasi, Hadirkan Layanan WiFi Gratis untuk Warga Sekolah

Ia menilai, muncul kecenderungan sebagian pihak yang menganggap seluruh persoalan bangsa, mulai dari korupsi hingga berbagai penyimpangan birokrasi, seolah-olah bersumber dari Presiden.

Padahal, menurutnya, persoalan yang terjadi di berbagai sektor tidak selalu dapat disederhanakan dengan menyalahkan satu orang.

Fauzi menegaskan bahwa masih banyak persoalan serius yang harus dibenahi pemerintah, termasuk praktik korupsi yang masih terjadi di berbagai lembaga negara.

Namun, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk membangun narasi yang dapat melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Dalam tulisannya, ia juga menyinggung dugaan penyimpangan dalam Program Makan Bergizi Gratis yang belakangan menjadi perhatian publik.

Menurutnya, apabila terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam praktik korupsi, maka proses hukum harus berjalan tanpa pandang bulu.

“Siapapun yang terlibat harus diperiksa. Tidak peduli pejabat, anggota DPR, pengusaha ataupun tokoh besar. Hukum tidak boleh mengenal kasta,” tegasnya.

Baca juga :  Hanya Butuh 311 Orang, Pendaftar PPPK di Sumenep Tembus 1.842 Orang

Fauzi mengingatkan bahwa kemarahan terhadap koruptor merupakan hal yang sah. Namun, masyarakat harus waspada terhadap upaya-upaya yang berpotensi mengarahkan kemarahan tersebut menjadi kebencian terhadap negara dan institusi kebangsaan.

Menurutnya, pola adu domba saat ini semakin mudah ditemukan, terutama melalui ruang digital. Berbagai kelompok masyarakat sering dipertentangkan satu sama lain, mulai dari masyarakat dengan masyarakat, tokoh agama dengan tokoh agama, hingga lembaga negara dengan lembaga negara lainnya.

“Bangsa yang terpecah akan lebih mudah dikuasai daripada bangsa yang bersatu,” tulisnya.

Fauzi juga mengutip pernyataan tokoh Madura, Achsanul Qosasi, saat rapat paripurna DPR RI pada 17 Juni 2013 terkait kebijakan kenaikan harga BBM. Kala itu, Achsanul menyampaikan bahwa tidak ada presiden yang menginginkan rakyatnya menderita.

Baca juga :  500 Bikers dari Berbagai Penjuru Nikmati Kadar Oksigen Terbaik ke Dua di Dunia

Menurut Fauzi, pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua kebijakan pemerintah lahir dari niat buruk, meskipun tetap terbuka untuk dikritisi.

Ia menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan masyarakat yang kritis, berani mengawasi kekuasaan, tetapi tetap menjaga persatuan bangsa.

“Kita membutuhkan keberanian untuk melawan korupsi, bukan keberanian untuk menghancurkan persatuan. Kita membutuhkan rakyat yang kritis, bukan rakyat yang mudah diprovokasi,” tulisnya.

Di akhir tulisannya, Fauzi mengajak masyarakat untuk terus mengawal jalannya pemerintahan, melawan korupsi, serta menjaga semangat kebangsaan di tengah berbagai perbedaan pandangan politik.

Menurutnya, koruptor bisa ditangkap, pejabat bisa diganti, bahkan presiden dapat berganti melalui mekanisme demokrasi. Namun, Indonesia harus tetap berdiri sebagai rumah bersama seluruh rakyat.

“Mari jaga rumah kita bernama Indonesia Raya ini,” pungkasnya. (nda)

Berita Terkait

Bukan Sekadar Hobi, Merpati Gingging Dibidik Jadi Ikon Kebanggaan Sumenep
Dari Curat hingga Curanmor, 10 Tersangka Terseret Operasi Sikat Semeru 2026
Diduga Setubuhi Gadis di Bawah Umur, Pria 20 Tahun di Sumenep Masuk Bui
GPS Geruduk DPMD Sumenep, Soroti Buruknya Tata Kelola Pemerintahan Desa Saobi
Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan Dua Pria di Kecamatan Lenteng, Sabu 0,50 Gram Disita
Pimpin Apel HSN 2026, Wabup Imam Hasyim Minta ASN Sumenep Perkuat Etos Kerja dan Kepatuhan terhadap Aturan
Berharap Keberkahan, Bupati Fauzi Ajak OPD Sumenep Khatamkan 111.111 Kali Surat Al-Waqi’ah
Bupati Fauzi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan Lewat JJS DPRD Sumenep

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:04 WIB

Bukan Sekadar Hobi, Merpati Gingging Dibidik Jadi Ikon Kebanggaan Sumenep

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:49 WIB

Dari Curat hingga Curanmor, 10 Tersangka Terseret Operasi Sikat Semeru 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:40 WIB

Diduga Setubuhi Gadis di Bawah Umur, Pria 20 Tahun di Sumenep Masuk Bui

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:32 WIB

GPS Geruduk DPMD Sumenep, Soroti Buruknya Tata Kelola Pemerintahan Desa Saobi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 23:21 WIB

Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan Dua Pria di Kecamatan Lenteng, Sabu 0,50 Gram Disita

Berita Terbaru