Dari Mimpi hingga Tempa, Kisah Ayek dan Keris yang Tak Pernah Usang

- Jurnalis

Kamis, 29 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budayawan Pamekasan Arief Wibisono saat memperlihatkan salah satu koleksi kerisnya (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Budayawan Pamekasan Arief Wibisono saat memperlihatkan salah satu koleksi kerisnya (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

BERBICARA tentang keris tidak semata-mata berkaitan dengan hal-hal mistis. Lebih dari itu, keris merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga eksistensinya agar generasi muda mengenal dan memahami peninggalan para leluhur.

Lailiyatun Nuriyah, Pamekasan | KLIK MADURA

***

CUACA Pamekasan siang itu tidak menentu. Sesekali panas menyengat, lalu berganti hujan, dan tak jarang hanya mendung menggantung. Namun, perubahan cuaca tersebut tidak mampu memadamkan gairah yang bergejolak. Semangat justru kian terasa, seolah tak kuasa dibendung.

Madura bukan sekadar pulau yang dapat dikunjungi wisatawan melalui Jembatan Suramadu atau kapal feri di Pelabuhan Kamal, Bangkalan.

Bergerak ke arah timur, melewati Kabupaten Sampang, terdapat Pamekasan yang tak henti-hentinya memancarkan pesona budaya. Dari proses berpikir, merenung, hingga mencipta, lahirlah pusaka yang menjadi titipan berharga bagi generasi masa depan.

Kuda besi sang jurnalis melaju menuju sebuah rumah di pusat kota, tepatnya di Jalan Nugroho, Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan.

Baca juga :  Ruang Kelas Belum Siap, Masa Pembelajaran Sekolah Rakyat di Pamekasan Tak Jelas

Di tempat itu, ia berjumpa dengan seorang lelaki yang ramah sekaligus berwibawa. Rambutnya terurai, kaus hitam berpadu dengan sarung batik yang dikenakannya. Tiga cincin batu akik tampak bertengger di jari-jarinya.

“Akhirnya bisa bertemu lagi. Silakan masuk. Mohon maaf kalau berantakan. Beginilah rumah seniman,” ujar Arief Wibisono sambil tersenyum.

Keris, bagi Arief yang akrab disapa Ayek, bukan sekadar senjata. Keris merupakan bagian dari seni dan menjadi anugerah bagi mereka yang diberi kemampuan untuk memahami serta merawatnya.

Ketertarikannya bermula dari sebuah mimpi. Dalam mimpi tersebut, ia melihat Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, menunggangi kuda hitam. Mimpi itu kemudian bersambung dengan peristiwa nyata pada tahun 2006 ketika Ayek menerima undangan ke Jakarta.

Undangan tersebut berkaitan dengan pameran keris bertema Mistik dan Nalar. Seolah semesta mendukung, pada kesempatan itu Ayek bertemu dengan salah satu ajudan Soekarno, Haryono Haryoguritno.

Baca juga :  SMAN 2 Pamekasan Raih Juara Gerak Jalan Tingkat Kabupaten

“Saat itu saya banyak menyerap pesan yang beliau sampaikan, terutama tentang bagaimana keris seharusnya dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkap Ayek.

Sepulang dari Jakarta, pria yang kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Pamekasan terpilih itu merasa terpanggil untuk membela dan merawat warisan berharga tersebut.

Ia semakin tersadar ketika mengetahui bahwa keris bukan hanya diwariskan kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga diakui oleh dunia. Bahkan, UNESCO telah menetapkannya sebagai warisan budaya tak benda.

“Jadi ini bukan sekadar warisan, melainkan titipan,” katanya.

Pria berambut gondrong itu kemudian mulai belajar menempa keris di Aeng Tongtong, Kabupaten Sumenep. Di wilayah tersebut terdapat enam sentra perkerisan, mulai dari pengolahan bahan dasar hingga menjadi sebilah keris yang utuh.

Baca juga :  Meski Sekolah Masih Disegel, SPMB SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan Tetap Dibuka

Ayek membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin mengenal budaya dan seni, khususnya keris, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, mempelajari keris ibarat menemukan kunci untuk menelusuri masa lalu.

“Kalau tidak menemukan arah dalam hidup, kembalilah pada kearifan lokal,” pesannya.

Di era digital saat ini, keris justru memiliki peluang besar. Pasarnya terbuka luas hingga mancanegara. Hal tersebut menegaskan bahwa keris bukanlah benda kuno yang tertinggal oleh zaman.

“Keris memiliki sistem pasar yang luar biasa. Jika mampu mengambil celah itu, hasilnya akan sangat besar,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa keris tidak seharusnya dipandang dari sisi mistis semata. Di dalamnya terkandung nilai-nilai tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam, baik hewan, tumbuhan, maupun lingkungan sekitarnya.

“Itu yang seharusnya kita pahami,” pungkasnya. (*/nda)

Berita Terkait

Luar Biasa! Regu Putri SMAN 1 Pademawu Sabet Juara I Gerak Jalan Tingkat Kabupaten Pamekasan
SMAN 2 Pamekasan Raih Juara Gerak Jalan Tingkat Kabupaten
Ketua DPRD Pamekasan Nilai Pidato Prabowo Harus Diterjemahkan hingga ke Tingkat Desa
HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Pamekasan Soroti Kesejahteraan Petani Tembakau
38 Ibu Hamil di Proppo Alami KEK, Puskesmas Panaguan Ungkap Penyebabnya
Harga Tak Berpihak Meski Kualitas Tembakau Bagus, Ketua DPRD Pamekasan Minta Pemerintah Turun Tangan
Sambut HUT ke-81 RI, Lapas Narkotika Pamekasan Bagikan 125 Paket Beras kepada Tukang Becak
Sidak RSUD Waru, Wabup Pamekasan Soroti Disiplin Jam Kerja dan Pelayanan Pasien

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:30 WIB

Luar Biasa! Regu Putri SMAN 1 Pademawu Sabet Juara I Gerak Jalan Tingkat Kabupaten Pamekasan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:26 WIB

SMAN 2 Pamekasan Raih Juara Gerak Jalan Tingkat Kabupaten

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Ketua DPRD Pamekasan Nilai Pidato Prabowo Harus Diterjemahkan hingga ke Tingkat Desa

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:56 WIB

HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Pamekasan Soroti Kesejahteraan Petani Tembakau

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:33 WIB

Harga Tak Berpihak Meski Kualitas Tembakau Bagus, Ketua DPRD Pamekasan Minta Pemerintah Turun Tangan

Berita Terbaru

Siswi SMAN 2 Pamekasan foto bersama usai ikuti lomba gerak jalan tingkat SMP-SMA/SMK tingkat Kabupaten pada Kamis (13/8). (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Pamekasan

SMAN 2 Pamekasan Raih Juara Gerak Jalan Tingkat Kabupaten

Jumat, 14 Agu 2026 - 13:26 WIB