PAMEKASAN || KLIKMADURA – Bahasa dan sastra daerah mendapat ruang untuk tumbuh di tengah generasi muda melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang sekolah dasar (SD) yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan.
Sebanyak 91 peserta dari 13 kecamatan ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung di Kantor Disdikbud Pamekasan, Senin (28/9/2026).
FTBI tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai Senin (28/9/2026) hingga Rabu (30/9/2026). Para peserta mengikuti tujuh jenis lomba yang dirancang untuk mengasah kemampuan berbahasa, bersastra, sekaligus kreativitas siswa.
Kabid Pembinaan SD Disdikbud Pamekasan, Ridwan, mengatakan setiap kecamatan mengirimkan tujuh siswa untuk mengikuti tujuh cabang lomba yang disiapkan dalam FTBI. Dengan demikian, total peserta yang mengikuti festival tersebut mencapai 91 siswa.
“Jadi, 13 kecamatan itu ngirim tujuh orang anak untuk ikut tujuh lomba di FTBI ini,” ungkap Ridwan, Senin (28/9/2026).
Tujuh cabang yang dilombakan meliputi carakan Madura, cerita pendek, baca puisi, mendongeng, menembang, pidato, serta lawak tunggal atau stand up comedy.
Beragam kategori tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk menampilkan kemampuan bahasa dan sastra daerah dengan cara yang kreatif.
Ridwan menjelaskan, FTBI tidak semata-mata diarahkan sebagai ajang perlombaan antarsiswa. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Disdikbud Pamekasan mengembangkan bakat, minat, dan kreativitas siswa dalam berbahasa dan bersastra daerah.
Selain itu, FTBI diharapkan mampu menumbuhkan karakter serta rasa percaya diri siswa melalui kegiatan seni dan budaya. Festival tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan siswa terhadap bahasa dan budaya daerah.
“Juga untuk melestarikan bahasa dan sastra daerah melalui kegiatan yang kreatif dan juga edukatif. Dan kami juga ingin memberikan ruang apresiasi dan kompetisi bagi murid dalam mengembangkan potensi bahasa dan sastra daerah,” jelasnya.
Menurut Ridwan, kemampuan berbahasa daerah juga perlu terus diperkuat agar tidak tergerus perkembangan zaman. Salah satu caranya adalah memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal, menggunakan, sekaligus menampilkan bahasa dan seni budaya daerah dalam kegiatan yang menarik.
Ia berharap FTBI dapat memberikan dampak positif bagi generasi berikutnya. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah akan lebih kuat apabila dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak dan mampu menggugah kreativitas mereka.
“Karena dari bahasa daerah itu bisa menciptakan berbagai macam lomba. Juga ada seni budayanya ini, seperti menembang, tentu sangat menarik anak SD bisa menembang dengan baik,” tandasnya.
Melalui FTBI, Disdikbud Pamekasan tidak hanya mempertemukan puluhan siswa dalam sebuah kompetisi. Lebih dari itu, festival tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar bahasa dan budaya daerah.
Sekaligus, menunjukkan bahwa bahasa Madura dapat dipelajari, dikembangkan, dan dikemas secara kreatif di lingkungan pendidikan. (enk/nda)














