30 Kilogram Narkoba Terapung: Madura Diincar, Moral Diterkam

- Jurnalis

Jumat, 30 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi prajurit TNI mengamankan narkoba yang terapung di laut. (FOTO BUATAN AI)

Ilustrasi prajurit TNI mengamankan narkoba yang terapung di laut. (FOTO BUATAN AI)

Oleh: Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik

——-

MARKAS TNI, penjaga moral yang masih tersisa. Menariknya, laporan diterima bukan oleh lembaga narkotika, tapi oleh Markas TNI di pulau terpencil. Serka Yohanes, Serda Bambang, dan Koptu Yunus, tiga nama yang tiba-tiba menjadi benteng terakhir akal sehat Madura.

Mereka bukan penyuluh, bukan orator, tapi mereka menyelamatkan satu pulau dari pesta sabu massal. Di negeri yang sering kali aparat sibuk debat seragam, ternyata yang menyelamatkan hari itu justru mereka yang diam-diam bekerja.

Madura bukan negeri dongeng, tapi kadang kisah yang terjadi di atas tanahnya terdengar seperti cerita mistik. Bayangkan, 30 kilogram sabu-sabu terapung santai di laut, seolah-olah sedang mencari pemilik yang siap menghancurkan satu generasi.

Peristiwa ini bukan lelucon. Ini nyata. Ini Madura. Dari perairan 4 mil barat laut Pulau Masalembu menjadi saksi bisu. Narkoba kini tak perlu diselundupkan secara diam-diam, cukup dilempar ke laut dan biarkan arus moral yang rusak menariknya ke daratan.

Baca juga :  Review Film Vina Sebelum 7 Hari, Antisipasi Kenalakan Remaja hingga Indikasi Kriminalitas

Ketika Laut Tak Lagi Bersahabat

Dulu laut adalah sumber kehidupan. Kini laut berubah jadi kurir kematian. Dua warga Desa Suka Jeruk, Fadil dan Masto, tak pernah menyangka akan menemukan 35 bungkus sabu-sabu saat mereka hanya ingin mencari ikan, bukan mencari malapetaka.

Beruntung, mereka melapor ke Koramil. Tapi mari kita bayangkan sejenak. Bagaimana jika yang menemukan adalah seorang pemuda putus sekolah yang frustrasi karena gagal ikut CPNS? Atau oknum preman lokal yang hobi pamer di media sosial?

Puluhan kilogram sabu itu bisa jadi senjata pemusnah massal dalam bentuk candu. Dan jika itu terjadi, Madura tak perlu tenggelam karena banjir, cukup tenggelam oleh euforia palsu dan logika yang terdistorsi.

Baca juga :  Imbas Smartphone Bagi Kalangan Remaja

Narkoba dan Budaya Madura: Siapa Menang? Madura dikenal keras, religius, dan kental dengan adat. Tapi narkoba tidak memilih korban.

Ia tidak peduli apakah Anda keturunan bangsawan atau penjaga tambak. Sabu-sabu hanya tahu satu hal. Mengubah manusia menjadi makhluk yang tak lagi mampu membedakan realitas dan halusinasi.

Jika sabu masuk ke pelosok-pelosok desa, maka bukan hanya pemuda yang akan roboh. Seluruh tatanan sosial akan terguncang. Bayangkan generasi muda Madura yang dulu bangga mengangkat keris, kini malah menatap kosong karena otaknya dilubangi sabu.

Kita tidak butuh banyak waktu untuk menyaksikan kehancuran jika ini dibiarkan. Karena satu butir sabu cukup untuk mematikan masa depan, dan 30 kilo sabu cukup untuk mengadakan festival kehancuran permanen di pualu dengan seribu pesantren ini.

Baca juga :  Ayam Jantan dan Safari Rakyat di Ujung Negeri

Ketika Laut Mengembalikan Candu

Penemuan ini bukan semata-mata soal kriminalitas. Ini adalah tanda. Bahwa Madura sudah jadi pasar narkoba yang dibidik dengan sangat serius. Bahkan laut pun dijadikan jalur distribusi.

Tidak ada lagi batas aman, karena moral masyarakat sedang dijadikan target. Mungkin benar, zaman sedang gila. Tapi lebih gila lagi jika kita membiarkan generasi ini diselamatkan oleh keberuntungan semata.

Hari ini mungkin sabu ditemukan oleh orang jujur. Tapi besok? Jika budaya kalah oleh narkoba, maka Madura tak lagi dikenal karena karapan sapi, tapi karena karapan kehancuran mental.

Mari jaga laut kita, jaga tanah kita, dan lebih penting: jaga akal sehat kita sebelum semua yang kita banggakan tinggal kenangan dalam bingkai teler massal. (*)

Berita Terkait

Metamorfosa Kata
Pemikiran Filsafat Islam Modern Tentang Self Direction untuk Menjawab Tantangan Modernitas
Valen, Media, dan Atribusi
Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam
Waktu Adalah Pedang: Sebuah Refleksi dan Muhasabah Diri
Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam
Valen: Simbol Kebangkitan Identitas dan Solidaritas Madura
Perginya Jurnalis Bermazhab Masdawian

Berita Terkait

Jumat, 2 Januari 2026 - 13:48 WIB

Pemikiran Filsafat Islam Modern Tentang Self Direction untuk Menjawab Tantangan Modernitas

Jumat, 2 Januari 2026 - 01:22 WIB

Valen, Media, dan Atribusi

Rabu, 31 Desember 2025 - 15:16 WIB

Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Rabu, 31 Desember 2025 - 11:24 WIB

Waktu Adalah Pedang: Sebuah Refleksi dan Muhasabah Diri

Senin, 29 Desember 2025 - 05:28 WIB

Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam

Berita Terbaru

Catatan Pena

Saat Si Moncong Putih Berkata Tidak!

Senin, 12 Jan 2026 - 03:24 WIB