Oleh: Moh. Naufal Abror, Pengurus Lakpesdam NU Sumenep.
*****
PERKEMBANGAN teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara belajar, bekerja, berdagang, hingga berdakwah kini bergerak dalam ruang digital yang semakin luas.
Di tengah perubahan tersebut, organisasi sebesar Nahdlatul Ulama tidak boleh hanya menjadi penonton yang menyaksikan perubahan zaman tanpa mengambil peran strategis di dalamnya.
Hadirnya program Digdaya NU merupakan salah satu ikhtiar besar untuk menjawab tantangan tersebut. Digdaya bukan sekadar proyek teknologi atau digitalisasi administrasi organisasi.
Lebih dari itu, Digdaya adalah transformasi cara berpikir dan cara bergerak warga NU dalam menghadapi era digital yang berkembang sangat cepat.
Transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Saat ini, pertarungan gagasan, penyebaran informasi, pengembangan ekonomi, hingga pendidikan berlangsung melalui platform digital.
Jika NU tidak memiliki ekosistem digital yang kuat, maka potensi besar yang dimiliki jutaan warga nahdliyin akan sulit dioptimalkan untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Karena itu, Digdaya harus dipandang sebagai upaya membangun ekosistem digital NU yang terintegrasi. Mulai dari pendataan organisasi, penguatan literasi digital, pengembangan ekonomi berbasis teknologi, hingga penyebaran dakwah Islam yang moderat dan ramah.
Dengan ekosistem yang kuat, NU tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi produsen pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.
Era digital juga menghadirkan tantangan serius berupa disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial. Dalam konteks ini, NU memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan ruang digital yang sehat, beradab, dan mencerminkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Digdaya dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat peran tersebut.
Sudah saatnya NU memanfaatkan kekuatan sumber daya manusia, jaringan kelembagaan, serta basis sosial yang sangat besar untuk mengambil posisi terdepan dalam transformasi digital.
Jangan sampai warga NU hanya menjadi konsumen teknologi yang menikmati produk pihak lain tanpa memiliki kemandirian dan daya saing.
Digdaya NU adalah langkah strategis menuju masa depan. Sebuah ikhtiar besar agar NU tetap relevan, adaptif, dan mampu menjadi pelopor peradaban di tengah arus perubahan zaman.
Sebab, organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang mampu menjaga tradisi, tetapi juga organisasi yang mampu beradaptasi dan memimpin perubahan.
“Menjaga tradisi yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.” Prinsip inilah yang seharusnya menjadi ruh Digdaya NU dalam menyongsong masa depan digital Indonesia. (*)













