PAMEKASAN || KLIKMADURA – Bangunan megah Pasar Kolpajung Pamekasan yang menelan anggaran sekitar Rp 81,72 miliar hingga kini belum dilengkapi pagar permanen.
Sebagai pengaman sementara, kawasan pasar terbesar di Kabupaten Pamekasan itu masih menggunakan pagar penghadang dari seng.
Pembangunan pagar permanen sebenarnya telah diusulkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan. Namun, hingga saat ini rencana tersebut belum bisa direalisasikan karena keterbatasan anggaran APBD Kabupaten Pamekasan.
Bupati Pamekasan Dr. KH. Kholilurrahman mengatakan, pihaknya telah menyarankan agar dinas terkait kembali mengajukan anggaran pembangunan pagar tersebut. Menurutnya, penggunaan pagar seng membuat tampilan pasar kurang indah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penataan kawasan pasar agar terlihat lebih rapi dan menarik.
“Kalau melihat Pasar Kolpajung menggunakan pagar seng memang kurang bagus, keindahannya kurang. Kita tekankan agar penataan gedung harus terlihat bagus,” katanya.
Kepala Bidang Pasar Disperindag Pamekasan Handiko Bayuadi mengaku bahwa pihaknya sudah mengusulkan anggaran pembangunan pagar sejak tahun 2025.
Namun, usulan tersebut belum terealisasi lantaran keterbatasan APBD, terutama setelah adanya pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat.
“Sudah kami usulkan dari tahun kemarin, tapi anggaran APBD belum ada,” ujarnya.
Menurut Handiko, saat ini Disperindag masih memprioritaskan pemenuhan anggaran rutin yang juga belum sepenuhnya terpenuhi. Sejumlah kebutuhan operasional pasar seperti pencetakan karcis, pembayaran listrik, pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), hingga operasional lainnya masih menjadi fokus utama.
“Anggaran rutin saja masih belum terpenuhi, jadi sementara kami fokus ke anggaran rutin,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Pasar Kolpajung Slamet Efendi mengungkapkan, pagar seng tersebut sempat diminta untuk dirobohkan oleh sejumlah pedagang. Mereka menilai pagar tersebut menghalangi pandangan ke area pasar dari luar.
Namun, pengelola pasar menolak permintaan tersebut karena dikhawatirkan dapat memicu kehilangan barang di area pasar.
“Kami tidak mau kalau pagar seng itu dirobohkan, khawatir banyak kehilangan. Jadi kami memilih memotong sebagian seng agar pasar lebih kelihatan dari luar,” tandasnya. (ibl/nda)













