SAMPANG || KLIKMADURA – Budidaya ikan lele di Kabupaten Sampang didorong naik kelas melalui penerapan teknologi bioflok dan inovasi pakan berbahan kitosan limbah biota laut.
Upaya tersebut digagas Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Fakultas Pertanian. Program resmi dimulai di Balai Kelurahan Gunongsekar, Kecamatan Sampang, Sabtu (3/10/2026).
Pendampingan yang dijadwalkan berlangsung hingga November 2026 itu tidak hanya menyasar peningkatan produktivitas budidaya. UTM juga membawa pendekatan teknologi untuk membantu pembudidaya menghasilkan ikan lele secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah sistem bioflok dengan dukungan bakteri baik. Teknologi tersebut memungkinkan pembudidaya meningkatkan kepadatan ikan dalam wadah budidaya dengan pengelolaan kualitas air yang lebih terukur.
Selain teknologi budidaya, tim UTM memperkenalkan pemanfaatan kitosan yang berasal dari limbah biota laut sebagai bahan tambahan pakan. Kandungan tersebut berpotensi mendukung daya tahan tubuh ikan, membantu menghadapi serangan penyakit, serta menunjang proses pencernaan.
Program ini juga dirancang menjadi ruang belajar bersama. Mahasiswa UTM akan berkolaborasi dengan pembudidaya lele, siswa MAN Sampang, hingga pemuda pelopor bidang pangan.
Keterlibatan generasi muda tersebut dinilai penting untuk membuka regenerasi pembudidaya ikan di Sampang. Dengan begitu, sektor perikanan tidak hanya bertumpu pada pelaku usaha yang telah lama berkecimpung dalam budidaya.
Pembukaan program dihadiri Lurah Gunongsekar Bagus Hadikusumo, Ketua Pusat Pengembangan Teknologi dan Produk Unggulan (PTPU) UTM Hairil Budianto, Ketua Tim KKNT Indah Wahyuni Abida bersama tim akademisi UTM, serta perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Sampang.
Perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Sampang, Maghfiroh, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, penerapan teknologi yang dibawa UTM dapat menjadi alternatif pengembangan usaha perikanan apabila memberikan hasil sesuai yang diharapkan.
“Kami menyambut baik pengabdian masyarakat ini. Kami juga menunggu hasil penerapan teknologi bioflok dengan bakteri baik yang dibawa UTM. Hasilnya nanti dapat dikolaborasikan karena di Sampang terdapat sekitar 80 kelompok usaha perikanan,” tuturnya.
Dukungan serupa disampaikan Ketua Pokdakan Lele Ajigunong, Moh. Yusron. Ia menilai pendampingan langsung dari akademisi menjadi kesempatan bagi pembudidaya untuk mengenal sekaligus menguji teknologi yang berpotensi meningkatkan hasil produksi.
“Teknologi bioflok ini diproyeksikan dapat meningkatkan kepadatan tebar benih dan mendongkrak hasil panen hingga dua kali lipat dibandingkan metode konvensional. Tentu ini sangat baik untuk kami adopsi,” ujar Yusron.
Program KKNT tersebut nantinya tidak berhenti pada praktik pendampingan. Tim UTM juga akan menyusun kajian berdasarkan hasil penerapan teknologi di lapangan.
Hasil kajian tersebut akan disampaikan kepada dinas terkait sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan pengembangan budidaya ikan yang lebih modern, efisien, dan sesuai dengan kondisi pembudidaya di Sampang.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pembudidaya, dan generasi muda itu diharapkan mampu memperkuat sektor perikanan Sampang.
Penerapan bioflok dan pemanfaatan kitosan juga diharapkan menjadi salah satu langkah menuju peningkatan produktivitas sekaligus ketahanan pangan berkelanjutan. (nda)














