Bebek Songkem, Kekayaan Intelektual Komunal asal Sampang dengan Cita Rasa Gurih Pedas

- Jurnalis

Sabtu, 3 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sajian kuliner bebek songkem di salah satu rumah makan di Kabupaten Sampang. (ALI MUCHTAR / KLIKMADURA)

Sajian kuliner bebek songkem di salah satu rumah makan di Kabupaten Sampang. (ALI MUCHTAR / KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Bebek Songkem bukan sekadar hidangan khas yang menawarkan cita rasa gurih dan pedas. Kuliner tradisional asal Kabupaten Sampang, Madura, ini juga memiliki sejarah dan tradisi yang melekat dengan kehidupan sosial masyarakat sehingga ditetapkan sebagai salah satu Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan kuliner khas Sampang sekaligus memberikan pengakuan terhadap pengetahuan dan tradisi masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang Marnilem menjelaskan, Bebek Songkem bersama sejumlah kuliner khas lainnya telah mendapatkan pengakuan sebagai KIK.

“Sejak Juli, bertepatan dengan Festival Kuliner Bebek, kita sudah menerima SK Kekayaan Intelektual Komunal dari Kemenkumham,” ujar Marnilem, Sabtu (3/10/2026).

Bebek Songkem merupakan kuliner berbahan dasar daging bebek yang memiliki cara pengolahan berbeda dengan hidangan bebek pada umumnya. Bebek tidak langsung digoreng, melainkan terlebih dahulu dibumbui dengan rempah-rempah, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan dikukus.

Proses tersebut menjadi salah satu ciri khas utama Bebek Songkem. Bumbu yang digunakan dimasak bersama daging dalam balutan daun pisang sehingga menghasilkan aroma khas sekaligus membuat cita rasa bumbu meresap ke dalam daging.

Baca juga :  Tips Memulai Usaha Hampers Lebaran untuk Pemula

Cita rasanya didominasi perpaduan gurih daging bebek dan sensasi pedas dari bumbu. Proses pengukusan juga membuat tekstur daging menjadi lebih lembut dengan aroma daun pisang yang turut memperkaya karakter hidangan.

Nama Bebek Songkem sendiri memiliki kaitan erat dengan tradisi songkeman atau sungkem yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Madura.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat dahulu membawa Bebek Songkem ketika berkunjung ke rumah kiai. Hidangan itu diberikan sebagai buah tangan sekaligus bentuk penghormatan kepada tokoh agama yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Kiai pada masa itu tidak hanya menjadi tempat masyarakat meminta nasihat keagamaan. Di berbagai desa, kiai juga berperan mengajarkan anak-anak mengaji dan memberikan pendidikan agama.

Karena itu, kebiasaan membawa bebek ketika melakukan songkeman menjadi bagian dari tradisi sosial yang kemudian melekat pada nama dan keberadaan kuliner tersebut.

Secara penyajian, posisi kepala dan leher bebek yang dibungkus daun pisang dibuat menunduk. Bentuk tersebut menyerupai orang yang sedang melakukan sungkem atau songkem kepada seseorang yang dihormati.

Baca juga :  Kuala Lumpur Tidak Pernah Tidur

Dari bentuk penyajian itulah istilah Bebek Songkem kemudian dikenal dan berkembang sebagai identitas kuliner masyarakat Sampang.

Setelah proses pengukusan selesai, Bebek Songkem umumnya dapat langsung disajikan. Namun, dalam perkembangannya, sebagian masyarakat juga menyajikan bebek tersebut dengan cara digoreng setelah dikeluarkan dari bungkus daun pisang.

Penggorengan tersebut memberikan tekstur yang berbeda sekaligus dapat mengurangi sensasi pedas dari bumbu yang menempel pada permukaan daging. Dengan cara itu, Bebek Songkem memiliki variasi penyajian tanpa menghilangkan karakter utama dari proses pengolahannya.

Bebek Songkem kini tidak hanya dikenal di Sampang. Kuliner tersebut telah berkembang dan dikenal di sejumlah daerah. Meski demikian, akar sejarah dan tradisi yang menyertainya tetap menjadi bagian penting dalam proses penetapan sebagai KIK.

Penetapan itu dilakukan melalui proses verifikasi yang mencakup sejarah kuliner, cara pembuatan, testimoni masyarakat, kesesuaian lokasi, hingga perbandingan dengan kuliner serupa dari daerah lain.

Hasil penelusuran tersebut menunjukkan bahwa Bebek Songkem memiliki akar sejarah yang kuat di Kabupaten Sampang.

Selain Bebek Songkem, terdapat dua kuliner khas Sampang lainnya yang juga menerima sertifikat KIK dari Kementerian Hukum (Kemenkum) Jawa Timur, yakni Nasi Kobel dan Dhun-Adhun.

Baca juga :  Madura Provinsi, Ijtihad KH. Moh. Tidjani Djauhari Bersama Kiai BASSRA

Sertifikat tersebut diserahkan dalam Festival Kuliner KI Komunal Sampang yang digelar di Taman Wijaya Kusuma pada Juni 2026.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sampang, pencatatan KIK tidak hanya berkaitan dengan pengakuan administratif. Perlindungan tersebut juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mempertahankan resep, teknik pengolahan, sejarah, serta nilai budaya yang melekat pada kuliner tradisional.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendorong pelaku usaha lokal agar mampu mengembangkan kuliner tradisional menjadi produk ekonomi kreatif tanpa menghilangkan identitas asalnya.

Marnilem mengatakan, Disporabudpar Sampang juga memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha lokal dalam proses perlindungan kekayaan intelektual.

“Kami fasilitasi pendaftaran Hak Cipta secara gratis bagi para pelaku usaha lokal agar kuliner Sampang memiliki nilai tambah dan inovasi yang terlindungi,” katanya.

Dengan demikian, Bebek Songkem tidak hanya dapat dipandang sebagai makanan khas dengan cita rasa gurih dan pedas. Di balik seporsi bebek yang dibungkus daun pisang itu terdapat sejarah, tradisi penghormatan kepada kiai, teknik pengolahan yang khas, serta identitas budaya masyarakat Sampang yang diwariskan lintas generasi. (ali/nda)

Berita Terkait

Tips Memulai Usaha Hampers Lebaran untuk Pemula
Luar Biasa! Tiga Tokoh Penting PDI Perjuangan Ternyata Alumni Ponpes Al-Amien Prenduan
Tahun 2025 Bintang 5 
Madura Provinsi, Ikhtiar Menuju Keadilan Sosial
Spirit Keadilan dalam Ikhtiar Madura Provinsi
Merajut Harapan, Menyulam Perubahan
Madura Provinsi, Ijtihad KH. Moh. Tidjani Djauhari Bersama Kiai BASSRA
Kue dalam Keranjang?

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 08:09 WIB

Bebek Songkem, Kekayaan Intelektual Komunal asal Sampang dengan Cita Rasa Gurih Pedas

Jumat, 6 Maret 2026 - 06:33 WIB

Tips Memulai Usaha Hampers Lebaran untuk Pemula

Jumat, 16 Januari 2026 - 06:30 WIB

Luar Biasa! Tiga Tokoh Penting PDI Perjuangan Ternyata Alumni Ponpes Al-Amien Prenduan

Rabu, 31 Desember 2025 - 02:45 WIB

Tahun 2025 Bintang 5 

Senin, 22 Desember 2025 - 22:51 WIB

Madura Provinsi, Ikhtiar Menuju Keadilan Sosial

Berita Terbaru