PAMEKASAN || KLIKMADURA – Pagar besi, pintu pengamanan berlapis, serta ritme kehidupan di balik tembok lembaga pemasyarakatan bukanlah dunia asing bagi Taufiqul Hidayatullah.
Puluhan tahun hidupnya ditempa di lingkungan yang menuntut disiplin, ketegasan, sekaligus ketahanan mental.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya pulang ke tanah kelahiran. Sejak 9 April 2026, pria asal Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu tersebut resmi dipercaya menjabat Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Pamekasan.
Bagi Taufiqul, kepulangan itu bukan sekadar perpindahan tugas. Ada ruang pengabdian yang terasa lebih dekat secara emosional. Sebab, untuk pertama kalinya ia menjalankan amanah besar di daerah tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan.
Lahir pada 29 Juni 1988, Taufiqul menapaki karier di dunia pemasyarakatan sejak lulus dari Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) tahun 2010. Jalan pengabdiannya tidak dimulai dari tempat yang mudah.
Enam bulan pertama kariernya dijalani di Nusakambangan melalui penugasan BKO. Pulau yang dikenal sebagai tempat para narapidana berisiko tinggi itu menjadi sekolah kehidupan yang membentuk karakter dan mentalnya sebagai petugas pengamanan.
“Pengalaman di Nusakambangan menjadi pembelajaran penting dalam membentuk disiplin dan kesiapan mental,” katanya, Senin (18/5/2026).
Dari Nusakambangan, langkah pengabdiannya berlanjut ke Lapas Kerobokan, Bali. Selama enam bulan di sana, ia kembali ditempa menghadapi dinamika pengamanan warga binaan dengan karakter dan persoalan berbeda.
Kariernya kemudian bergerak dari satu kota ke kota lain. Taufiqul pernah bertugas di Lapas Batam selama dua tahun sebelum dipercaya menjabat Kasubsi Poltatib.
Setelah itu, ia mengemban amanah sebagai Kasubsi Registrasi Lapas Narkotika Tanjung Pinang, Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Ponorogo, hingga Kasi Bimkemas Lapas Madiun.
Perjalanan panjang tersebut membuatnya memahami bahwa pengamanan lapas bukan hanya soal penjagaan tembok dan jeruji. Lebih dari itu, ada tanggung jawab menjaga ketertiban sekaligus memastikan sisi kemanusiaan tetap hidup di dalamnya.
Pengalaman itu pula yang mengantarnya dipercaya menjabat Ka KPLP Lapas Pasuruan selama dua tahun, kemudian Ka KPLP Lapas Sragen selama 10 bulan sebelum akhirnya kembali ke Pamekasan.
Kini, di kampung halaman sendiri, Taufiqul membawa cara pandang yang lebih matang. Ia ingin menghadirkan pengamanan yang profesional, tetapi tetap mengedepankan pendekatan humanis.
“Kami bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban lapas, tetapi juga memastikan suasana tetap kondusif dan manusiawi. Ini bagian dari pengabdian kami,” tandasnya. (ibl/nda).













