Urgensi PLTMG Saronggi

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.

*****

(Catatan hasil pertemuan LAKPESDAM PCNU Sumenep dengan PLN UP3 Madura)

SAYA AKAN mengawali catatan ini dengan satu kata, ironi. Betapa tidak. Kabupaten Sumenep kaya minyak dan gas bumi. Perut buminya terus dieksploitasi. Energinya diangkut keluar daerah. Gasnya mengalir untuk menopang kebutuhan listrik di berbagai wilayah Indonesia.

Namun di saat yang sama, rasio elektrifikasi (RE) di Kabupaten Sumenep masih berada di angka sekitar 92 persen. Itu berarti masih ada masyarakat yang belum menikmati listrik secara utuh.

Ironi itu semakin terasa ketika melihat kondisi pulau-pulau di wilayah kepulauan Sumenep. Di Pulau Giliraja misalnya, masyarakat hingga hari ini baru bisa menikmati listrik hanya selama 12 jam. Separuh hari mereka hidup dalam terang, separuh lainnya harus berdamai dengan gelap.

Situasi tersebut bukan sekadar persoalan teknis kelistrikan. Ini adalah persoalan keadilan pembangunan. Sangat menyentuh hati ketika menyadari bahwa energi yang diambil dari tanah Sumenep justru lebih banyak menerangi daerah lain seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Sementara sebagian masyarakat di daerah penghasilnya sendiri masih hidup di tengah keterbatasan energi.

Di tengah kondisi itulah, kerja sama antara PT Energi Mineral Langgeng (EML) dengan PLN pada tahun 2025 menjadi kabar yang menghadirkan harapan baru. Kerja sama tersebut berkaitan dengan suplai gas untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Baca juga :  Madura Butuh Provinsi, Bukan Badan Otorita

Meski hingga saat ini prosesnya masih berada pada tahap awal, mulai dari sosialisasi hingga penyediaan lahan dan kebutuhan teknis lainnya, kehadiran proyek ini sudah mulai menyalakan optimisme masyarakat.

Nota kesepahaman yang dibangun kedua perusahaan itu seolah menjadi cahaya di tengah panjangnya penantian masyarakat terhadap pemerataan energi listrik.

PLTMG Saronggi bukan hanya tentang menghadirkan listrik. Lebih dari itu, ia adalah fondasi masa depan Madura. Rencana suplai awal sebesar 30 megawatt (MW) merupakan kapasitas yang sangat besar bagi Madura.

Sebagai gambaran sederhana, kebutuhan listrik satu rumah sakit pada umumnya hanya sekitar 1 megawatt. Artinya, daya sebesar itu dapat menopang puluhan fasilitas publik penting atau bahkan menerangi 30 ribu rumah tangga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan PLTMG bukan proyek kecil, melainkan proyek strategis yang akan menentukan arah pembangunan Madura ke depan.

PLTMG ini juga berkaitan langsung dengan ketahanan energi Madura. Selama ini, suplai listrik Madura masih sangat bergantung pada Jawa. Distribusinya melewati kabel bawah laut dan jaringan yang terhubung melalui Jembatan Suramadu. Ketergantungan ini menyimpan risiko besar.

Baca juga :  B.J. Habibie dan Uranium yang Masih Misteri

Beberapa tahun lalu, seluruh wilayah di Madura mengalami pemadaman besar ketika distribusi listrik dari Jawa mengalami gangguan. Aktivitas lumpuh. Perekonomian terganggu. Pelayanan publik tersendat. Madura benar-benar tenggelam dalam gelap.

Karena itu, keberadaan PLTMG di Saronggi menjadi sangat vital. Pembangkit ini dapat menjadi penyangga ketika terjadi gangguan suplai dari Jawa. Dengan kata lain, PLTMG bukan hanya kebutuhan energi, tetapi juga kebutuhan keamanan dan kemandirian daerah.

Harapan besar berikutnya tentu bukan berhenti pada kapasitas 30 megawatt. Ke depan, kita semua berharap PLTMG ini terus berkembang hingga mampu menyuplai energi dalam kapasitas yang jauh lebih besar. Sebab kebutuhan listrik adalah syarat utama kemajuan daerah.

Kita sering bertanya mengapa industrialisasi di daerah seperti Surabaya, Gresik, atau kawasan industri lain di Jawa Timur berkembang sangat pesat. Jawabannya sederhana, karena ketersediaan energi listrik mereka sangat memadai. Industri besar tidak mungkin tumbuh di daerah yang pasokan listriknya terbatas dan tidak stabil.

Madura selama ini menghadapi ketersediaan energi listriknya yang masih terbatas, sementara dunia industri membutuhkan daya sangat besar. Bahkan ada industri di kota besar yang kebutuhan listriknya mencapai lebih dari 600 megawatt. Bandingkan dengan kebutuhan seluruh Pulau Madura yang saat ini hanya kisaran 300 megawatt lebih.

Baca juga :  Menunggu Sikap Kesatria PDI Perjuangan

Karena itu, jika PLTMG Saronggi benar-benar terealisasi dan terus berkembang, maka dampaknya tidak hanya pada penerangan rumah masyarakat. Dampaknya akan menjalar ke mana-mana. Industrialisasi akan tumbuh. Investasi akan masuk.

Kemudian, lapangan pekerjaan akan terbuka. Perekonomian masyarakat akan bergerak. Kesejahteraan warga akan meningkat. Lalu, yang paling penting, pembangunan sumber daya manusia juga akan terdorong lebih cepat.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik jika tidak ada penerangan. Kita tidak bisa berharap generasi muda Madura mampu bersaing di era digital jika akses listrik dan internet masih terbatas.

Listrik hari ini bukan lagi kebutuhan sekunder. Ia telah menjadi kebutuhan primer dalam dunia pendidikan, pelayanan publik, ekonomi, hingga pembangunan peradaban.

Oleh sebab itu, pembangunan PLTMG di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi harus dipandang sebagai proyek strategis untuk masa depan Madura. Ini bukan hanya soal pembangunan pembangkit listrik, melainkan pembangunan harapan.

Harapan agar masyarakat kepulauan tidak lagi hidup dalam gelap. Harapan agar Madura memiliki ketahanan energi sendiri. Harapan agar industrialisasi tumbuh lebih pesat. Dan harapan agar kesejahteraan masyarakat Madura benar-benar meningkat di masa yang akan datang. Maaf. (*)

—–

Penulis juga aktif sebagai pengurus LAKPESDAM PCNU Sumenep

Berita Terkait

PLTG Madura dan Masa Depan yang Lebih Terang
Energi Mineral Langgeng dan Janji Manis Sang Jenderal
15 Tahun Menanti Eksplorasi Gas Saronggi
Laut Madura di Pusaran Denyut Ekonomi Global
Andai Semua Boeya MH. Said Abdullah 
Sedekah Pajak
Meritokrasi Kader Muda NU Sumenep
UPI Sumenep dan Estafet Peradaban

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 02:00 WIB

Urgensi PLTMG Saronggi

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:27 WIB

PLTG Madura dan Masa Depan yang Lebih Terang

Kamis, 30 April 2026 - 02:07 WIB

Energi Mineral Langgeng dan Janji Manis Sang Jenderal

Rabu, 29 April 2026 - 09:53 WIB

15 Tahun Menanti Eksplorasi Gas Saronggi

Kamis, 26 Maret 2026 - 03:55 WIB

Laut Madura di Pusaran Denyut Ekonomi Global

Berita Terbaru

Catatan Pena

Urgensi PLTMG Saronggi

Selasa, 19 Mei 2026 - 02:00 WIB