Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.
****
BAYANGKAN tinggal di daerah yang kaya minyak dan gas bumi tetapi listrik masih sering bermasalah. Lampu kadang redup. Tegangan naik turun. Di beberapa wilayah kepulauan bahkan masih ada masyarakat yang harus hidup dengan pasokan listrik terbatas. Inilah ironi yang selama bertahun-tahun dirasakan sebagian masyarakat Madura.
Madura sebenarnya bukan daerah miskin energi. Justru sebaliknya. Laut dan bumi Madura menyimpan potensi gas yang besar. Namun selama ini kekayaan itu lebih sering mengalir keluar daripada kembali menerangi rumah-rumah masyarakatnya sendiri. Madura seperti dapur energi yang makanannya dinikmati orang lain.
Data rasio elektrifikasi menunjukkan persoalan itu nyata. Kabupaten Sumenep misalnya masih berada di kisaran 92 sampai 93 persen. Angka ini menjadi yang terendah dibanding Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Penyebabnya bukan semata karena kurangnya sumber energi tetapi karena tantangan geografis kepulauan dan belum optimalnya pembangunan infrastruktur kelistrikan.
Di pulau-pulau kecil seperti Gili Labak dan Pagerungan Kecil masyarakat masih sangat bergantung pada pembangkit kecil berbasis diesel maupun tenaga surya. Sementara wilayah daratan Madura memang relatif lebih baik tetapi masih menghadapi persoalan kestabilan pasokan listrik. Kondisi ini membuat Madura belum sepenuhnya mandiri energi karena masih bergantung pada suplai listrik dari Jawa.
Karena itu kerja sama antara PT PLN Energi Primer Indonesia dan PT Energi Mineral Langgeng menjadi kabar penting bagi masa depan Madura. Kesepakatan pasokan gas dari Lapangan ENC South East Madura bukan sekadar urusan bisnis perusahaan energi. Ini adalah harapan baru agar Madura tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil gas tetapi juga menjadi wilayah yang menikmati hasil gasnya sendiri.
Lebih dari itu kerja sama PT EML dan PLN sebenarnya membuka ruang yang sangat besar bagi percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas atau PLTG di Madura. Selama ini salah satu hambatan utama pembangunan PLTG adalah kepastian pasokan gas. Banyak proyek energi sulit berjalan karena suplai bahan bakarnya belum jelas dan berkelanjutan. Kini hambatan itu perlahan mulai terjawab.
Pasokan awal sekitar 7 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) yang nantinya ditargetkan meningkat hingga 30 BBTUD menjadi sinyal kuat bahwa Madura memiliki fondasi energi yang cukup untuk membangun sistem kelistrikan berbasis gas. Artinya peluang pembangunan PLTG di Madura kini semakin realistis dan sangat memungkinkan untuk dipercepat.
Ini penting karena PLTG bukan hanya soal membangun pembangkit listrik baru. PLTG adalah pintu masuk menuju kemandirian energi Madura. Dengan pembangkit berbasis gas sendiri Madura tidak lagi terlalu bergantung pada suplai listrik dari Jawa. Risiko gangguan listrik bisa ditekan dan kualitas layanan listrik untuk masyarakat dapat meningkat jauh lebih baik.
Dalam teori pembangunan ekonomi ada istilah resource curse atau kutukan sumber daya alam. Artinya daerah yang kaya sumber daya belum tentu maju jika kekayaannya tidak dikelola untuk kepentingan masyarakat lokal. Madura selama ini berada di persimpangan itu. Kaya energi tetapi belum sepenuhnya terang.
Padahal jika listrik Madura kuat dampaknya akan terasa ke mana-mana. UMKM bisa berkembang lebih cepat. Nelayan bisa menyimpan hasil tangkapan lebih lama dengan fasilitas pendingin.
Anak-anak di kepulauan bisa belajar dengan nyaman pada malam hari. Industri pengolahan hasil laut dan garam bisa tumbuh lebih besar. Bahkan sektor pariwisata Madura juga akan ikut bergerak.
Listrik bukan hanya soal kabel dan gardu. Listrik adalah tentang rasa aman ketika malam datang. Tentang ibu yang bisa memasak tanpa khawatir listrik mati. Tentang pelaku usaha kecil yang tidak takut alat produksinya berhenti mendadak. Tentang harapan bahwa hidup bisa berjalan lebih baik dari hari ini.
Pembangkit listrik tenaga gas juga jauh lebih efisien dan ramah lingkungan dibanding pembangkit diesel. Emisinya lebih rendah dan pasokan energinya lebih stabil. Karena itu percepatan pembangunan PLTG di Madura harus menjadi agenda bersama pemerintah PLN dan seluruh pemangku kepentingan.
Jangan sampai gas Madura terus mengalir keluar sementara masyarakatnya masih bergantung pada sistem listrik yang belum sepenuhnya kuat.
Sudah terlalu lama Madura hanya menjadi penonton di atas kekayaan energinya sendiri. Sudah waktunya gas dari bumi Madura benar-benar kembali untuk masyarakat Madura.
Jangan sampai daerah yang kaya energi justru terus hidup dalam bayang-bayang keterbatasan listrik. Sebab masyarakat Madura tidak sedang meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin satu hal sederhana, yakni hidup lebih terang dan lebih sejahtera di tanahnya sendiri. Maaf. (*)













