Catur, Reportoar dan Antiklimaks

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abrari Alzael, Budayawan dan Jurnalis Senior.

****

LELAKI itu bilang begini : “Tenang saja Pak Prabowo, saya sudah ada di sini.” Waktu itu hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2023. Di tanggal itu, dunia sedang memperingati Hari Sampanye, anggur bersoda, berasal dan diproduksi di wilayah Champagne, Prancis. Biasanya sampanye dibuat dari anggur Pinot Noir, Pinot Meunier, dan Chardonnay.
Meminumnya, bisa memabukkan.

Sebab efek karbonasi atau gelembung udara (karbon dioksida) dalam sampanye mempercepat pembukaan katup lambung. Akibatnya, alkohol masuk ke usus halus dan diserap ke aliran darah jauh lebih cepat. Kata-kata, yang tersembul dari pemabuk, umumnya asal nyembul, tak terkontrol.

Narasi itu, mengguncang republik bukan saja karena memuat ketidaksantunan linguistik. Lebih dari itu, frasa tersebut, di saat yang sama, dapat dinilai merendahkan Prabowo Subianto, calon presiden kala itu, yang lebih sepuh dan seharusnya dihormati. Tetapi dengan kata-kata itu, sosok jenderal seakan teramputasi, kehilangan wibawa.

Baca juga :  Lembaga Pendidikan Diniyah Takmiliyah: Sebuah Potensi yang Terabaikan

Beruntung Prabowo sosok yang sabar dan memahami bahwa kalimat tersebut tak sedikitpun membuatnya tersinggung. Prabowo tersenyum, bahkan tertawa sambil mengepalkan tangan ke udara.

Di gelanggang itu, banyak orang mengelu-elukan, menyebut namanya, berulang-ulang, sambil mengayunkan bendera aneka warna ke kiri-kanan angkasa. Tetapi komentar pendek yang menonton tayangan televisi, cukup menggelitik karena berseru, “Siapa lu!”

Dalam dunia kata, kalimat yang diucapkan seseorang merupakan cerminan langsung dari isi pikiran dan suasana hati (mood). Pilihan kosa kata, diksi, nada bicara, dan gaya bahasa secara tidak sadar mengungkapkan emosi.

Mungkin sedang bahagia, marah, sedih, lelah, atau tidak tahu harus bernarasi seperti apa. Suasana ini mesti disandingkan dengan aura pengucapnya, sebagai penegas situasi kebatinannya.

Bila pengucap kata tersebut tidak fokus, plonga-plongo, dapat dimaknai bahwa sesungguhnya ia sedang bingung, nerveus; seperti pemain catur yang memindahkan bidak yang salah, lalu bertanya pada dirinya sendiri: “Kok kuda ya yang dipindah, padahal yang dipikirkan menggeser benteng.”

Baca juga :  Pers Versus Asas Praduga Tidak Bersalah

Para penonton permainan catur ini, tidak mengerti. Sebab yang dilakukan pemain catur seringkali luput dari pikiran penonton. Terlihat, pemain tidak fokus. Bidak-bidak yang dijalankan, lebih banyak dijadikan pion yang dikorbankan.

Di mata penonton, pemain catur tidak cekatan dalam berpikir dan menggerakkan bidak. Ia tidak punya strategi dan lebih banyak bermain dengan mengikuti langgam lawan. Oleh karena lebih dominan mengikuti arah permainan lawan, atlet catur ini terjebak.

Padahal, dalam catur, pertahanan yang paling baik adalah menyerang. Di sini, taka da pertahanan, apalangi penyerangan. Malah sebaliknya, diserang dan dipermainkan, lalu rupiah anjlok.

Lalu apa hakikat makna dari kata-kata “Tenang saja Pak Prabowo, saya sudah ada di sini?”. Ia ada sebagai apa; subyek, predikat, obyek, atau hanya pelengkap penderita? Rakyat ingin ada pemikiran dan langkah konkret sebagaimana puisi itu; perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Narasi, kalimat, dan bahasa, sudah terlalu sering diucapkan di banyak panggung dan kesempatan. Rakyat butuh aktualisasi, perlu bukti, bukan janji.

Baca juga :  Ketika Penis Patung Lebih Berguna daripada Pena Wartawan

Ada banyak yang sakit di tanah ini. Bila ada yang tak sehat, tentu butuh dokter, perlu obat dan rumah sakit. Namun mengapa yang dibangun dapur? Itu yang dikatakan dr Saga Sabara, salah satu finalis stand up comedy Indonesia.

Disebutkan, jumlah dokter jantung di republik ini hanya sekitar 1.485 orang. Bila disandingkan dengan populasi penduduk negeri yang mencapai 288 jiwa, maka rasio 1 orang dokter jantung harus menangani 192.000 jiwa.

Perbandingan ini, menjelaskan bahwa banyak pasien yang keburu meninggal karena tertangani SDM yang secara populatif tidak imbang. Begitu pula dengan penduduk negeri, mereka terlanjur sekarat karena terlalu banyak narasi yang menabrak logika umum.

Sementara, kuasa memaksakan dan meyakinkan sesuatu yang tidak layak dipercaya ; kata-kata yang berbusa itu, yang tidak nyambung antara satu podium hingga podium berikutnya, distorsi. Ini negara, bukan sirkuit, apalagi sirkus. (*)

Berita Terkait

Algoritma Pengecut dan Terdakwa Tanpa Wajah
Singa yang Bergelang Karet Demokrasi
Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita
Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol
Belajar Berserah di Padang Arafah
Madura Tidak Pernah Tamat
Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku
Kuasa dan Onanisme Republik

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 02:00 WIB

Catur, Reportoar dan Antiklimaks

Rabu, 3 Juni 2026 - 04:49 WIB

Algoritma Pengecut dan Terdakwa Tanpa Wajah

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:37 WIB

Singa yang Bergelang Karet Demokrasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 05:32 WIB

Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita

Selasa, 26 Mei 2026 - 04:49 WIB

Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol

Berita Terbaru

Opini

Catur, Reportoar dan Antiklimaks

Jumat, 5 Jun 2026 - 02:00 WIB

Sastra

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Kamis, 4 Jun 2026 - 06:04 WIB