SUMENEP || KLIKMADURA — Tak semua perjalanan karier berakhir di tempat yang memiliki ikatan batin. Namun, bagi Kombes Pol Ariek Indra Sentanu, penugasan di Kabupaten Sumenep seolah menjadi jawaban atas perjalanan panjang yang telah ditempuhnya selama bertahun-tahun sebagai anggota Polri.
Ia datang bukan hanya membawa pengalaman dari berbagai daerah. Ada cerita lain yang membuat penugasannya terasa lebih istimewa. Di kabupaten paling timur Pulau Madura itu, Ariek ternyata memiliki jejak darah keluarga.
Dari garis nenek buyutnya, mengalir keturunan Sumenep. Karena itu, ketika menerima amanah memimpin Polresta Sumenep, ada rasa pulang yang tak bisa diukur hanya dengan pangkat dan jabatan.
Penugasan tersebut sekaligus mencatatkan namanya dalam sejarah. Ariek menjadi Kapolresta Sumenep pertama setelah status Polres Sumenep resmi ditingkatkan menjadi Polresta. Sebuah tonggak baru bagi institusi kepolisian di Sumenep, yang juga menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya.
Karier Ariek sendiri dibangun setahap demi setahap. Awal 2023, ia dipercaya memimpin Polres Cirebon Kota. Wilayah pesisir utara Jawa Barat itu dikenal memiliki dinamika keamanan yang cukup kompleks. Di sanalah ia mengasah kepemimpinan sekaligus menjaga stabilitas keamanan di tengah aktivitas masyarakat yang tak pernah benar-benar berhenti.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Juli 2023, tongkat komando berpindah ke tangannya di Polres Subang. Hampir dua tahun ia mengabdikan diri di sana. Masa tugas itu menjadi salah satu periode yang paling berwarna dalam rekam jejaknya.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai kasus berhasil diungkap. Pemberantasan narkotika menjadi salah satu perhatian utama, dengan ratusan perkara dan tersangka berhasil diungkap. Namun, angka-angka itu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia juga memberi perhatian pada perlindungan perempuan dan anak, memperkuat pelayanan publik, serta mendorong hadirnya polisi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pengalaman itu kemudian membawanya ke Polda Metro Jaya sebagai Wadirlantas. Bertugas di ibu kota tentu menghadirkan tantangan yang berbeda. Ritme kerja lebih cepat, persoalan lebih kompleks, dan keputusan harus diambil dalam hitungan waktu. Pengalaman tersebut semakin mematangkan kepemimpinannya sebelum kembali dipercaya memimpin kewilayahan.
Kini, estafet pengabdian itu berlanjut di Sumenep. Bagi sebagian orang, jabatan Kapolresta pertama mungkin hanya sebuah catatan sejarah. Namun, bagi Ariek, amanah itu memiliki makna yang lebih dalam. Ia memimpin daerah yang ternyata juga menjadi bagian dari akar keluarganya.
Barangkali itulah sebabnya, Sumenep bukan sekadar tempat bertugas. Ada ruang emosional yang ikut terisi setiap kali ia menatap bumi Madura dari balik seragam yang dikenakannya.
Di tengah tantangan menjaga keamanan wilayah kepulauan yang luas, Ariek membawa prinsip yang sederhana: jabatan bukan tujuan akhir. Pengabdianlah yang menjadi orientasi. Filosofi itu pula yang terus ia pegang selama bertugas, dari Cirebon, Subang, Jakarta, hingga akhirnya menjejakkan langkah di Sumenep.
Perjalanan panjang itu akhirnya seperti membentuk sebuah lingkaran. Berangkat dari berbagai penugasan di sejumlah daerah, lalu berlabuh di tanah yang menyimpan jejak leluhurnya sendiri.
Sebuah perjalanan karier yang bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga tentang kembali pulang, membawa pengalaman, dedikasi, dan harapan untuk membangun rasa aman bagi masyarakat Sumenep. (nda)














