Bacakan Pledoi, Terdakwa Kasus Kekerasan Terhadap ODGJ Menitiskan Air Mata

- Jurnalis

Rabu, 14 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Musahwan, terdakwa kasus kekerasan terhadap ODGJ saat keluar dari ruang sidang PN Sumenep. (DOK. KLIKMADURA)

Musahwan, terdakwa kasus kekerasan terhadap ODGJ saat keluar dari ruang sidang PN Sumenep. (DOK. KLIKMADURA)

SUMENEP || KLIKMADURA – Suasana haru menyelimuti ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Sumenep saat sidang lanjutan perkara ODGJ Sapudi digelar, Rabu (14/1/2026).

Salah satu terdakwa, Musahwan, tak kuasa menahan tangis ketika membacakan nota pembelaan (pledoi) di hadapan majelis hakim PN Sumenep.

Dengan suara lirih dan napas tersengal, Musahwan mengaku terpukul dan kebingungan. Ia tak memahami mengapa dirinya harus duduk di kursi terdakwa.

Padahal, ia mengaku sebagai korban kekerasan Sahwito, seorang ODGJ yang mengamuk dan mencekiknya hingga nyaris kehabisan napas.

“Saya bingung. Saya yang dicekik sampai hampir mati, tapi justru saya yang ditahan dan dianggap bersalah,” ucap Musahwan terbata.

Ruang sidang mendadak sunyi. Isak tangis Musahwan pecah. Sejumlah hakim tampak menundukkan kepala, suasana emosional tak terhindarkan.

Baca juga :  Spesial Harlisnas ke-79, PLN Diskon Biaya Tambah Daya hingga 27 Persen

Dalam pledoinya, Musahwan menceritakan detik-detik saat Sahwito melakukan pitingan atau cekikan. Ia mengaku selamat karena dua warga lain datang melerai. Namun ironisnya, kedua warga yang membantu tersebut justru ikut dipenjara.

“Kalau tidak ada yang melerai, mungkin saya sudah meninggal. Tapi yang menolong saya malah ikut ditahan,” ujarnya.

Dua warga yang dimaksud Musahwan bernama Tolak Edi dan Su’ud. Keduanya, menurut Musahwan, hanya berusaha melepaskan cekikan Sahwito dan mengamankannya agar tidak terus mengamuk. Sahwito kemudian diikat warga lain karena situasi dinilai sudah tak terkendali.

“Apakah menolong orang yang sedang dicekik dan mengamankan orang yang mengamuk itu perbuatan salah di mata hukum?” kata Musahwan dalam pembelaannya.

Baca juga :  Komitmen Beri Pelayanan Prima, RSIA Puri Bunda Madura Target Raih Akreditasi Paripurna

Tak hanya memaparkan kronologi kejadian, Musahwan juga membuka dampak besar yang ia alami sejak ditahan. Ia mengaku kehilangan mata pencaharian, menutup usaha toko kelontong di Jakarta, serta berhenti bekerja sebagai pengemudi ojek daring.

Lebih memilukan, anaknya terpaksa berhenti sekolah karena trauma dan kebingungan setelah sang ayah tak kunjung pulang. Istrinya pun dipulangkan ke kampung halaman di Sapudi dan harus bertahan hidup dari bantuan keluarga serta tetangga.

“Sejak ditahan, saya sering menangis di dalam tahanan. Saya juga meninggalkan 27 anak didik saya di Jakarta,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Musahwan juga merasa diperlakukan tidak adil sejak awal proses hukum. Ia mengaku beberapa kali memenuhi panggilan kepolisian sebagai saksi. Namun pada pemanggilan berikutnya, ia justru langsung ditahan tanpa sempat dipulangkan.

Baca juga :  SDI Al Munawwarah Pamekasan Mewisuda 115 Siswa, 61 Di Antaranya Penghafal Al-Quran

Di akhir pledoi, Musahwan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Sahwito. Ia menegaskan bahwa upaya damai telah ditempuh dengan melibatkan tokoh masyarakat, kiai, hingga kepala desa. Namun, ikhtiar tersebut tak mampu menghentikan perkara bergulir ke meja hijau.

“Jika perbuatan saya dianggap salah, saya mohon maaf. Tapi jika saya tidak bersalah, mohon bebaskan saya agar saya bisa kembali kepada keluarga,” tutupnya.

Sidang perkara ini masih akan berlanjut. Majelis hakim dijadwalkan mendengarkan tanggapan Jaksa Penuntut Umum atas nota pembelaan para terdakwa pada agenda persidangan berikutnya. (nda)

Berita Terkait

Sukses Jalankan Tata Kelola Keuangan Bersih, Pemkab Sumenep Diganjar Opini WTP 9 Kali Berturut-turut
RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Pastikan Pelayanan Tetap Maksimal Saat Libur Idul Adha 1447 H
Nobar Film “Pesta Babi”, KOPRI PMII Sumenep Bongkar Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Ruang Hidup
Harkitnas ke-118 Jadi Momentum RSUD Sumenep Perkuat Pelayanan Kesehatan Humanis
Bupati Sumenep Ajak PCNU Bersinergi Atasi Kemiskinan dan Pengangguran
Tangkap Ikan Pakai Trawl dan Dituduh Rusak Rumpon, Nelayan Branta Tinggi Diminta Bayar Ganti Rugi Rp 30 Juta
PCNU Sumenep Matangkan Arah Perjuangan Lima Tahun ke Depan Melalui Rapat Kerja
Ngopi Bareng Tiga Lembaga, PCNU Sumenep Matangkan Program Jelang Raker

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:49 WIB

Sukses Jalankan Tata Kelola Keuangan Bersih, Pemkab Sumenep Diganjar Opini WTP 9 Kali Berturut-turut

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:36 WIB

RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Pastikan Pelayanan Tetap Maksimal Saat Libur Idul Adha 1447 H

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:14 WIB

Nobar Film “Pesta Babi”, KOPRI PMII Sumenep Bongkar Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Ruang Hidup

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:38 WIB

Harkitnas ke-118 Jadi Momentum RSUD Sumenep Perkuat Pelayanan Kesehatan Humanis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 08:09 WIB

Bupati Sumenep Ajak PCNU Bersinergi Atasi Kemiskinan dan Pengangguran

Berita Terbaru

Opini

Singa yang Bergelang Karet Demokrasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:37 WIB