Dorong Pengembagan Eduwisata Desa Sokobanah Daya, Mahasiswa UTM Terapkan Teknologi Dancing Water Berbasis Digital Controller

- Jurnalis

Senin, 25 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPANG || KLIKMADURA – Mahasiswa UTM menggelar program pengabdian masyarakat yang berada di Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang.

Program tersebut untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapatkan di perkuliahan kemudian dikembalikan kepada masyarakat. Program tersebut memberi banyak manfaat kepada mahasiswa, dosen, maupun masyarakat.

Pengabdian masyarakat tersebut digelar oleh dosen dari Prodi Teknik Mekatronika dan Teknik Informatika yang terdiri dari 7 anggota. Perinciannya, dari kalangan dosen terdiri dari Ir. Sri Wahyuni, S. Kom., M. T., Dr. Fika Hastarita Rachman S. T., M. Eng., Imamah S. Kom., M. Kom.

Kemudian, dari kalangan mahasiswa terdiru dari Muhammad Wahyu Aria Senna, Ahmad Farih, Rizky Sarsyah Nur Prasojo, Achmad Fany Fadeli dan Muhammad Akbar Maulana.

Dosen Fakultas Teknik, UTM saat breafing dengan mahasiswa terkait pengembangan wisata.

Ir. Sri Wahyuni, S. Kom., M. T., mengatakan, Desa Sokobanah Daya memiliki tempat hiburan yang bernama kampung wisata Panjelin, wisata ini sendiri berada di bawah naungan Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabutpaten Sampang.

Baca juga :  Prengki Wirananda Resmi Pimpin Ikatan Alumni Ilmu Kelautan UTM hingga 2029

Wisata tersebut memiliki potensi yang bisa terus dikembangkan, baik dari segi infrastruktur maupun  sarana dan prasarananya. Oleh karena itu, pengabdian masyarkat itu dilakukan agar membantu wisata tersebut mendapatkan inspirasi untuk tambahan infrastruktur, sarana, dan prasarannya.

“Pada pengabdian masyarakat ini, kami membuat alat yaitu Dancing Water Berbasis Digital Controller,” katanya.

Dijelaskan, kondisi tempat wisata tersebut sangat panas dan terbilang gersang, sehingga kurang enak didatangi saat siang hari. Dengan demikian, tim pengabdian masyarakat itu membuat alat yang bisa menjadikan suasana tempat wisata itu sejuk.

“Dibuatnya alat Dancing Water kemungkinan bisa membuat suasana di tempat wisata ini menjadi lebih sejuk karena alat ini mengeluarkan semburan air yang bergerak ke berbagai arah dan dapat diberikan pola sehingga dapat memberi kesan estetika dan kesejukan,” katanya.

Baca juga :  HIMMAN UTM Gaungkan Cinta Lingkungan Lewat Society Festival 2025, Bupati Beri Aspirasi

Kegiatan tersebut disambut baik dan hangat oleh pengelola wisata setempat, yang juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sampang.

Melalui kegiatan tersebut juga diharapkan bisa mengenalkan mikrokontroler pada warga dan pemuda pemudi setempat. Dengan demikian, warga setempat tidak kalah dengan orang-orang di kota-kota besar yang media pembelajarannya sudah menggunakan mikrokontroler.

“Tim pengabdian ini melakukan kegiatan sejak 5 September 2024 yang dilaksanakan dosen bersama mahasiswa, kegiatannya sendiri berlangsung selama kurang lebih 3 bulan sampai bulan November,” terangnya.

Ir. Sri Wahyuni, S. Kom., M. T., menjelaskan, pembuatan alat itu membutuhkan proses yang sangat panjang. Sebab, maintenance dari kabel-kabel dan komponen-komponen yang memiliki jumlah yang terbilang banyak.

Baca juga :  Polres Sampang Gelar Operasi Patuh Semeru 2025, Delapan Pelanggaran Jadi Fokus Penindakan

Perinciannya, sebanyak 30 buah motor yang digunakan untuk memompa air yang akan dikeluarkan. Kemudian, pengkabelan yang dihubungkan juga tidaklah sedikit, terdapat kurang lebih 80 kabel dengan ukuran mulai dari 1-3 meter.

Alat tersebut memiliki 18 pola berbeda yang akan keluar setiap detiknya dan membentuk beberapa bentuk yang berbeda beda juga. Air mancur ini juga nantinya akan menambah estetika destinasi wisata.

“Tim ini juga membuat video 3D untuk menampilkan bagiamana proses dari air mancur ini berfungsi dan pola yang dikeluaran. Proses pembuatan dari video animasi ini dikerjakan menggunakan aplikasi Blender 3D,” katanya.

“Pembuatan video 3D sendiri bisa digunakan sebagai media pembelajaran dikarenakan jarang sekali ada pelatihan untuk pembuatan video 3D, tetapi kekurangannya harus memiliki device yang mumpuni untuk melakukan render,” tandasnya. (*/diend)

Berita Terkait

Duta Genre Disiapkan Jadi Garda Depan Indonesia Emas 2045, Pemkab Sampang Fokus Cetak Remaja Berkualitas
Dipicu Asmara Tak Direstui, Bentrok Berdarah Tiga Orang Pecah di Sampang
Dua Surat Edaran Tak Digubris, Pengelolaan Sampah Dapur MBG di Sampang Masih Semrawut
Dokter RSUD dr. Mohammad Zyn dan Juru Parkir Diciduk Kasus Dugaan Sabu, Manajemen Siapkan Sanksi Pemecatan
Imigrasi Pamekasan Kukuhkan Desa Omben sebagai Desa Binaan, Perkuat Pencegahan PMI Nonprosedural
Pj Kades Banyukapah Buka Suara Soal Polemik Bansos Misnati, Tegaskan Penyaluran Sesuai Aturan
Jelang Penentuan Pj Sekda Sampang, Tokoh Agama Dorong Choirijah Masuk Bursa Kandidat
Sidang Kasus Rudapaksa Bergilir di Sampang Berlanjut, Enam ABH Kompak Ajukan Pembelaan

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:37 WIB

Duta Genre Disiapkan Jadi Garda Depan Indonesia Emas 2045, Pemkab Sampang Fokus Cetak Remaja Berkualitas

Senin, 27 Juli 2026 - 08:21 WIB

Dipicu Asmara Tak Direstui, Bentrok Berdarah Tiga Orang Pecah di Sampang

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:51 WIB

Dua Surat Edaran Tak Digubris, Pengelolaan Sampah Dapur MBG di Sampang Masih Semrawut

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:17 WIB

Dokter RSUD dr. Mohammad Zyn dan Juru Parkir Diciduk Kasus Dugaan Sabu, Manajemen Siapkan Sanksi Pemecatan

Kamis, 23 Juli 2026 - 07:25 WIB

Imigrasi Pamekasan Kukuhkan Desa Omben sebagai Desa Binaan, Perkuat Pencegahan PMI Nonprosedural

Berita Terbaru