PAMEKASAN || KLIKMADURA – Ketua Yayasan Al-Uswah Pamekasan, Usman Sayyaf, melontarkan sebutan “bodrex” kepada jurnalis Klik Madura saat dikonfirmasi mengenai pemecatan dua karyawan SDIT Al-Uswah Pamekasan.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui percakapan WhatsApp ketika wartawan berupaya meminta klarifikasi terkait persoalan yang dikeluhkan dua mantan karyawan sekolah tersebut.
Alih-alih memberikan penjelasan mengenai alasan pemecatan, Usman justru mempertanyakan kepentingan wartawan melakukan konfirmasi. Ia juga melontarkan pernyataan yang dinilai mendiskreditkan profesi jurnalis.
“Kenapa Anda harus konfirmasi, Mbak? Dan kenapa harus ada konfirmasi ke Anda? Begitu semangatnya mengulik informasi tentang sekolah Al-Uswah, bodrex ya, Mbak?” kata Usman melalui pesan WhatsApp.
Tak berhenti di situ, Usman juga menuding Klik Madura menyebarkan informasi hoaks dan mengingatkan wartawan agar berhati-hati dalam memberitakan persoalan tersebut. Namun, dalam percakapan itu, ia tidak menjelaskan secara spesifik informasi mana yang dianggapnya hoaks.
“Hati-hati info hoaks yang Anda sebarkan bisa black campaign. Kalau mau, jadi partner sekolah saja, Mbak, saya banyak stok berita sekolah nih,” ujarnya.
Usman kembali menggunakan istilah “bodrex” menjelang akhir percakapan. Pernyataan tersebut dinilai merendahkan profesi jurnalis yang menjalankan tugas meminta klarifikasi kepada pihak terkait.
Padahal, konfirmasi merupakan bagian penting dalam kerja jurnalistik untuk menguji informasi, memperoleh penjelasan dari pihak yang diberitakan, serta memastikan pemberitaan disusun secara berimbang.
Upaya tersebut juga menjadi kesempatan bagi pihak yayasan untuk menyampaikan versi dan penjelasannya mengenai persoalan pemecatan dua karyawan.
Sebelumnya, Klik Madura menerima kedatangan dua mantan karyawan SDIT Al-Uswah Pamekasan yang mengeluhkan pemberhentian kerja mereka. Keduanya diketahui bekerja sebagai petugas keamanan atau satpam di sekolah tersebut.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada Klik Madura, persoalan itu bermula ketika keduanya dikeluarkan dari grup WhatsApp internal. Setelah itu, mereka mengaku diberhentikan dari pekerjaan tanpa memperoleh penjelasan yang jelas mengenai alasan pemecatan. (nda)














