Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Tumbuh Generasi Muda

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moh Naufal Abror, Pengurus Lakpesdam PCNU Sumenep sekaligus Dosen UNIBA Madura.

****

SETIAP 28 Oktober, kita kembali memperingati Sumpah Pemuda. Ikrar yang lahir pada 1928 itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti keberanian generasi muda membangun kesadaran bersama di tengah perbedaan.

Para pemuda saat itu tidak menunggu keadaan menjadi ideal untuk mengambil peran. Mereka menjadikan gagasan dan persatuan sebagai jalan menuju masa depan bangsa.

Hampir satu abad kemudian, semangat itu perlu dibaca kembali melalui kehidupan pemuda hari ini. Di tengah perkembangan teknologi, arus informasi yang cepat, dan perubahan ekonomi, muncul pertanyaan: apakah generasi muda memiliki cukup ruang dan inisiatif untuk mengembangkan pikiran, kapasitas, dan keberanian mengambil peran dalam masyarakat?

Sebagai akademisi yang mengamati kehidupan pemuda, saya melihat bahwa aktivitas pendidikan masih kerap berpusat pada kewajiban formal. Di lingkungan kampus, misalnya, sebagian mahasiswa menjalani rutinitas kuliah, menyelesaikan tugas, lalu pulang.

Baca juga :  Belajar Berserah di Padang Arafah

Diskusi di luar kelas, membaca bersama, dan pertukaran gagasan belum selalu menjadi kebiasaan. Tentu, kondisi ini tidak berlaku bagi semua mahasiswa. Keterbatasan waktu, biaya, dan tanggung jawab keluarga juga perlu dipertimbangkan.

Namun, keadaan tersebut tetap mengundang pertanyaan: sudahkah lingkungan pendidikan menyediakan ruang yang cukup bagi tumbuhnya tradisi intelektual? Tradisi berpikir tidak lahir hanya karena seseorang terdaftar sebagai mahasiswa atau anggota organisasi.

Ia tumbuh melalui kebiasaan membaca, bertanya, berdialog, dan menguji gagasan. Karena itu, mahasiswa perlu berinisiatif membangun ruang diskusi, meskipun sederhana. Percakapan setelah kuliah, kelompok membaca, atau pertemuan kecil untuk membahas persoalan masyarakat dapat menjadi awal.

Diskusi bukan ajang menunjukkan siapa yang paling pintar, melainkan kesempatan untuk memperluas cara pandang, menerima perbedaan, dan memahami persoalan secara lebih utuh.

Kebiasaan tersebut penting karena tantangan pemuda tidak berhenti pada pendidikan. Perubahan dunia kerja dan ketidakpastian ekonomi menuntut kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, memimpin, serta menciptakan peluang.

Baca juga :  Ternyata Semudah Itu Lho Bertani Semi Organik

Pengetahuan perlu dihubungkan dengan persoalan nyata agar tidak berhenti sebagai teori. Di Madura, misalnya, potensi pertanian, UMKM, perdagangan, dan budaya dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan riset, inovasi, dan kolaborasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tanggung jawab ini bukan milik pemuda semata. Kampus, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan dunia usaha perlu menyediakan ruang belajar serta kolaborasi yang terbuka. Namun, kesempatan tersebut membutuhkan inisiatif agar benar-benar hidup.

Pemuda tidak harus menunggu gerakan besar untuk berkontribusi; kelompok diskusi yang konsisten atau proyek kecil yang menjawab kebutuhan masyarakat pun dapat menjadi langkah awal perubahan.

Memperingati Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada upacara dan nostalgia sejarah. Bagi mahasiswa, momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa menjadi pemuda bukan sekadar soal usia, melainkan keberanian untuk berpikir, belajar, dan mengambil peran.

Baca juga :  Republik Sulap

Jangan biarkan masa kuliah hanya diisi rutinitas datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang. Luangkan waktu untuk membaca, berdiskusi, bertukar gagasan, dan membicarakan persoalan di sekitar. Jangan menunggu orang lain menciptakan ruang belajar; mulailah bersama teman-teman, meski hanya dari kelompok kecil.

Para pemuda 1928 meninggalkan warisan berupa keberanian menyatukan gagasan demi masa depan bangsa. Kini, mahasiswa memiliki tantangan untuk meneruskan semangat itu dengan cara yang sesuai zamannya: membangun tradisi intelektual, memperluas wawasan, dan mengubah pengetahuan menjadi karya.

Jangan hanya menjadi penonton perubahan, sementara masa depan sedang menunggu sumbangan pikiran kalian. Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemuda yang bangga pada sejarahnya, tetapi juga generasi yang berani berpikir, mau berdialog, dan bersedia bekerja untuk masa depan yang lebih baik. (*)

Berita Terkait

Sumpah Pemuda: Sumpah Generasi Muda Mutatis Mutandis
Imajinasi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Kangean
Menggugat Stigma Dangkal: Membebaskan Sosialisme Indonesia dan GMNI dari  Sesat Fikir “Bahaya Laten Komunisme”
Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?
Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan
Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:59 WIB

Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Tumbuh Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Sumpah Pemuda: Sumpah Generasi Muda Mutatis Mutandis

Sabtu, 19 September 2026 - 09:55 WIB

Imajinasi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Kangean

Kamis, 17 September 2026 - 06:35 WIB

Menggugat Stigma Dangkal: Membebaskan Sosialisme Indonesia dan GMNI dari  Sesat Fikir “Bahaya Laten Komunisme”

Kamis, 27 Agustus 2026 - 02:33 WIB

Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?

Berita Terbaru

Sastra

Coretan Joni Efendy

Rabu, 28 Okt 2026 - 09:25 WIB