Oleh: Muhari AS, Wartawan Klik Madura wilayah Bangkalan.
****
BLEGA menjadi tanah substansial dalam sebuah sejarah perjalanan pergolakan kebudayaan, cerita rakyat dan cerita-cerita lainnya tersusun dengan rapi dalam saksi tanah Blega.
Ketika hendak mengembalikan ingatan masa lalu, masyarakat Blega kental akan salah satu cerita dan jejak historis yang tertinggal didalamnya sebagai sebuah panembahan.
Pangeran Blega, Pangeran Macan Putih adalah sebuah ingatan dari cikal-bakal tumbuh dan berdirinya Kecamatan Blega.
Aracok Budhaja; Taretan Paraten Budhaja, Lanceng Blega Kompak Sadhaja yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Blega (Ikamaga) ini adalah momentum mengembalikan ingatan bersejarah.
Tujuannya, agar menjadi ghiroh penentu dan kekuatan terhadap pertumbuhan ekosistem kepemimpinan, keikhlasan dan perjuangan masyarakat Blega yang dilatarbelakangi oleh Cerita Pangeran Blega tersebut.
Acara ini dikemas dengan Fashion Show, Musik Daul, Pertunjukan Kesenian dan Bazar UMKM sebagai langkah kolaboratif antar pengusaha di Kecamatan Blega dan sekitarnya.
Pukul 18.30 WIB Sabtu, 22 Agustus 2026 masyarakat Blega, baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum turut memadati Alun-Alun Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan.
Pegelaran dimulai secara seremonial, pembukaan dan sambutan-sambutan, peserta undangan juga turut mengambil undian karena diakhir acara disiapkan doorprize mulai dari mesin cuci dan hadiah-hadiah menarik lainnya.
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Blega, Ivanka Ramadhan menegaskan dalam sambutannya bahwa kegiatan Aracok Budhaja tersebut sebagai upaya untuk melangkah meraih kekompakan dan persatuan masyarakat Blega dari berbagai elemen untuk terus berkolaborasi.
“Ini adalah momentum untuk menyatukan masayarakat Blega dan meramu budaya, kesenian yang ada di Blega” Ujar Ivanka.
“Aracok Budhaja Blega, aracok adalah menyelamati atau buah tanda kita mensyukuri atas kebudayaan-kebudayaan yang ada di Blega yang masih terjaga, dijaga dan seterusnya dirawat” tambahnya.
Kepala Puskesmas Blega, Siti Safitri Mulita Akhmad juga memberikan apresiasi atas terlaksananya acara.
“Aracok Budhaja ini tak hanya sekadar menjadi hiburan belaka untuk masyarakat Blega dan sekitarnya, tetapi edukasi budaya, edukasi kesenian. Untuk merapal kembali ingatan tentang Blega yang sakral dan penuh akan sejarah” ujar Kepala Puskesmas tersebut.
Merapal ingatan tentu merefleksikan perjuangan-perjuangan yang ada, hal itu tampak dari penampilan fashion show dengan latar belakang penampilan yang berbeda-beda.
Ada peserta dengan penampilan Sekar Macan Putih, sosok macan putih dimaknai sebagai keberanian ditampilkan dalam bentuk kepala macan, sekar macan putih tidak hanya penampilan tetapi budaya yang panjang yang terus ada dalam ingatan masyarakat Blega, tidak hanya dikenang tetapi dirawat untuk dikenang oleh masa kini dan masa depan.
Selanjutnya, dari SDN Blega 3 yaitu memakai kostum puteri penjaga keindahan alam, menampilkan dengan kedua kepakan sayapnya, putri bersayap memiliki arti kebebasan untuk memiliki mimpi yang tinggi, terbang untuk mengarungi masa depan.
Seperti halnya sayap yang membawa impian untuk terbang, sama halnya kreativitas yang dikenakan dari barang bekas hingga melampaui batas.
Raja penjaga bumi, raja muda yang gagah, penampilan fashion ini memakai kostum yang dibuat dari barang bekas menjadi karya yang bernilai, mahkota yang dipakai melambangkan kepemimpinan, rompi dengan lambang perlindungan serta jubah yang melekat dalam tubuhnya melambangkan tanggung jawab seorang pemimpin.
Setiap partisipasi peserta fashion show dan pemain musik Daul mendapatkan apresiasi dari panitia penyelenggara. Tiga musik Ul Daul Partisipasi yaitu K-conk Angkara, Lendhu Alam dan NBM Mekar Jaya.
Festival Aracok Budhaja ini perlu diapresiasi dan harapannya terus ada setiap tahun dengan aroma kebudayaan dan kesenian yang ada di Kecamatan Blega.
Namun, pelaksanaannya perlu terus dievaluasi, agar pengelolaan pelaksanaannya lebih tertib, efisien dan terarah.
Sebab kebudayaan adalah buah dari hasil cipta, rasa dan karsa yang harus terus dihidupkan. (*)














