Oleh: Arsilia Cahyani Hidayat, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura.
****
SETIAP perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Suasana di Madura biasanya akan terasa berbeda. Banyak orang orang yang mulai menggelar acara maulid nabi di rumahnya dengan mengundang para tetangga. Dan di setiap masjid punya cara mereka tersendiri bagaimana mereka merayakannya.
Akan ada orang yang membawa jajanan, buah buahan, sampai bingkisan untuk diberikan kepada orang yang hadir di perayaan. Bagi masyarakat Madura, Maulid Nabi ini bukan hanya sekedar perayaan keagamaan tetapi juga sudah menjadi bagian dari tradisi dan budaya yang sudah dilakukan secara turun-temurun.
Tapi, di zaman sekarang muncul pertanyaan : apakah tradisi Maulid Nabi masih akan tetap kuat di kalangan generasi muda?
menurut saya, jawabannya masih iya. Tetapi untuk bentuknya mungkin akan terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Generasi sekarang ini adalah generasi yang hidup di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang sangat cepat.
Kita lebih sering melihat tren terbaru di tiktok, Instagram, atau platform lainnya dibandingkan dengan mengikuti tradisi yang sudah ada sejak dahulu. Bahkan tidak sedikit anak anak muda yang lebih tertarik dengan hal-hal yang viral daripada kegiatan tradisional yang ada di sekitar lingkungan mereka.
Namun, bukan berarti anak muda sudah meninggalkan tradisi Maulid Nabi. Justru kalau diperhatikan, masih ada banyak anak muda yang sampai saat ini ikut merayakan perayaan Maulid Nabi. Mereka datang ke masjid, ikut membawa makanan, ada yang menjadi tim hadrah, bahkan ada juga yang mengabdikan momen tersebut lewat media sosial mereka.
Media sosial bisa menjadi salah satu jembatan atau cara agar tradisi ini tetap akan bisa dikenal oleh generasi muda. Misalnya, kegiatan Maulid Nabi bisa dikemas dengan cara yang lebih menarik tanpa menghilangkan nilai nilai utamanya.
Anak muda bisa membuat konten tentang tradisi Maulid Nabi di daerahnya, menjelaskan maknanya, atau sekedar membagikan video suasana perayaannya. dengan begitu, tradisi yang awalnya hanya di ketahui oleh warga Madura saja, bisa dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Yang perlu untuk diperhatikan adalah jangan sampai Maulid Nabi ini hanya dikenal sebagai kegiatan yang hanya duduk saja, dan pulang membawa bingkisan. Di balik ramainya dan berbagai acara, ada nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang sebenarnya jauh lebih penting.
Menurutku, tradisi akan tetap bertahan kalau generasi muda merasa bahwa tradisi tersebut masih mempunyai arti bagi mereka. Tidak harus dilakukan sama persis seperti generasi generasi sebelumnya. Selama nilai dan maknanya tetap dijaga, perubahan justru bisa membuat tradisi menjadi lebih dekat dengan anak muda zaman sekarang.
Jadi, kesimpulannya apakah tradisi Maulid Nabi masih akan tetap kuat di generasi muda? Saya rasa masih bisa, bahkan sangat mungkin. Kuncinya adalah bukan memaksa anak muda untuk terus melakukan tradisi dengan cara yang lama, tetapi dengan memberikan ruang bagi mereka untuk ikut melestarikannya dengan cara mereka sendiri.
Karena kalau generasi muda ikut merasa memiliki, tradisi bukan cuma bertahan, tetapi juga terus bisa hidup dan berkembang di masa depan. (*)














