Dua Ton Sabu, Rakyat Ribut Soal Jaksa

- Jurnalis

Sabtu, 17 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik.

——-

IGA hari lalu, saya menulis artikel sederhana tentang narkoba dan gerbang kehancuran sosial di Madura. Tak ada teori rumit, hanya pengamatan jujur dari tanah yang makin akrab dengan narkoba, celurit, dan kematian.

Tapi entah mengapa, tulisan yang saya posting di TikTok itu diserbu jutaan penonton. Bukannya fokus pada isi, meski banyak yang membela, sebagian netizen justru ramai bertengkar, dari teori konspirasi, debat agama, sampai gosip tentang warna seragam TNI.

Padahal, saya hanya menuliskan bahwa narkoba merusak mental, merusak keluarga, dan mungkin tanpa kita sadari juga merusak fondasi kebangsaan.

Bukan tanpa data, semua di depan mata. Pada Selasa, 29 April 2025, sabu seberat 14,8 kg dan 8,3 kg hasil tangkapan BNNP dimusnahkan di Kabupaten Sampang. Tapi ya sudahlah, mungkin kita memang lebih suka debat dibanding tindakan.

Baca juga :  Membaca Arah, Mengeja Sejarah

Sementara itu, netizen ribut soal TNI jaga jaksa, dan perlahan dijawab oleh TNI AL yang diam-diam menangkap hampir 2 ton narkoba. Iya, dua ton, bukan dua sak beras. Ini bukan lemparan pabrik kecil, tapi pengiriman besar lintas negara.

Kapalnya dicegat di perairan Tanjung Balai Karimun oleh Koarmada I. Barang haram itu dikemas rapi dalam karung-karung kuning dan putih, seolah sedang mengirim bantuan pangan, padahal isinya racun pembunuh akal sehat.

“Iya benar, kita mengamankan hampir 2 ton narkotika jenis sabu-sabu,” ujar Laksda TNI Fauzi, Pangkoarmada I, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/5).

TNI tak banyak bicara. Mereka tak bikin podcast atau konten drama YouTube. Mereka tak rebutan mikrofon seperti politisi yang sok khawatir. Mereka hanya bekerja.

Tapi, publik masih ribut soal TNI mengawal jaksa. Ada yang menyindir seolah TNI jadi “bodyguard hukum”, ikut-ikutan jagain kejaksaan.

Baca juga :  Lapas Narkotika Kelas II-A Pamekasan Kedatangan Tim On-site Mentoring Pelaksanaan Rehabilitasi Tahun 2023

Padahal, bukankah lebih logis jika kita bertanya: “Kenapa jaksa sekarang sampai butuh dijaga?” Apa khawatir kehilangan mobil sitaan? Atau, karena koruptor kakap penuh ancaman?

Saya mendapat bisikan bahwa jaksa sedang membidik mafia tembok besi yang hanya bisa di tembus oleh tank TNI.

Kejahatan hari ini bukan hanya soal maling kosmetik yang diviralkan. Tapi koruptor berseragam, mafia tanah, mafia tambang, mafia BBM, dan yang terbaru, mafia narkoba, ini perang gaya baru yang juga membunuh jutaan generasi bangsa.

Lalu, kita masih merasa Indonesia baik-baik saja? Kalau lembaga penegak hukum harus dijaga tentara, itu bukan salah tentara. Itu cermin bahwa penjahat sudah tidak takut lagi pada hukum. Penjahat bisa pakai cara apapun, seperti yang di alami Novel Baswedan.

Dan, TNI datang bukan untuk gagah-gagahan. TNI tahu, jika negara sedang diserbu senjata pembunuh massal bernama korupsi dan senjata gaya baru bernama sabu-sabu.

Baca juga :  Jadi Budak Narkoba, Warga Pamekasan Terancam Hukuman Mati

Maka, sudah sewajarnya jika bagi TNI tak ada bedanya peluru dan pil sabu, sama-sama membunuh generasi secara massal.

Dua ton sabu berhasil dicegat oleh TNI. Tapi di medsos, yang viral justru debat kusir soal politik, jenderal, dan jaksa.

Mungkin kita memang lebih cocok jadi komentator tanpa kita sadari bahwa anak cucu kita, tetangga kita sudah hidup setengah jiwa.

Akhirnya tentara sibuk mencegat racun, dan kita masih sibuk menyebar racun berupa opini negatif terhadap TNI.

Lalu, ketika kelak anak-anak kita hidup tanpa empati dan budi pekerti, akibat dari berton-ton sabu yang lolos, kita akan menyesal, tapi mungkin masih sempat membuat status: “Kenapa dulu kita malah ribut soal seragam, bukan soal narkoba?” (*)

Berita Terkait

Teks, Konteks, dan Antiklimaks
Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Menjadikan Jurnalis Adaptif dan Independen 
MH Said Abdullah Sang Mentor Sejati
Membaca Arah, Mengeja Sejarah
May Day 2026: Mengakhiri Ketidakadilan Bagi Buruh Perempuan
Mono Nakoda, Multi ABK
Madura Menuju KEK Tembakau, Mungkinkah Terwujud?
Hermeneutika Bangsa Dasamuka

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:37 WIB

Teks, Konteks, dan Antiklimaks

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:36 WIB

Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Menjadikan Jurnalis Adaptif dan Independen 

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:35 WIB

MH Said Abdullah Sang Mentor Sejati

Jumat, 1 Mei 2026 - 00:58 WIB

Membaca Arah, Mengeja Sejarah

Kamis, 30 April 2026 - 12:52 WIB

May Day 2026: Mengakhiri Ketidakadilan Bagi Buruh Perempuan

Berita Terbaru

Ketua Satgas MBG Pamekasan, H. Sukriyanto berbincang dengan para pengurus PMMKP di Desa Mapper, Kecamatan Proppo, Pamekasan. (ISTIMEWA)

Pamekasan

PMMKP Konsolidasi Pengurus, Perkuat Pengawasan Program MBG

Rabu, 13 Mei 2026 - 02:16 WIB