Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura sekaligus Pengurus PW Ansor Jawa Timur.
******
MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), satu pertanyaan penting patut diajukan. Apa yang sesungguhnya telah berubah selama KH Yahya Cholil Staquf memimpin PBNU?
Sejarah organisasi besar tidak pernah ditulis oleh hiruk-pikuk perebutan jabatan. Sejarah selalu mencatat gagasan, keberanian mengambil keputusan, dan jejak perubahan yang ditinggalkan seorang pemimpin.
Karena itu, menjelang Muktamar PBNU, yang layak dibaca bukan sekadar peta dukungan atau kemungkinan kandidat. Yang lebih penting adalah membaca warisan yang telah dibangun selama masa kepemimpinan Gus Yahya.
Ketika terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada penghujung 2021, Gus Yahya menerima amanah dalam situasi yang tidak mudah. Dunia sedang berusaha bangkit dari pandemi sementara perubahan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak organisasi untuk beradaptasi.
NU juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Organisasi terbesar di Indonesia itu dituntut tetap menjaga tradisi sekaligus mampu menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah.
Dalam situasi seperti itu, banyak pemimpin biasanya memilih agenda yang terlihat megah di permukaan. Gus Yahya justru memilih bekerja dari fondasi yang selama ini jarang mendapat perhatian.
Ia berbicara tentang konsolidasi organisasi, digitalisasi, tata kelola, integrasi data, pendidikan, ekonomi, hingga diplomasi global. Tema-tema yang mungkin tidak terdengar populer, tetapi justru menjadi kunci keberlangsungan organisasi pada masa depan.
Dalam teori organisasi modern yang dikembangkan James March dan Herbert Simon, organisasi besar tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada karisma seorang pemimpin. Keberlanjutan hanya dapat dicapai ketika sistem yang kuat mampu bekerja melampaui pergantian figur.
Barangkali di sinilah letak lompatan besar yang sedang dibangun Gus Yahya. Ia tidak sekadar mengelola organisasi, tetapi berusaha memperkuat mesin yang menggerakkan organisasi itu sendiri.
Program digitalisasi melalui DIGDAYA NU menjadi salah satu contoh nyata. Untuk pertama kalinya, PBNU berupaya membangun sistem data yang terintegrasi agar pelayanan organisasi dapat berjalan lebih efektif dan terukur.
Bagi sebagian orang, digitalisasi mungkin hanya terlihat sebagai urusan teknologi. Padahal yang sedang dibangun sesungguhnya adalah fondasi manajemen organisasi yang modern dan akuntabel.
Kisah seperti ini pernah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Banyak orang mengenang keberanian Umar di medan perjuangan, tetapi para sejarawan justru mencatat bagaimana ia membangun sistem administrasi pemerintahan yang tertata sehingga peradaban Islam mampu berkembang jauh setelah dirinya wafat.
Pedang dapat memenangkan pertempuran. Namun sistem yang baik akan memenangkan masa depan.
Jejak semacam itulah yang tampak dalam kepemimpinan Gus Yahya. Ia berusaha memastikan bahwa kebesaran NU tidak hanya bertumpu pada jumlah pengikut, tetapi juga pada kekuatan kelembagaan.
Pada saat yang sama, NU juga semakin aktif memainkan peran global. Melalui gagasan Humanitarian Islam, Gus Yahya membawa pesan bahwa Islam dapat menjadi solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan dunia.
Di tengah konflik yang terus bermunculan dan meningkatnya polarisasi antarbangsa, pendekatan tersebut menjadi relevan. NU tidak lagi hanya berbicara kepada warga nahdliyin, tetapi juga kepada komunitas internasional.
Langkah ini mengingatkan pada sosok Abdurrahman bin Auf. Sahabat Nabi Muhammad SAW itu tidak dikenal karena banyak berbicara, melainkan karena kontribusinya yang nyata bagi masyarakat.
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman tidak meminta fasilitas istimewa. Ia memilih membangun kemandirian dan menghadirkan manfaat yang dirasakan banyak orang.
Prinsip itulah yang tampaknya menjadi ruh berbagai program PBNU. Organisasi tidak cukup hanya hadir sebagai simbol, tetapi harus mampu memberikan kemaslahatan yang nyata.
Karena itu, Gus Yahya mendorong Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama sebagai salah satu program prioritas. Fokusnya sederhana, yakni memperkuat keluarga melalui pendidikan, kesehatan, dan ketahanan ekonomi.
Namun kesederhanaan itu justru menyimpan makna yang sangat besar. Sebab keluarga adalah titik awal lahirnya peradaban.
Sosiolog Talcott Parsons menjelaskan bahwa keluarga merupakan institusi paling penting dalam menjaga stabilitas sosial. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan tumbuh kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, memperkuat keluarga sejatinya sama dengan memperkuat masa depan bangsa. Program ini mungkin tidak menghasilkan sorak-sorai politik, tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pada sektor pendidikan, PBNU juga mendorong pembenahan perguruan tinggi NU agar lebih adaptif terhadap perkembangan global. Langkah tersebut menunjukkan kesadaran bahwa masa depan organisasi ditentukan oleh kualitas generasi penerus yang dipersiapkan hari ini.
NU selama ini dikenal memiliki basis massa yang besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan kebesaran itu ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Sementara di bidang ekonomi, PBNU terus mendorong penguatan kemandirian warga NU. Upaya tersebut menjadi penting karena organisasi yang kuat membutuhkan masyarakat yang mandiri dan berdaya secara ekonomi.
Tentu saja tidak semua langkah Gus Yahya berjalan tanpa kritik. Organisasi sebesar NU selalu memiliki dinamika dan perbedaan pandangan yang menjadi bagian dari kehidupan demokratis.
Namun jika seluruh perjalanan kepemimpinan ini dilihat secara utuh, tampak satu benang merah yang sulit dibantah. Gus Yahya sedang menggeser orientasi NU dari kebesaran simbolik menuju kekuatan institusional.
Ia ingin NU tidak hanya dikenal sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Ia juga ingin NU menjadi organisasi yang modern, tertata, berpengaruh, dan relevan dalam menjawab tantangan abad baru.
Menjelang Muktamar PBNU, capaian tersebut layak menjadi bahan perenungan bersama. Bukan untuk mengultuskan seseorang, melainkan untuk membaca arah perjalanan organisasi yang akan menentukan masa depannya.
Sebab kepemimpinan sejati tidak diukur dari banyaknya pidato yang disampaikan. Kepemimpinan diukur dari seberapa kuat fondasi yang ditinggalkan ketika masa jabatan berakhir.
Empat tahun terakhir menunjukkan bahwa Gus Yahya tidak sekadar memimpin NU menjalani rutinitas organisasi. Ia sedang menyiapkan lompatan besar agar Nahdlatul Ulama tetap menjadi kekuatan keagamaan, sosial, intelektual, dan kemanusiaan yang diperhitungkan dunia pada abad keduanya. Maaf. (*)













