SAMPANG || KLIKMADURA – Musim panen tembakau di sejumlah wilayah Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, belum diikuti ramainya aktivitas tengkulak.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani mulai cemas, terutama mereka yang mengandalkan penjualan daun tembakau dalam kondisi mentah langsung dari lahan.
Di sejumlah desa, petani mengaku masih minim pembeli yang datang ke areal pertanian. Padahal, tanaman tembakau mulai memasuki ukuran yang biasanya menjadi waktu bagi tengkulak dari Pamekasan maupun daerah lain untuk mencari hasil panen.
Bagi petani yang terbiasa menjual tembakau tanpa melalui proses pengeringan, waktu menjadi salah satu faktor penting. Daun yang semakin tua berpotensi mengalami penurunan harga, terlebih apabila tanaman terkena hujan sebelum terserap pasar.
Wasil, warga Desa Taman Sareh, Kecamatan Sampang, mengatakan sepinya tengkulak bukan hanya terjadi tahun ini. Kondisi serupa, kata dia, juga dirasakan sejak musim sebelumnya.
“Biasanya kalau ukuran tembakau sudah segini banyak tengkulak dari Pamekasan atau daerah lain yang datang mencari tembakau, tapi dari tahun kemarin tengkulak sepi,” ujar Wasil.
Menurutnya, keterlambatan pembeli membuat petani berada dalam posisi sulit. Tanaman yang terlalu lama dibiarkan di lahan berisiko mengalami penurunan nilai jual, sementara biaya produksi sudah lebih dahulu dikeluarkan.
“Kalau semakin tua nanti harga makin turun dan akhirnya harus dijual rugi, padahal untuk modal menanam saja banyak warga yang masih berhutang,” tambahnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Mudani, warga lainnya. Pengalaman musim sebelumnya masih membekas ketika tengkulak baru datang saat kondisi tembakau sudah terlalu tua.
Mudani menyebut biaya yang dikeluarkan petani untuk menggarap satu petak tembakau dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta. Namun, minimnya serapan membuat hasil penjualan pada musim sebelumnya tidak mampu menutup biaya produksi tersebut.
“Tahun kemarin dalam satu petak saya bisa habis Rp5 sampai Rp6 juta, tapi karena sepi tengkulak jadi harus dijual rugi. Bahkan dalam satu petak hanya bisa dijual Rp1,5 juta, bahkan ada yang tidak sampai satu juta satu petak,” kata Mudani.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani kini memilih menunggu kepastian pembeli sembari memantau perkembangan tanaman di lahan. Semakin lama tembakau tertahan, semakin besar kekhawatiran terhadap kualitas dan harga jual hasil panen.
Bagi petani yang menggantungkan pendapatan dari satu musim tanam, hasil penjualan tembakau bukan sekadar soal keuntungan. Pendapatan dari panen juga menjadi sumber untuk menutup biaya produksi dan kewajiban modal yang telah dikeluarkan selama masa tanam. (ali/nda)














