TKM Pamekasan Merosot, Masuk Empat Daerah Terendah di Jatim

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengunjung sedang membaca buku di Perpustakaan Daerah Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA)

Pengunjung sedang membaca buku di Perpustakaan Daerah Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Kabupaten Pamekasan mengalami penurunan cukup signifikan. Skor TKM yang pada 2024 mencapai 62,2 poin, turun menjadi 55,96 poin pada 2025 atau berkurang 6,24 poin.

Penurunan tersebut turut membuat posisi Pamekasan dalam pemeringkatan TKM Jawa Timur merosot. Jika pada 2024 berada di peringkat ke-30, Pamekasan turun ke posisi ke-35 dari 38 kabupaten/kota pada 2025, sekaligus menempatkannya sebagai daerah dengan TKM terendah keempat di Jawa Timur.

Di tingkat Madura, posisi Pamekasan juga mengalami kemunduran. Dari sebelumnya berada di peringkat ketiga pada 2024, Pamekasan pada 2025 justru menjadi daerah dengan TKM terendah di Pulau Garam.

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Pamekasan Kusairi mengatakan, hasil tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan perubahan metodologi pengukuran TKM pada 2025. Menurutnya, perubahan tersebut cukup signifikan, termasuk dalam proses penentuan dan pengambilan sampel responden.

“Perubahan metodologi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca hasil TKM 2025. Bahkan, terdapat persoalan dalam proses pengambilan sampel responden di daerah. Tahun 2025 dan tahun-tahun sebelumnya itu terdapat banyak perubahan. Bisa dikatakan diubah total oleh Perpustakaan Nasional,” ungkap Kusairi.

Baca juga :  Bukan Sekadar Hobi, Merpati Gingging Dibidik Jadi Ikon Kebanggaan Sumenep

Ia menjelaskan, pada tahap awal Pamekasan mendapat informasi mengenai kebutuhan sekitar 400 responden. Namun setelah dilakukan seleksi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, sebagian responden dinilai bias sehingga diperlukan tambahan sampel.

Persoalan muncul ketika pihaknya hendak melakukan pengambilan sampel tambahan. Saat itu, tautan kuesioner yang disediakan sudah ditutup sehingga pengambilan sampel tambahan tidak dapat dilakukan.

Kondisi tersebut, kata Kusairi, diduga berpengaruh terhadap jumlah sampel Pamekasan yang tidak memenuhi target, sementara jumlah pembagi dalam penghitungan tetap sama.

“Sehingga itu akan berdampak terhadap hasil. Kami sifatnya hanya menyampaikan, ini link-nya silakan diisi. Kami tidak tahu masyarakat yang mengisi itu ada kendala, selesai terkirim atau tidak,” kata Kusairi.

Baca juga :  Komitmen Bupati Pertegas Identitas Pamekasan Kota Pendidikan, Gagas Pembelajaran Berbasis Alam

Perubahan juga terjadi pada penentuan titik sampel. Kusairi menyebut, pengukuran TKM sebelumnya dilakukan secara lebih terpusat dengan melibatkan perpustakaan provinsi dan konsultan dari Universitas Airlangga (UNAIR), sehingga proses pengumpulan data dan penghitungan relatif lebih mudah dipantau.

”Sementara pada 2025, sejumlah perubahan membuat pemerintah daerah tidak memiliki akses penuh terhadap proses pengumpulan data,” tegasnya.

Meski demikian, Kusairi mengakui capaian TKM Pamekasan secara angka masih tergolong rendah. Namun, menurut dia, angka tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai gambaran rendahnya minat masyarakat terhadap aktivitas membaca.

Ia menyebut DPK Pamekasan sebelumnya pernah melakukan kajian yang menunjukkan angka minat baca masyarakat berada di kisaran 90 persen. Karena itu, ia menilai perlu dibedakan antara indikator minat baca dengan TKM yang digunakan dalam pemeringkatan.

“Cuma yang dipakai oleh pusat adalah TKM-nya. Jadi, minat baca itu bagian dari TKM. Jadi orang melihat buku, senang membaca, dan itu memang relate dengan kondisi di lapangan,” ungkapnya.

Baca juga :  Ketua DPRD Pamekasan Serius Perjuangkan KEK Tembakau dan SKM Golongan III

Sementara itu, Relawan Penggerak Compok Literasi Pamekasan M. Arinal Haqil Ghifari menilai, komunitas literasi perlu mendapat informasi yang lebih terbuka mengenai mekanisme pengumpulan data TKM. Sebab, pegiat literasi di daerah mengaku tidak mengetahui secara detail proses pengambilan data dan penentuan responden tersebut.

Menurut Ari, pelibatan komunitas penting agar pemerintah dan pegiat literasi memiliki pemahaman yang sama terhadap indikator serta proses pengukuran TKM. Dengan demikian, data yang dihasilkan dapat menjadi pijakan bersama untuk menyusun program peningkatan literasi di Pamekasan.

“Minimalnya disosialisasikan kepada kami bagaimana cara kerja pengambilan data untuk TKM tersebut, sehingga apa yang dikolaborasikan antara pemerintah dengan komunitas bisa selaras,” katanya.

Kemudian, ketika ada alat ukur seperti ini menjadi suatu yang urgent bagi kami, kalau tidak ada kolaborasi sebelumnya iya kami tidak tahu menahu perihal tersebut. (enk/nda)

Berita Terkait

Peringati HLN ke-81, PLN UP3 Madura Bantu Warga Pamekasan Hadapi Krisis Air Bersih
Diduga Cabuli Santri Berulang Kali, Guru Madrasah di Pamekasan Dilaporkan ke Polisi
Arogansi SDIT Al-Uswah terhadap Dua Karyawan, Dikeluarkan dari Grup WA Tanpa Sebab Lalu Dipecat
Disangka Boneka, Ternyata Mayat MrX Tergeletak Membusuk di Ladang Petani Pamekasan
Penanganan 917 Bal Rokok Marbol KW Tak Jelas, Aktivis Hadiahi Bea Cukai Madura “Tolak Angin”
Membanggakan! 14 Siswa Pamekasan Borong Prestasi di Ajang FTBI Jatim
UNIRA Raih Hibah Program Kampus Berdampak Rp2 Miliar, Rektor Tegaskan Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan
849 Mahasiswa Diwisuda, Rektor UNIRA Minta Para Sarjana Harus Berdampak bagi Masyarakat

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:34 WIB

Peringati HLN ke-81, PLN UP3 Madura Bantu Warga Pamekasan Hadapi Krisis Air Bersih

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Diduga Cabuli Santri Berulang Kali, Guru Madrasah di Pamekasan Dilaporkan ke Polisi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Arogansi SDIT Al-Uswah terhadap Dua Karyawan, Dikeluarkan dari Grup WA Tanpa Sebab Lalu Dipecat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Disangka Boneka, Ternyata Mayat MrX Tergeletak Membusuk di Ladang Petani Pamekasan

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:33 WIB

Penanganan 917 Bal Rokok Marbol KW Tak Jelas, Aktivis Hadiahi Bea Cukai Madura “Tolak Angin”

Berita Terbaru

Opini

Sumpah Pemuda: Sumpah Generasi Muda Mutatis Mutandis

Selasa, 27 Okt 2026 - 14:54 WIB