PAMEKASAN || KLIKMADURA – Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi perhatian serius Puskesmas Panaguan, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Tercatat sebanyak 38 ibu hamil di wilayah kerja puskesmas tersebut mengalami KEK dan membutuhkan penanganan khusus.
Pelaksana Gizi Puskesmas Panaguan Pamekasan, Yayan Sumarjianto, menjelaskan KEK pada ibu hamil umumnya berkaitan dengan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, terutama protein dan energi.
Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi selama kehamilan menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang janin.
Menurut Yayan, ibu hamil membutuhkan tambahan energi sekitar 300 kalori. Pemenuhan tersebut harus berasal dari berbagai sumber gizi, mulai dari sumber tenaga, protein, vitamin, hingga mineral.
“Semua ini penting tapi yang lebih penting yakni protein hewani yang itu harus dikonsumsi selama masa kehamilan, karena masa-masa itu dinamakan golden periode yang dimulai sejak 0 bulan awal kehamilan hingga anak usia dua tahun,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode penting bagi perkembangan otak dan pertumbuhan anak. Pemenuhan gizi pada periode tersebut juga menjadi salah satu upaya penting dalam mencegah stunting.
Sebab, setelah anak berusia dua tahun, perkembangan dan pertumbuhannya tidak sepesat pada periode sebelumnya. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun perlu menjadi perhatian.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Puskesmas Panaguan menemukan 38 ibu hamil mengalami KEK. Setelah ditelusuri, salah satu faktor yang masih ditemukan adalah kepercayaan terhadap mitos makanan di tengah masyarakat.
Salah satunya anggapan bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu banyak mengonsumsi makanan laut karena dikhawatirkan membuat ukuran bayi menjadi terlalu besar. Padahal, makanan sumber protein hewani justru dibutuhkan selama kehamilan.
“Padahal itu salah besar, protein hewani ini sangat penting,” kata pria yang akrab disapa Yayan tersebut.
Untuk mengetahui kondisi KEK pada ibu hamil, salah satu indikator yang digunakan adalah pengukuran lingkar lengan atas (LiLA). Apabila hasil pengukuran lengan kiri atas kurang dari 23,5 sentimeter, ibu hamil tersebut masuk kategori KEK dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selain pemantauan status gizi, Puskesmas Panaguan juga memiliki program pemeriksaan Antenatal Care (ANC) bagi seluruh ibu hamil. Pemeriksaan tersebut dilakukan minimal enam kali selama masa kehamilan.
Rinciannya, pemeriksaan dilakukan dua kali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga.
“Jadi, di total selama 9 bulan itu diperiksa enam kali ANC-nya,” ujar Yayan.
Sementara itu, Koordinator Pelayanan Gizi Masyarakat Puskesmas Panaguan Pamekasan, M. Rizqi, menambahkan bahwa ibu hamil juga perlu mendapatkan tablet tambah darah selama masa kehamilan. Dalam program yang berjalan, ibu hamil ditargetkan mengonsumsi 90 tablet tambah darah selama sembilan bulan.
Selain itu, Kementerian Kesehatan RI juga telah meluncurkan Multiple Micronutrient Supplement (MMS), yakni suplemen multivitamin dan mineral untuk ibu hamil yang mengandung sejumlah zat gizi penting, seperti zat besi, asam folat, yodium, serta vitamin A, C, dan D.
Menurut Rizqi, faktor KEK tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Kondisi psikologis, paparan asap rokok dari suami, serta aktivitas ibu hamil yang terlalu berat juga dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Juga selain asupan gizi, pengelolaan stres, suami merokok juga aktivitas bumil yang terlalu berlebihan juga menjadi faktor KEK. Makanya bumil dan ibu menyusui itu perlu mendapatkan support dari orang terdekat khususnya suami,” pungkasnya. (enk/nda)














