PAMEKASAN || KLIKMADURA – Angka kematian ibu dan anak pasca persalinan di Kabupaten Pamekasan masih menjadi perhatian serius. Setiap tahun, kasus kematian ibu dan bayi masih ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan (faskes).
Berdasarkan data yang dihimpun Klik Madura, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 17 kasus kematian ibu dan anak. Sementara pada tahun 2026 hingga saat ini sudah terdapat lima kasus yang tersebar di sejumlah faskes.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPRD Pamekasan Ali Masykur menilai persoalan tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, perlu dilakukan kajian menyeluruh terkait faktor penyebab kematian ibu dan bayi.
“Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan. Kita harus mengkaji bersama faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kematian ibu dan anak,” kata politisi PPP tersebut.
Ali Masykur menegaskan, seluruh fasilitas kesehatan, baik tingkat pertama seperti puskesmas maupun faskes rujukan seperti rumah sakit, harus mengetahui secara detail kondisi pasien, khususnya ibu hamil yang akan menjalani persalinan.
Langkah tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk meminimalkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Pamekasan.
Ia menjelaskan, berdasarkan sejumlah kasus yang terjadi, penyebab kematian ibu masih didominasi oleh hipertensi dan perdarahan. Karena itu, tenaga kesehatan (nakes) diharapkan memahami secara menyeluruh riwayat kesehatan atau rekam medis pasien sebelum proses persalinan dilakukan.
“Persalinan harus dilakukan sesuai dengan kompetensi rumah sakit dan standar ilmu kesehatan,” tegasnya.
Selain meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, Ali Masykur juga menilai edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa kehamilan.
Ia berharap seluruh pihak dapat berperan aktif dalam menekan angka kematian ibu dan anak di Pamekasan.
Sebagai langkah nyata atas kepedulian terhadap tingginya kasus kematian ibu dan anak, DPRD Pamekasan berencana memanggil seluruh pengelola faskes untuk koordinasi dan evaluasi. Harapannya, angka kematian ibu dan anak bisa ditekan.
“Semua harus terlibat aktif, mulai dari Dinas Kesehatan, puskesmas, rumah sakit hingga masyarakat. Kesadaran terhadap kesehatan ibu hamil harus terus ditingkatkan,” pungkasnya. (enk/nda)














