PAMEKASAN || KLIKMADURA – Penanganan kasus penyegelan SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan terus bergulir. Dua guru sekolah tersebut memenuhi panggilan penyidik Satreskrim Polres Pamekasan untuk dimintai keterangan sebagai saksi, Senin (15/6/2026).
Pemeriksaan dilakukan sebagai tindak lanjut atas pengaduan masyarakat (dumas) yang diajukan pihak SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan sejak Kamis (14/5/2026) lalu.
Dua saksi yang diperiksa yakni Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Abdur Rosi, dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ibnul Fadili. Keduanya menjalani pemeriksaan di Unit IV Satreskrim Polres Pamekasan mulai pukul 09.00 WIB hingga 11.30 WIB.
Abdur Rosi mengatakan, materi pemeriksaan berfokus pada kronologi peristiwa penyegelan yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Pemanggilan hari ini mengenai penyegelan di sekolah kami. Pertanyaannya hanya meliputi kronologi kejadian dari penyegelan itu,” ujarnya usai menjalani pemeriksaan.
Menurut dia, penyidik mengajukan sekitar 10 pertanyaan yang seluruhnya berkaitan dengan peristiwa penyegelan. Proses pemeriksaan berlangsung lancar dan tidak keluar dari pokok perkara yang sedang ditangani.
“Semua pertanyaan seputar kronologi kejadian. Pemeriksaannya berjalan lancar dan kooperatif,” katanya.
Rosi menjelaskan, dampak penyegelan masih dirasakan oleh seluruh civitas sekolah. Sebanyak 90 siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring. Namun saat ini para siswa tengah menjalani masa libur setelah menyelesaikan ujian akhir.
“Ujian di sekolah kami sudah selesai. Apalagi sekarang permasalahan di sekolah kami belum selesai, jadi para siswa diliburkan dulu,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi apabila penyelesaian perkara berlangsung cukup lama, pihak sekolah mulai menyiapkan alternatif lokasi pembelajaran dengan meminjam gedung lain.
Meski demikian, para guru berharap aktivitas pendidikan dapat kembali berlangsung di gedung sekolah yang berada di Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel, Pamekasan.
“Kami berharap masalah ini segera selesai dan sekolah bisa kembali dibuka. Kasihan para murid, mereka tentu tidak ingin persoalan ini berlarut-larut,” tandasnya. (enk/nda)













