Antrean Digital Amburadul, Ironi “War” Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran

- Jurnalis

Rabu, 25 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi penukaran uang. (ISTIMEWA)

Ilustrasi penukaran uang. (ISTIMEWA)

Oleh: Deaz Terengganu, SH.

****

SETIAP menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi berbagi uang baru selalu menjadi momen yang dinanti. Namun tahun ini, pengalaman saya sebagai masyarakat yang ikut “war” penukaran uang baru melalui situs resmi Bank Indonesia justru menghadirkan ironi.

Secara konsep, sistem penukaran online yang dikelola Bank Indonesia patut diapresiasi. Digitalisasi seharusnya membuat proses lebih tertib, transparan, dan adil.

Masyarakat tidak perlu lagi antre panjang secara fisik. Cukup daftar, pilih lokasi, datang sesuai jadwal, dan selesai. Namun praktik di lapangan berkata lain.

Saya sendiri mengalami langsung bagaimana waktu tunggu yang tertera 30 menit bisa molor menjadi tiga jam. Bahkan akses ke website justru relatif longgar pada tengah malam waktu yang jelas tidak ideal bagi mayoritas masyarakat.

Baca juga :  Mono Nakoda, Multi ABK

Ironisnya, setelah berhasil masuk pun persoalan belum selesai. Titik lokasi penukaran yang dipilih kerap tidak muncul atau mendadak tidak tersedia. Proses yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjuangan penuh frustrasi.

Ketidaksesuaian antara informasi waktu tunggu dan realitas sistem menunjukkan ada problem serius pada kapasitas server, manajemen trafik, atau desain antrian digitalnya.

Jika sistem mencantumkan estimasi 30 menit, maka publik berhak mendapatkan kepastian mendekati angka tersebut. Ketika realisasinya berjam-jam, kepercayaan publik ikut tergerus.

Dampaknya tidak berhenti pada keluhan teknis. Kelangkaan akses penukaran resmi memicu lonjakan jasa penukaran uang baru nonresmi. Praktik ini memang bukan hal baru, tetapi tahun ini terasa lebih masif.

Baca juga :  Control Freak dan Harakiri Kebudayaan

Biaya jasa melonjak drastic satu bendel pecahan Rp100.000 bisa dikenakan biaya hingga Rp35.000, sementara satu bendel Rp500.000 jasanya menembus Rp80.000. Selisih yang cukup signifikan, apalagi bagi masyarakat kecil yang ingin berbagi dalam jumlah terbatas.

Di sinilah paradoksnya. Negara sudah menyediakan jalur resmi, tetapi hambatan sistem justru membuka ruang ekonomi rente musiman.

Masyarakat yang tidak punya waktu “begadang” atau tidak cukup sabar menghadapi sistem yang amburadul akhirnya memilih jalur instan dengan biaya tambahan. Pada titik ini, efisiensi yang dijanjikan digitalisasi justru berbalik menjadi beban tambahan.

Baca juga :  Sapi Kurban dan CSR BUMN

Saya memang akhirnya berhasil mendapatkan slot penukaran setelah menunggu berjam-jam. Namun keberhasilan personal tidak menghapus fakta bahwa sistem ini masih perlu evaluasi menyeluruh. Jangan sampai akses terhadap layanan publik terasa seperti perlombaan kecepatan internet dan keberuntungan jam login. (*)

Berita Terkait

Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita
Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol
Belajar Berserah di Padang Arafah
Madura Tidak Pernah Tamat
Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku
Kuasa dan Onanisme Republik
Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional
Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 05:32 WIB

Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita

Selasa, 26 Mei 2026 - 04:49 WIB

Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol

Senin, 25 Mei 2026 - 11:21 WIB

Belajar Berserah di Padang Arafah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:42 WIB

Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 03:03 WIB

Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku

Berita Terbaru

Catatan Pena

Tentang Cinta, Iman, dan Qurban

Rabu, 27 Mei 2026 - 02:39 WIB