Meluruskan Polemik Bantuan Rp2 Miliar, Bang Ali: Bapak Arif Guru Saya, Ini Hanya Miskomunikasi

- Jurnalis

Minggu, 12 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Founder Bani Insan Peduli (BIP) Ali Zainal Abidin saat menyampaikan keterangan pers. (KLIKMADURA)

Founder Bani Insan Peduli (BIP) Ali Zainal Abidin saat menyampaikan keterangan pers. (KLIKMADURA)

SURABAYA || KLIKMADURA – Tidak semua orang memilih mengenang orang tua dengan cara yang sama. Ada yang mengabadikan nama mereka di batu nisan, ada yang menyimpannya dalam doa, dan ada pula yang menghadirkannya dalam setiap jejak kebaikan yang terus hidup di tengah masyarakat.

Jalan terakhir itulah yang dipilih Founder Yayasan Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin. Bagi pria yang akrab disapa Bang Ali itu, nama ayah dan ibunya bukan sekadar rangkaian huruf yang layak dikenang, melainkan doa yang ingin terus mengalir melalui setiap program kemanusiaan yang dijalankan yayasan yang ia dirikan.

Di tengah polemik penyaluran bantuan sosial senilai Rp2 miliar kepada Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo, Bang Ali justru mengajak semua pihak melihat persoalan dari sisi yang lebih dalam. Yakni, tentang bakti seorang anak kepada orang tua yang telah tiada.

Dalam silaturahmi bersama awak media di Surabaya, Minggu (12/7/2026), ia menegaskan bahwa Yayasan Bani Insan Peduli tidak pernah berniat membatalkan bantuan yang telah direncanakan sejak program BIP Tour Jatim beberapa bulan lalu.

Menurutnya, penghentian proses justru berasal dari permintaan pihak penerima yang menilai terdapat ketidaksesuaian dengan standar operasional prosedur (SOP).

Baca juga :  Rayakan HUT ke-125, PT. Pegadaian Syariah Santuni 560 Anak Yatim dan Dhuafa

Namun, bagi Bang Ali, persoalan tersebut tidak semestinya menghapus semangat utama yang sejak awal menjadi ruh gerakan BIP. Yakni, menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ia kemudian menjelaskan alasan mengapa nama mendiang kedua orang tuanya kerap disematkan pada fasilitas yang dibangun atau dibiayai sepenuhnya oleh BIP.

“Salahkah saya jika menyarankan nama mendiang ibunda dan ayahanda pada beberapa tempat yang kami bantu sepenuhnya? Karena ini adalah bagian dari bakti saya sebagai seorang anak. BANI itu sendiri artinya Bakti Anak Nurani Ibu,” tuturnya.

Kalimat itu lahir bukan sebagai pembelaan, melainkan sebagai ungkapan kerinduan seorang anak yang merasa belum pernah selesai berbakti kepada orang tuanya.

Baginya, setiap bangunan yang berdiri, setiap ruang belajar yang digunakan anak-anak menghafal Al-Qur’an, setiap mushalla yang menjadi tempat bersujud, hingga setiap dapur yang menyiapkan makanan untuk mereka yang membutuhkan, merupakan ladang pahala yang diharapkan terus mengalir kepada kedua orang tuanya.

Karena itulah, penyematan nama bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah simbol cinta seorang anak yang ingin menghadiahkan amal jariyah kepada orang-orang yang telah membesarkannya.

Baca juga :  PKB Dapil Madura Bertabur Bintang, Incar Tiga Kursi DPRD Jatim

Jejak itu kini tersebar di berbagai daerah. Ada Istana Tahfidz Ainun Bani di Majalengka, Dapur Ainun di Cirebon, Asrama Tahfidz Ainun Bani di Pacet, Sidoarjo, Masjid BANI di Lamongan, Asrama Umar Syarif di Wonoagung Pondok Rimba, hingga Mushalla Ainun Bani di Badur, Sumenep.

Di balik setiap nama, terdapat cerita tentang kepedulian yang diwujudkan bukan hanya melalui bantuan sesaat, tetapi lewat pembangunan fasilitas yang terus dimanfaatkan masyarakat.

Bang Ali juga menjelaskan bahwa bantuan Rp2 miliar kepada Griya Lansia sejatinya dirancang disalurkan secara bertahap dan sebagian dalam bentuk barang. Karena itu, ia mengaku terkejut ketika tiba-tiba diminta mengirimkan nomor rekening yayasannya.

Meski demikian, ia memilih untuk tidak membalas polemik dengan kemarahan. Sebaliknya, ia mengajak seluruh relawan BIP tetap tenang, tidak memperpanjang perdebatan di ruang publik, dan tetap fokus pada misi kemanusiaan yang selama ini menjadi napas perjuangan yayasan.

Sikap itu juga terlihat dari cara Bang Ali memandang Ketua Yayasan Griya Lansia, Arif Camra. Alih-alih melontarkan kritik, ia justru menyebut sosok tersebut sebagai gurunya.

“Bapak Arif itu guru saya. Saya perlu banyak belajar kepada beliau. Hanya ada sedikit miskomunikasi saja,” ujarnya.

Baca juga :  Serius Kawal Kasus Pengrusakan Mangrove, Nelayan Pamekasan Minta Pendampingan GMNI Jatim

Penghormatan itu menunjukkan bahwa bagi Bang Ali, perbedaan pandangan tidak harus memutus tali silaturahmi. Ia memilih membuka ruang dialog, menjaga adab, dan berharap komunikasi tetap berjalan demi kepentingan yang jauh lebih besar, yakni kesejahteraan para lansia dan anak-anak yatim.

Di akhir pernyataannya, Bang Ali menyampaikan satu pesan sederhana yang menjadi pegangan hidupnya. Yakni, menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk bersabar dan memaafkan.

Sebab baginya, kemanusiaan tidak hanya diukur dari besarnya bantuan yang diberikan, tetapi juga dari keluasan hati dalam menyikapi perbedaan.

Pada akhirnya, mungkin yang akan dikenang bukanlah polemik yang pernah terjadi. Melainkan jejak-jejak kebaikan yang terus hidup di masjid, mushalla, asrama tahfidz, dapur umum, dan berbagai tempat yang menjadi saksi bahwa ada seorang anak yang memilih mengabadikan cinta kepada orang tuanya melalui pelayanan kepada sesama.

Karena sejatinya, bakti kepada orang tua tidak selalu berakhir ketika mereka berpulang. Ada yang memilih melanjutkannya lewat doa.

Dan ada pula yang memilih menghadirkannya dalam setiap langkah kemanusiaan yang terus memberi manfaat bagi banyak orang. (*)

Berita Terkait

Siap Pimpin DPC PKB Sampang, Buya Alyadi Mustofa Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan
Rayakan HUT ke-125, PT. Pegadaian Syariah Santuni 560 Anak Yatim dan Dhuafa
Dukung Madura Provinsi, Akhmad Makruf Ingatkan Elite Move On dari Ketergantungan APBN
Terseret Korupsi BSPS Sumenep, Tenaga Ahli Mantan Anggota DPR RI Masuk Bui
Dinilai Lecehkan Kiai dan Pondok Pesantren, GP Ansor Jatim Resmi Laporkan Trans7 ke Polda Jatim
UNISSULA-PERDESTI Berkolaborasi, Siap Jadi Pusat Inovasi Estetika Medis di Indonesia
Jelang Demo 3 September, Forum Intelektual Jatim Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas
LBH PW GP Ansor Jatim Ultimatum Pihak yang Halangi Pengusutan Kematian M. Alfan

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:53 WIB

Meluruskan Polemik Bantuan Rp2 Miliar, Bang Ali: Bapak Arif Guru Saya, Ini Hanya Miskomunikasi

Jumat, 10 April 2026 - 08:17 WIB

Siap Pimpin DPC PKB Sampang, Buya Alyadi Mustofa Ikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan

Sabtu, 4 April 2026 - 05:54 WIB

Rayakan HUT ke-125, PT. Pegadaian Syariah Santuni 560 Anak Yatim dan Dhuafa

Kamis, 29 Januari 2026 - 03:21 WIB

Dukung Madura Provinsi, Akhmad Makruf Ingatkan Elite Move On dari Ketergantungan APBN

Selasa, 27 Januari 2026 - 05:41 WIB

Terseret Korupsi BSPS Sumenep, Tenaga Ahli Mantan Anggota DPR RI Masuk Bui

Berita Terbaru