PAMEKASAN || KLIKMADURA – Universitas Madura (Unira) memperkuat kolaborasi dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pamekasan melalui kerja sama pembinaan kemandirian warga binaan.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada pengembangan keterampilan di bidang pertanian, hortikultura, dan peternakan.
Rektor Unira, Dr. Drs. Ec. Gazali, M.M., mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari pola kolaborasi multi helix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, kelompok masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kalau kita dulu mengenal triple helix, lalu ada penta helix, sekarang Lapas Pamekasan betul-betul menerapkan multi helix. Ini mengolaborasikan banyak pihak untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas,” ujar Gazali dalam sambutannya.
Menurut Gazali, kehadiran perguruan tinggi dalam program pembinaan warga binaan tidak sebatas memberikan dukungan akademik. Unira juga dapat berperan dalam meningkatkan keterampilan dan kemandirian warga binaan melalui ilmu pengetahuan serta kompetensi yang dimiliki.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Unira dan Lapas Pamekasan yang menjadi payung bagi kerja sama lintas fakultas dan program studi.
Khusus Fakultas Pertanian, kerja sama tersebut ditindaklanjuti melalui perjanjian kerja sama (PKS) yang mencakup program pembinaan kemandirian warga binaan di bidang pertanian, hortikultura, dan peternakan.
“Di bawah MoU itu ada perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani oleh Dekan Pertanian. Isinya antara lain tentang program pembinaan kemandirian warga binaan di bidang pertanian, hortikultura, dan peternakan,” jelas Gazali.
Ia menjelaskan, kerja sama Unira dengan Lapas Pamekasan tidak harus berhenti pada Fakultas Pertanian. Seluruh fakultas dan program studi yang ada di Unira memiliki peluang untuk terlibat sesuai kebutuhan program pembinaan.
“Tidak menutup kemungkinan bagi Lapas, seluruh program studi yang ada di Unira bisa dikerjasamakan untuk mendukung bersama,” katanya.
Gazali menilai model kolaborasi tersebut penting karena pembinaan warga binaan membutuhkan dukungan dari berbagai bidang keilmuan. Perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi melalui pendidikan, pelatihan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Gazali juga menawarkan penguatan kapasitas sumber daya manusia bagi jajaran Lapas Pamekasan melalui pendidikan tinggi di Unira.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat 10 pegawai yang telah melanjutkan pendidikan pascasarjana di Unira. Menurutnya, kesempatan tersebut dapat terus dikembangkan dengan pilihan program studi yang sesuai kebutuhan.
“Tadi saya tawarkan juga kepada Pak Kalapas, silakan nanti bisa tidak hanya di Magister Hukum, tetapi Magister Manajemen,” ujarnya.
Gazali juga mengajak pegawai Lapas yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana untuk memanfaatkan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang tersedia di Unira.
RPL merupakan mekanisme pengakuan terhadap capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
“Bagi pegawai yang belum sarjana, silakan pilih program studi untuk bisa melanjutkan. Ada RPL, yaitu Rekognisi Pembelajaran Lampau. Pengalaman dan kegiatan kerja dapat dihargai dalam proses pendidikan,” terang Gazali.
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat yang telah memiliki pengalaman kerja dan berbagai kompetensi, tetapi belum memperoleh gelar sarjana.
Selain pendidikan formal, Gazali menyampaikan bahwa Unira selama ini juga terus membangun kerja sama dengan berbagai pihak dalam bidang pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, ia berharap kolaborasi dengan Lapas Pamekasan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan, tidak hanya pada satu bidang.
“Kerja sama ini bukan hanya untuk satu program. Seluruh program studi yang ada di Unira bisa mendukung sesuai bidang masing-masing,” tegasnya.
Gazali turut mengapresiasi Lapas Kelas IIA Pamekasan yang dinilainya telah membangun pola kolaborasi dengan banyak pihak. Menurutnya, pendekatan multi helix menjadi langkah penting untuk memastikan program pembinaan memberikan manfaat nyata bagi warga binaan dan masyarakat.
Ia berharap sinergi antara Unira dan Lapas Pamekasan mampu melahirkan program pembinaan yang produktif, terutama dalam membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat menjadi modal untuk kembali ke tengah masyarakat.
“Terima kasih kepada Pak Kalapas Pamekasan. Ini luar biasa. Semoga kerja sama dengan Unira sama-sama maju, berkah, dan berkembang,” pungkas Gazali. (nda)














