PAMEKASAN || KLIKMADURA – Di balik gencarnya aksi-aksi sosial Bani Insan Peduli (BIP), tersimpan kisah yang sangat inspiratif dan menggetarkan hati.
Ali Zaenal, pendiri sekaligus CEO BIP, mengungkap bahwa seluruh gerakan besar yang ia jalankan berangkat dari bakti kepada sang ibunda yang telah wafat.
Dalam bincang eksklusif di program Catatan Pena Klik Madura, pria yang akrab disapa Bang Ali itu menegaskan, gerakan yang selama ini dilakukan tidak memiliki kaitan sedikit pun dengan politik. BIP merupakan persembahan untuk kedua orang tuanya, terutama ibu.
“Saya hanya ingin memastikan pahala untuk beliau tidak pernah putus,” ujar Ali dengan suara penuh ketulusan.
Ali mengungkap, nama “Bani” yang melekat pada BIP merupakan marga sang ibunda. Penamaan itu bukan sekadar identitas, tetapi simbol cinta dan rindu yang ia wujudkan dalam bentuk aksi kemanusiaan.
Sejak kepergian ibundanya, Ali justru merasa semakin terdorong untuk memperluas manfaat BIP. Sebab, pahala dari kegiatan positif yang dilakukan akan mengalir kepada orang tuanya.
“Apa pun yang kita kerjakan sebagai anak, pahalanya otomatis mengalir kepada orang tua. Maka saya harus terus bergerak,” katanya.
Gerakan BIP yang masif tidak menutup kemungkinan memunculkan berbagai tudingan miring. Namun, Bang Ali menanggapinya dengan santai dan terus menebar manfaat dengan penuh keikhlasan.
“Nabi saja pernah disebut tukang sihir meskipun membawa kebenaran. Apalagi saya yang manusia biasa. Mau dibilang apa saja silakan. Saya tetap fokus menebar manfaat,” tegasnya.
Ali juga membagikan filosofi unik yang menjadi pegangan dalam setiap aktivitas sosial. Ia menyebutnya sebagai cara “membuat kejutan”.
“Prinsip saya simpel. Kita buat kejutan untuk manusia supaya mereka bahagia. Kalau manusia bahagia, maka Allah juga akan ‘terkejut’ dan bangga pada hambanya. Kalau Allah sudah rida, urusan dunia pasti dijaga,” ungkapnya.
Sederet program besar terus digulirkan BIP. Mulai dari penyediaan 30.000 paket sembako murah di Pamekasan dan Sumenep, program bedah rumah untuk warga kurang mampu hingga pembangunan Asrama Ainun.
Yakni, rumah tahfidz di Mojokerto yang peletakan batu pertamanya dihadiri tokoh ulama terkemuka di tanah air.
Semua program tersebut, kata Ali, dibiayai dari kantong pribadi hasil usaha di berbagai bidang. Mulai dari properti, toko emas dan berbagai jenis usaha lainnya.
“Kita jangan merasa enak tidur di ruangan ber-AC, sementara tetangga kita masih ada yang kelaparan,” tandasnya.
Kisah lengkap perjalanan Ali Zaenal membangun gerakan BIP sebagai bentuk cinta kepada ibunda dapat disaksikan di kanal YouTube Klik Madura. (nda)














