Oleh: Abrari Alzael, Budayawan dan Jurnalis Senior
*****
SETIAP diri, sesekali memerlukan suasana yang hening, menepi pada sunyi, menyendiri. Sekedar menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali, mengulangi lagi, untuk beberapa kali.
Ini sebentuk modal awal untuk mengaji rasa, supaya tidak tegang, sedikit mengurangi vertigo, yang mungkin saja tidak disadari. Sesederhana itu, untuk menolak lupa, pada dirinya sendiri, sebagai pribadi yang butuh orang lain.
Refleksi semacam itu jarang terjadi karena hampir semua pihak merasakan dirinya yang super sibuk, mengejar target atas perintah yang dianggapnya berkuasa, atas dirinya.
Ketika target yang ditahbiskan terlepas, lalu stress, menuding dirinya gagal menjalankan perintah atasan. Tetapi ketika pada banyak kesempatan kehilangan tuhan, ia tidak sedang merasakan apa-apa, serasa berlalu begitu saja. Sesimpel dan sematirasa itu.
Sayyed Hussein Nashr (1933), pada awal abad ke 20 telah meramalkan hal itu akibat dari gempuran modernitas. Ada banyak umat yang lupa bercermin (Scientia Sacra) dan menilai hidup akan bertahan lama dari yang dibayangkan dan melahirkan nestapa bagi manusia kontemporer.
Maka pertanyaannya, apa sesungguhnya yang hendak ditemukan dalam hidup ini? Apakah kelahiran dirinya sebagai problem bagi dirinya dan orang lain, atau pemecah masalah itu sendiri?
Akrobatika kejadian belakangan ini kian menjelaskan tentang kenestapaan manusia kontemporer, terutama saat gugusan bima sakti di angkasa dibuat tidak seimbang pergerakannya.
Rudal beterbangan di cakrawala, mencari titik koordinatnya, untuk menghancurkan dan membunuh yang tak pantas dimatikan. Kuku kekuasaan mencakar dan mencabik-cabik kehidupan yang pada mulanya tertata rapi. Tetapi sejurus cakar harimau, realitas porak-poranda.
Hukum menancapkan pakunya kepada kaum alit dan lemah syahwat terhadap para elit. Serupa di negeri ini, kesaksian paradoks yang tersaji mempertontokan pelajaran Bahasa Inggris, khususnya kata benda yang tidak beraturan (irregular verbs). Negara berlalu seperti tangga nada yang mengabaikan ritme dan meniadakan irama.
Negeri ini bak hamparan batalyon dimana demokrasi dicincang, diiris-iris. Warga bangsa seperti diadu antar-sesama dan kuasa menontonnya, lalu tersenyum sembari berkata di dalam hatinya ; akhirnya engkau juga bertekuk lutut padaku.
Itulah hari ini yang dirasa. Bekas presiden melapor karena merasa dianiaya. Bekas wakil presiden juga melakukan hal yang sama sebab merasa dizalimi. Begitu juga yang lain, saling lempar, saling lapor, dan besok harinya, tetap lapar.
Orang luar, menertawakan bangsa ini karena mengalami pembusukan dari dalam. Mereka merasa tidak perlu menjajah sebagaimana dulu Belanda menjajah, karena orang dalam sudah saling menjajah satu sama lain.
Mereka, orang luar sudah paham kondisi negeri ini yang tidak benar-benar utuh. Data pribadi mereka miliki dan dengan itu dengan mudah melakukan monitoring terhadap bangsa ini ; apa masalahnya, apa kebutuhannya, apa kegemarannya, dan seterusnya.
Soekarno juga telah lama memprediksi ini dan generasi berikutnya, Soeharto, juga memperbincangkan ini, jauh-jauh hari sebelum mereka mengakhiri masa jabatannya. Kedua tokoh bangsa itu sudah mengatakan, bangsa masa depan negeri ini abot, sangat berat, dan hari ini terbukti.
Apa yang dulu pernah dimiliki negeri ini, sekarang tak dipunyai lagi ; kedaulatan dan jati diri. Negeri ini menjadi pemamah menyusul tidak jelasnya jenis kelamin. Dulu, Soekarno garang mengatakan Amerika kita setrika dan Inggris kita linggis saat terjadi perang Pasifik.
Bahkan Putra Sang Fajar itu mengancam tidak datang ke Uni Soviet Nikita Khrushchev, gagal menemukan makam Imam Bukhari (perawi hadits) di Samarkand, Uzbekistan, pada tahun 1956. Soekarno juga menggeretak Presiden Mesir Gamal abdul Nasser agar tidak membubarkan Universitas Al Azhar pada tahun 1959.
Kini, presiden yang dimiliki bangsa ini, seperti berani pada rakyatnya sendiri. Di dekat Trumph, cukup sopan. Di sisi Putin, terlihat Jumawa. Di depan rakyatnya, ia pintar menggeretak, setiap bicara dari satu podium ke podium berikutnya, seperti terjadi diskontinuitas isu dan gagasan yang terputus.
Tetapi ia orang baik, kata Gus Dur. Kalau kemudian tidak sepenuhnya bajik, dimungkinkan bergaul atau dikelilingi orang yang gagal paham. Presiden sebelum saat ini juga mengalami hal yang sama, kadang tersenyum, walau dipaksakan. Jika ditanya, dijawab ; jangan tanya saya, tanya ibunya. Sebercanda itu, memimpin bangsa.
Jika sejarah dibuka, saat Majapahit dipimpin Raden Wijaya (1293), berhasil mengalahkan pasukan Mongol (Dinasti Yuan). Raden Wijaya memanipulasi pasukan Mongol yang membuatnya mundur tunggang-langgang.
Ketika negeri ini dipimpin serdadu (di jamannya), rakyat hanya titip negeri, penduduk dan alam sekitarnya. Benar-benar dijaga kedaulatan dan masa depan generasinya, agar tidak jadi jongos bagi irlander yang menyusup lewat centeng-centengnya yang mungkin mengendap-endap di istana. Satu lagi kata Elpamas : hati-hati pak tua, di luar banyak angin. (*)













