Gubernur Jawa Timur Bersekongkol dengan Para Bandit?

- Jurnalis

Minggu, 16 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Syarifuddin, Pemuda Kangean.

——

DI BALIK pencitraan yang sering tampil di media sosial, Khofifah Indar Parawansa tampak sebagai pemimpin yang abai terhadap jeritan masyarakatnya.

Ia adalah kepala daerah yang seolah tidak memiliki kepekaan—tidak mendengar, tidak melihat, atau setidaknya memilih untuk tidak mengetahui.

Konflik migas di Kangean, Sumenep, telah berbulan-bulan memanas. Alih-alih hadir memberi perhatian dan perlindungan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur justru memberikan ruang yang semakin longgar kepada korporasi yang mengancam ruang hidup warga kepulauan.

Hingga hari ini, Khofifah tidak menyampaikan pernyataan terbuka terkait operasi PT KEI di perairan Kangean yang semakin meresahkan masyarakat dan bahkan memantik munculnya konflik horizontal.

Baca juga :  Akhmad Ma'ruf: Madura Wajib Jadi Provinsi

Lebih memprihatinkan lagi, sikap diam itu tetap dipertahankan meski DPRD Jawa Timur beberapa kali memberi peringatan.

Pada akhirnya, survei seismik dinyatakan selesai sebagaimana diberitakan sejumlah media pada 14 November 2025.

Ketika kepala daerah tidak tegas dalam kasus seperti ini, ruang pelanggaran dalam sektor pertambangan terbuka semakin lebar.

Pemimpin yang tidak mengambil tindakan akan mudah dijadikan alat oleh korporasi untuk mengeruk sumber daya alam Jawa Timur tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat.

Sebagai Gubernur, Khofifah seharusnya menjadi pengawas utama aktivitas pertambangan di wilayahnya. Namun, ketidakhadirannya dalam persoalan ini menimbulkan pertanyaan besar.

Baca juga :  Anggaran TPS di Lima Kecamatan Diduga Disunat, Polres Segera Periksa Ketua KPU Pamekasan

Diam yang berlarut-larut dapat ditafsirkan sebagai adanya kedekatan atau bahkan kemungkinan kerja sama dengan pihak korporasi.

Di Kabupaten Sumenep, alam tidak lagi dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat; justru diberikan begitu saja kepada kelompok berkepentingan yang tak memberikan manfaat nyata bagi warga Kangean.

Janji politik pun akhirnya hanya menjadi slogan kosong yang menggerus hak-hak rakyat kepulauan.

Kangean dijadikan lumbung kepentingan: diprioritaskan saat Pilkada, dielu-elukan saat kampanye Pilbup, namun kembali diabaikan setelah kontestasi usai. Siklus ini terus terjadi dari masa ke masa.

Seharusnya Khofifah dan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, mengambil langkah tegas dengan menawarkan solusi atau alternatif kepada PT KEI ketika operasinya menimbulkan gejolak.

Baca juga :  Resolusi Sederhana 2025: Berani Hidup!

Bahkan, penghentian sementara aktivitas perusahaan perlu segera dilakukan sebelum muncul korban atau kerusakan yang lebih besar di tengah masyarakat Kangean. (*)

—–

DISCLAIMER: Tulisan ini memuat pendapat pribadi penulis, segala isi tulisan bukan tanggung jawab redaksi.

Berita Terkait

Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita
Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol
Belajar Berserah di Padang Arafah
Madura Tidak Pernah Tamat
Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku
Kuasa dan Onanisme Republik
Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional
Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 05:32 WIB

Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita

Selasa, 26 Mei 2026 - 04:49 WIB

Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol

Senin, 25 Mei 2026 - 11:21 WIB

Belajar Berserah di Padang Arafah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:42 WIB

Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 03:03 WIB

Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku

Berita Terbaru

Catatan Pena

Tentang Cinta, Iman, dan Qurban

Rabu, 27 Mei 2026 - 02:39 WIB