Oleh: Abrari Alzael, Budayawan dan Wartawan Senior.
*****
SUATU ketika, Bung Karno pernah mengatakan bahwa penjajahan kolonial memang berat. Meskipun, penjajahan dari bangsa dan untuk bangsa sendiri jauh lebih berat. Ia mengatakan hal itu sudah puluhan tahun. Setelah merdeka, penjajahan itu tidak benar-benar sirna. Selalu saja ada, kadang dari tetangga sendiri, kerabat dekat, bahkan dari kuasa itu sendiri; penindasan kerap terjadi.
Saudara-saudara di Papua, merasakan diri benar-benar belum bebas dari penjajahan. Tidak saja karena disebar melalui film Pesta Babi. Tetapi jauh sebelum peristiwa itu, sebagian dari mereka tak berdaya. Kuasa terlalu sangar, untuk tidak menyebutnya bar-bar.
Papua, itu hanya salah satu di sekian peristiwa dimana warga republik nelangsa. Keinginan mereka sejatinya sederhana, butuh hutan sebagai tempat berlindung dari ancaman kepunahan.
Terlihat mereka sedih ketika 2000 an eskavator membolduser hutan. Bukan hanya pohon yang tumbang, binasa. Hewan-hewan buruan mereka juga kabur. Masyarakat adat kehilangan mata pencarian, untuk diburu, dimasak, dan sarana penunjang hidup.
Lebih dari itu, warga adat menangis bukan saja terkait kehilangan kedaulatan. Mereka juga kehilangan tempat, untuk tinggal secara damai. Ribuan serdadu lengkap dengan senjata, seperti mengancam, atau serupa bayonet yang hendak ditikamkan. Untuk apa semua itu, atau untuk siapa semua itu dilakukan? Untuk rakyatkah, tetapi rakyat yang mana?
Sejujurnya, negara ini seperti sedang terperangkap ke dalam sebuah teori; katak rebus. Kuasa seakan merasa nyaman berkelindan dengan naga dan orang kaya. Naga dan orang kaya dalam oligarki itu tidak memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa.
Tetapi tiba-tiba, mendapat karpet merah untuk berkuasa di sektor yang lain, dan yang lebih parah, mereka tidak hanya untung namun juga mengatur kelangsungan bangsa dari sektor yang dikuasainya; pasar.
Kuasa sibuk menyusun narasi dan seperti kata Prof Bagus Mulyadi, terlalu banyak berbohong. Sementara pada teori, satu kebohongan memerlukan kebohongan lainnya, dan begitu seterusnya. Kuasa kadang-kadang terlalu rendah menilai warganya; orang desa tidak butuh dan tidak pegang dolar. Fatsunnya bukan di sini, melainkan implikasi ketika rupiah melemah pada sektor kehidupan yang lebih real.
Kuasa sibuk menerima sanjungan seolah-olah yang dijalankannya pro poor. Karena itu, diperlukan atau tidak dibutuhkan, yang penting, kuasa telah menjalankan tugas dan wewenangnya; untuk memaksa. Kuasa butuh belajar, untuk konsisten dan peka. Agar tidak merasa asik sendiri, agar tidak onani, meminjam istilah dalam diksi WS Rendra dalam sebai puisi; Oposisi.
Presiden sebagai kuasa tertinggi, butuh belajar bahasa tubuh dan bahasa verbal. Kalau cuma berapi-api, pemain ludruk juga bisa. Yang perlu diketahui bahwa pemain ketoprak, di atas pentas, dia menyadari bahwa ia bukan yang diperankan dalam lakon reportoar dan ia menyadari itu. Tetapi kuasa, tidak santun apabila sekedar acting apalagi dalam alur yang tidak sesuai plot sebagai kuasa.
Kuasa butuh didampingi sosok yang mengerti dirinya, mengerti orang lain dan memahami dirinya sebagai yang bajik, radik, dan bijak. Menjadi sosok yang gemoy saja tak cukup menjadi kuasa.
Menampilkan salam tinju juga tidak menjadi tanda sebagai yang perkasa. Joget-joget itu bukan tidak penting, tetapi ada yang lebih urgent dari semua itu; arah dan kebijakan bangsa untuk pemilih sah kedaulatan republik ini; rakyat.
Kuasa tidak elok apabila hanya tampil plonga-plongo seperti aura penggemar narkotika. Rakyat butuh gagasan besar, ide yang bisa diwujudkan untuk semakmur-makmurnya kehidupan rakyat sesuai amanat undang-undang.
Begitu pula, punggawa di sekitar kuasa yang dikehendaki rakyat, memiliki kapasitas yang layak, sebagai orang terpilih. Tidak hanya bisa mengatakan siap namun inovatif dan kreatif. Apabila sopir dalam kendaraan ugal-ugalan, penumpang berhak mengingatkan.
Republik ini, sepertinya sedang disopiri SDM yang ugal-ugalan, yang pilihannya hanya dua; sine kanan dan ngebut. Mungkin butuh diingatkan bahwa di republik ini dulu pernah terlahir buya Hamka; kalau hanya sekedar kerja, kera juga bekerja. (*)













