Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Edy Suprayitno, Sekretaris Bakesbangpol Sumenep.

******

DALAM sebuah diskusi yang sederhana, saya dan beberapa teman di grup whatsApp sempat “disibukkan” dengan aturan pakaian kerja yang harus dipakai pada hari Rabu, 20 Mei 2026.

Ada yang menyebut, sesuai dengan aturan daerah, harus memakai baju korpri, karena pada hari itu dilaksanakan upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Ada yang tetap dengan pemahaman awal bahwa setiap hari Rabu tetap memakai baju putih. Ada yang menawarkan jas korpri. Cukup variatif.

Dalam diskusi selanjutnya, fenomena yang dibincangkan sampai pada satu titik tentang kebangkitan dari krisis global ketika bangsa ini dihadapkan pada realitas bahwa nilai tukar rupiah sudah mencapai titik yang cukup memprihatinkan: Rp.17.721 per USD (Halo Indonesia, 20 Mei 2026).

Fenomena inilah yang menjadi keprihatinan bangsa ini untuk tetap bertahan dan kemudian bisa bangkit terutama dalam momentum Harkitnas ini. Hanya saja, saya berpikir bahwa dinamika saat ini merupakan momentum untuk bangkit dalam realitas yang menyesuaikan dengan perubahan zaman dengan tetap mempertahankan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Dipahami, bahwa Harkitnas yang kita peringati setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar ritual kalender atau seremoni usang tak makna. Harkitnas adalah sebuah cermin besar bagi bangsa Indonesia.

Jika kita bersedia menatapnya dengan seksama, maka akan melihat refleksi dari sebuah bangsa yang memiliki gen ketangguhan luar biasa—sebuah bangsa yang dilahirkan dari rahim perjuangan dan tidak pernah mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya.

Lebih dari seabad yang lalu, tepatnya pada tahun 1908, berdirinya Boedi Oetomo menjadi kekuatan tersendiri bagi kesadaran berbangsa. Kala itu, musuh yang dihadapi sangat nyata: kolonialisme yang membelenggu fisik, pikiran, dan kesejahteraan rakyat.

Baca juga :  Kepala Bakesbangpol Sumenep Dipolisikan Atas Dugaan Penipuan dan Penggelapan Uang Jasa Quick Count Pilkada 2024

Hari ini, kita tidak lagi berhadapan dengan meriam atau benteng-benteng kompeni. Namun, bangsa ini sedang berdiri di hadapan musuh baru yang tidak kalah mengerikan: guncangan ekonomi, ketidakpastian geopolitik, ancaman perubahan iklim, dan sisa-sisa badai pascapandemi yang kita kenal sebagai krisis global.

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Banyak negara besar goyah, rantai pasok global terputus, dan inflasi menghantui kehidupan sehari-hari. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, sudah semestinya, semangat Harkitnas harus ditiupkan kembali ke dalam nadi setiap anak bangsa.

Kita dituntut untuk bangkit. Namun, bagaimanakah cara sebuah bangsa besar bangkit dari krisis yang polanya terus berubah? Jawabannya bisa dipahami dalam prinsip hukum dan filosofi kuno: mutatis mutandis.

Secara harfiah, frasa Latin mutatis mutandis berarti “dengan perubahan-perubahan penting yang telah disesuaikan.” Prinsip ini mengajarkan kita bahwa ketika situasi dan kondisi di lapangan berubah, maka strategi, alat, dan cara kita merespons harus ikut disesuaikan, tanpa harus mengubah esensi atau nilai dasar yang kita pegang.

Dalam konteks Harkitnas, mutatis mutandis adalah formula bagi kita untuk beradaptasi. Nilai dasar kita—yaitu persatuan, gotong royong, dan kedaulatan—tetap abadi dan tidak boleh bergeser. Namun, cara kita mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam menghadapi krisis global harus mengalami transformasi total agar relevan dengan tuntutan zaman.

Ketika dilihat dalam perspektif transisi sejarah kita, dulu, perjuangan dilakukan dengan membentuk organisasi pergerakan untuk menyatukan sekat-sekat kedaerahan demi satu nama: Indonesia.

Baca juga :  Melepas Bulan Penuh Berkah

Hari ini perjuangan kita adalah meruntuhkan ego sektoral antarlembaga dan antardaerah demi membangun kolaborasi ekonomi yang solid, memperkuat ketahanan pangan nasional, dan mempercepat kemandirian energi di tengah ancaman krisis dunia.

Dulu, para pahlawan mendirikan ruang baca dan diskusi untuk menyadarkan rakyat dari kebutaan aksara dan pembodohan kolonial. Hari ini kita harus membangun kedaulatan digital, memperkuat literasi siber, dan menguasai kecerdasan buatan (AI) agar bangsa ini tidak sekadar menjadi pasar konsumen bagi raksasa teknologi global, melainkan menjadi produsen inovasi.

Dulu, kaum muda terpelajar bergerak menjadi motor penggerak kesadaran bernegara di bawah tekanan penjajah. Hari ini, generasi Z, milenial, dan pelaku UMKM bergerak menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dari akar rumput, memanfaatkan internet untuk menembus pasar internasional dan menyelamatkan ekonomi domestik dari resesi global.

Dalam konteks ini, meskipun krisis global sering kali memunculkan ketakutan, tetapi sejarah selalu mencatat bahwa di dalam setiap krisis besar, selalu lahir peluang yang tidak kalah besar bagi mereka yang siap. Bangsa Indonesia tidak boleh terjebak dalam victim mentality (mentalitas korban) yang meratapi keadaan. Harkitnas adalah momentum untuk mengadopsi growth mindset—mentalitas bertumbuh.

Mutatis mutandis menegaskan bahwa krisis global boleh saja mendesain ulang cara dunia bekerja, cara manusia berdagang, dan cara negara-negara berinteraksi. Namun, krisis tidak akan pernah bisa mendesain ulang mentalitas bangsa Indonesia yang sudah teruji oleh api sejarah.

Ketika jalur logistik dunia terganggu, saatnya kita mencintai, membeli, dan mengembangkan produk-produk dalam negeri. Ketika energi fosil dunia semakin mahal dan langka, saatnya kita mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan yang melimpah di bumi Nusantara.

Baca juga :  Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam

Ini bukan sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana kita bisa keluar sebagai pemenang. Begitulah hukum alam mutatis mutandis.

Di sini, satu hal yang perlu ditanamkan: strategi boleh berubah, teknologi boleh berganti, dan tantangan boleh bergeser dari waktu ke waktu, namun, ada satu elemen sakral yang harus tetap kaku, abadi, dan tidak boleh mengalami perubahan sedikit pun: semangat untuk tidak pernah menyerah. Sekali lagi, itulah hukum alam dari mutatis mutandis.

Apalah artinya teknologi yang canggih dan anggaran yang besar jika mentalitas manusianya rapuh? Semangat Boedi Oetomo tahun 1908 adalah tentang keberanian untuk memulai sesuatu yang mustahil di tengah keterbatasan.

Semangat itulah yang hari ini harus kita injeksikan ke dalam ruang-ruang kelas, ke dalam pabrik-pabrik, ke dalam meja-meja kerja kantoran, hingga ke ladang-ladang pertanian kita.

Sebagai epilog, Harkitnas ini merupakan alarm pengingat bahwa kita adalah keturunan dari para pemenang. Krisis global yang melanda bumi saat ini hanyalah satu babak baru dari rangkaian ujian sejarah yang pasti mampu kita lalui.

Mari kita maknai Harkitnas ini dengan tindakan nyata. Kita sesuaikan langkah kaki kita dengan ritme zaman yang baru, kita tajamkan inovasi, dan kita perkuat solidaritas sosial.

Kita terapkan prinsip mutatis mutandis dalam setiap lini kehidupan: terus berubah, terus beradaptasi, namun tetap setia pada jiwa dan jati diri bangsa. Tabik! (*)

Berita Terkait

Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil
Buku dan Tantangan Membaca di Era Banjir Informasi
Tak Ada Herder di Bibir Penguasa
Teks, Konteks, dan Antiklimaks
Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Menjadikan Jurnalis Adaptif dan Independen 
MH Said Abdullah Sang Mentor Sejati
Membaca Arah, Mengeja Sejarah
May Day 2026: Mengakhiri Ketidakadilan Bagi Buruh Perempuan

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:21 WIB

Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

Rabu, 20 Mei 2026 - 01:19 WIB

Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:29 WIB

Buku dan Tantangan Membaca di Era Banjir Informasi

Jumat, 15 Mei 2026 - 04:12 WIB

Tak Ada Herder di Bibir Penguasa

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:37 WIB

Teks, Konteks, dan Antiklimaks

Berita Terbaru