Air Liur Direktur RSUD Smart Pamekasan untuk Pasien Gagal Ginjal

- Jurnalis

Senin, 16 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Khairul Umam, Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan.

——-

EJATINYA, saya tidak ingin menulis utuh; cukup dengan bersuara dan menyampaikan di grup WhatsApp. Termasuk menyuarakan di warung kopi tentang pasien gagal ginjal, yang diterpa kesulitan mendapatkan pelayanan cuci darah atau hemodialisis (Hd).

Saya semula ingin diam. Sebab, kalau bersuara nanti dianggap gawat dan suka menghujat. Muaranya, saya merasa penting menghadirkan tulisan dari masyarakat yang biasa ngopi di trotoar pinggir jalanan; anak petani yang biasa melumpur dan mencangkul di sawah.

Semula saya menganggap bahwa pasien gagal ginjal adalah pasien biasa pada umumnya yang hanya sebatas kontrol dan cek kesehatan, setelah itu mereka pulang sembari membawa bungkusan obat yang sudah disediakan rumah sakit. Namun, hal itu berbalik arah setelah saya mendengar curhatan langsung dari sejumlah keluarga pasien gagal ginjal.

Ternyata, pasien yang dinyatakan gagal ginjal harus rutin melakukan cuci darah dalam seminggu dua kali. Tentu kondisi tersebut membuat otak ini terpantik jadi “kalkulator”, berarti mereka dalam sebulan melakukan cuci darah sebanyak 8 kali.

Kondisi di atas menurut saya biasa saja, karena orang sakit itu sudah bagian dari takdir Tuhan. Namun kegelisahan mulai terjadi ketika ada informasi bahwa pelayanan cuci darah untuk jadwal shif ke-4 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (Smart) per 1 Mei 2025 ditutup.

Lagi-lagi kondisi tersebut menurutku hal yang lumrah. Karena bisa jadi bulan depan kalau dibutuhkan lagi, maka shif 4 akan bisa dibuka kembali.

Pikiran saya tetap positif bahwa penutupan shif ke-4 pelayanan cuci darah tidak akan berdampak parah maupun memakan korban yang meninggal dunia. Menurut saya, kebijakan tersebut akan baik-baik saja, seperti melerai dan menghadapi tingkah laku anak TK, kalau berantem hari ini besok sudah akur lagi.

Ternyata, kondisinya tidak sesederhana itu, tidak semudah itu, tidak segampang itu; semua tidak baik-baik saja ketika pasien mulai kebingungan dan kelimpungan ketika harus mencari rumah sakit sendiri di luar Pamekasan yang melayani cuci darah.

Baca juga :  Kajian Mendalam, Gajian Tenggelam, CSR Menguap, PI Belum Naik ke Permukaan

Kondisi makin tidak baik-baik saja ketika korban yang meninggal terus berjatuhan. Tercatat selama Mei-Juni 2025, sudah ada 6 nyawa melayang. Meski kasusnya tidak sama namun status mereka sama; pasien gagal ginjal.

Dari sekian catatan pasien yang meninggal karena ada yang belum mendapat pelayanan cuci darah, sebagian kelelalahan, tekanan batin maupun jiwa ketika harus bolak-balik ke Surabaya maupun ke Malang selama sebulan 8 kali.

Kabar duka pertama dimulai pada pertengahan  Mei 2025, pasien gagal ginjal atas nama Sulastri, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan harus meninggal dunia. Berikutnya pada 21 Mei 2025 dikabarkan Sumarwah, Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu, juga menghembuskan nafas terakhirnya.

Pada bulan yang sama, Hairiyah, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, juga tidak bisa diselamatkan. Sebelumnya, pasien menjalani cuci darah di rumah sakit Sumenep. Namun, tidak berselang lama dia harus menelan rasa kecewa ketika tidak lagi bisa cuci darah karena kouta sudah tidak tersedia bagi warga di luar Sumenep. Sebelum meninggal, Hairiyah sempat menjalani masa kritis di RSUD Smart.

Pada 1 Juni 2025, kembali digegerkan kabar duka dari pasien gagal ginjal atas nama Moh. Fatir Abrori, Desa Ponteh, Kecamatan Galis. Pada 3 Juni 2025 disusul Nyai Holidah, warga Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan.

Terbaru, pada 15 Juni 2025, ada kabar duka atas nama Syarifah Fuad Syamlan, Jalan Brawijaya Indah. Mendiang merupakan pasien shift ke-4 cuci darah RSUD Smart Pamekasan.

Deretan nama pasien gagal ginjal yang jumlahnya sudah 6 yang meninggal, tentu  bukan lagi persoalan biasa. Saya bukan ahli medis maupun ahli dalam pemerintahan. Namun izinkan bersuara dalam tulisan ini. Sebelumnya mohon jangan tersinggung ketika ada tulisan yang dinggap menyayat maupun menyakiti.

Saya hanya ingin bertanya dengan logika dan hati yang jujur: apakah sesulit ini memecahkan dan mencari solusi untuk pasien gagal ginjal yang sampai ini belum mendapat pelayanan cuci darah?; apakah serumit ini administrasi kesehatan memecahkan masalah ketika korban pasien gagal ginjal gugur terus berjatuhan?; apakah sesukar ini birokrasi pemerintahan ketika dihadapkan dengan kondisi darurat pasien gagal ginjal?

Baca juga :  Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak

Sekadar informasi, jika tidak ada perubahan data, dari 27 pasien gagal ginjal, 6 meninggal, 17 pasien harus mencari pelayanan cuci darah di luar Pamekasan, dan  masih ada 4 pasien yang sampai saat ini masih belum mendapat pelayanan cuci darah. Semoga pasien ini diberi umur panjang dan  tetap semangat mencari rumah sakit yang bisa menerimanya untuk cuci darah.

Bukan sebatas soal 100 hari kerja bupati dan wakil bupati Pamekasan.

Jika tidak “cangkolang”, ingin rasanya mengajak Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman dan Wakil Bupati H. Sukrianto untuk ngopi bareng di warkop depan RSUD Smart Pamekasan. Karena kalau ngajak ngopi di dalam rumah sakit, khawatir disediakan makan siang sama direkturnya. Apalagi disediakan ruang khusus yang ber-AC. Ditambah lagi disedikan amplop putih khusus uang transportasi atau bahasa lainnya uang bensin.

Itu hanya menyampaikan informasi karena sebelumnya saya sudah ke ruangan direktur bersama rekan-rekan jurnalis dan legislatif saat mengawal kasus pasien gagal ginjal, di saat itu ada puluhan amplop dan nasi kotak yang sudah dipersiapkan.

Saya bukan golongan orang suci dan bersih, hanya saja menegaskan saat ke rumah sakit “Kami bukan butuh amplop apalagi uang bensin, kami hanya butuh kepastian dan kebijakan yang populis terkait kondisi pasien gagal ginjal”.

Kembali ke bupati dan wakilnya, ingin rasanya mengajak keduanya, bahkan kalau bisa didampingi sekda, direktur rumah sakit, kepala dinas kesehatan dan kepala BPJS Kesehatan, makan nasi pecel di pinggir sungai sebelah utara rumah sakit. Tentu yang menyediakan nasinya dari keluarga-keluarga pasien gagal ginjal yang sebagian sudah mulai putus asa.

Di suasana itu diawali dengan bercerita oleh bupati dan wakilnya, khususnya tentang banyak hal, di antaranya bagaimana target dan capaian 100 hari kemepimpinan bupati dan wakil bupati, termasuk komitmen dalam mengawal dan melayani masyarakat, termasuk pasien gagal ginjal.

Baca juga :  Barang Berharga dan Uang Jutaan Rupiah Milik Keluarga Pasien Hilang, Dewan Sebut Kelalaian Pihak RSUD Smart

Setelah itu, cerita selanjutnya dari direktur rumah sakit, penyampaian visi dan misi rumah sakit, termasuk capaian prestasi rumah sakit selama kepemipinan direktur Raden Budi Santoso. Dilanjutkan dari kepala BPJS Kesehatan Nuzuluddin Hasan, cerita bagaimana melayani masyarakat dengan penuh hati dan tanggung jawab, dia bercerita bahwa jabatan yang melekat di bajunya akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Cerita sesi terakhir dari Kepala Dinkes Saifuddin, dia mengaku sangat bersemangat sekali dalam melayani masyarakat Pamekasan. Bahkan, dirinya siap 24 jam diabdikan untuk urusan kesehatan. Dirinya merasa malu kalau tidak amanah, karena menyadari sebagai pejabat yang yang kencing dan air liurnya semuanya sudah ditanggung negara.

Setelah itu, giliran dari keluarga pasien gagal ginjal, di suasana pinggir sungai, mereka mulai bercerita jika sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sangat peduli kepada mereka.

Keluarga pasien sangat merasa terbantu karena saat cuci darah ke Surabaya dan Malang, mereka dibantu dengan fasilitas kendaraan roda empat yang difasilitasi pemerintah daerah. Bahkan mereka dipersiapkan rumah singgah di Surabaya.

Tentu mereka akan sangat senang sekali, ditambah lagi ketika mereka selama mendampingi pasien selalu disapa dan diperhatikan. Keluh kesah mereka selalu didengar dan langsung ditangani dengan serius. Keluarga pasien mengaku betul-betul berada dan merasa punya orang tua di Pamekasan.

Mereka merasa punya direktur rumah sakit yang sangat komitmen dan peduli terhadap pasien maupun keluarga pasien. Mereka sangat bangga dan merasa nyaman sekali karena pelayanan kesehatan sudah maksimal, bahkan tidak ada sedikit pun jeritan mereka yang sebatas didengar langsung diabaikan begitu saja.

Mereka sangat berterima kasih karena janji dan komitmen direktur begitu mulia, melayani dengan sepenuh hati. Bahkan jika bisa mereka ingin menadah air liur sang direktur rumah sakit untuk dijadikan obat pasien gagal ginjal, dan dibuat bahan bakar minyak ketika mereka bolak balik Pamekasan-Surabaya, Pamekasan-Malang. (bersambung)

___

*) Penggagas Sekolah Jalanan (SJ).

Berita Terkait

Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?
Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan
Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep
Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan
Intelektual Tradisional itu Akademisi Yang Membeo
Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik Perubahan

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 02:33 WIB

Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:22 WIB

Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan

Senin, 10 Agustus 2026 - 04:43 WIB

Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban

Sabtu, 18 Juli 2026 - 03:02 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Senin, 22 Juni 2026 - 00:13 WIB

Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep

Berita Terbaru

Ketua KSMI Pamekasan, Mahfud (jas hitam) bersama tamu undangan usai menyerahkan trophi kepada tim MAN 2 Pamekasan yang keluar sebagai Juara 1 Kejurkab KSMI Pamekasan di lapangan Puri Dewata Mini Soccer (PDMS) Pamekasan. (KLIKMADURA)

Pamekasan

KSMI Pamekasan Sukses Jaring Atlet Berbakat Melalui Kejurkab

Sabtu, 29 Agu 2026 - 15:32 WIB

Tumpukan deriken dan tabung gas LPG di salah satu Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Pulau/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

SUMENEP

Pertamina Urat Nadi Kehidupan Warga Kepulauan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 02:46 WIB