Oleh: Rahmat Hidayat, Pemuda Desa Branta Pesisir dan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unesa.
*****
DESAKU memang amat sangat mempesona dengan anugerah laut dan segala fasilitas pendukungnya, bahkan kini sudah ada julukannya, “Desa Tiga Dermaga” begitu yang disampaikan oleh bapak kepala desa.
Memang tak dapat dipungkiri, desa kami sangat bergantung pada laut, pantai, dan tiga dermaga itu. Laut yang merupakan hamparan berhektar-hektar air asin itu menjadi wahana masyarakat kami mengais rezeki.
Mungkin saja jiwa “Abhental ombak, asapok angin” juga mengalir dalam nadi ini seperti judul salah satu kumpulan puisi dari penyair favoritku, D. Zawawi Imron.
Suatu sore di bulan puasa, aku memutuskan untuk keluar rumah. Ngabuburit kata orang-orang. Meski begitu rasa mager masih membelenggu bak rantai yang mengikat kaki dan tangan para tawanan.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk nongki ditempat yang dekat saja. Untungnya aku tinggal di sebuah desa pesisir yang dekat dengan dermaga sehingga aku putuskan saja untuk ngabuburit di pantai sore itu, lumayan sesekali jadi anak senja.
Seperti biasa, sebelum memasuki areal dermaga aku harus beramah tamah dulu kepada penjaganya. Tentu saja bukan tanpa alasan, aku ingin terbebas dari retribusi karena untuk bisa mengaksesnya diperlukan fulus.
Sial bukan, bahkan untuk menikmati anugerah Tuhan yang seharusnya gratis jutsru sekarang harus melewati proses komersial. Ternyata kapitalisme bukan hanya berlaku untuk masyarakat kota ya, seru ku dalam hati.
Lanjut aku pun menapaki salah satu spot favoritku, duduk termenung diatas kapal yang sudah tidak beroperasi lagi. Memandangi landscape desaku yang tentu telah berubah dari waktu ke waktu.
Namun yang membuatku merasa risih adalah ketika ku pandangi tumpukan sampah dipantai yang menjadi “borok” di eloknya wajah desaku. Masih ada ternyata, bahkan sekarang semakin menumpuk dan berevolusi menjadi sedimentasi plastik dan sampah tak terurai.
Tidak sadarkah mereka bahwa sampah ini kelak akan hanyut ke Laut, mencemari ekosistem, dan merusak lingkungan tempat pencarian nafkah mereka.
Lupa kah mereka bahwa sampah-sampah itu akan merusak hasil tangkapan suaminya, merusak kualitas ikan yang akan mereka sajikan kepada anak-anak mereka.
Agaknya benar apa yang dikatakan Orwell dalam bukunya yang berjudul Animal Farm, “Manusia adalah satu-satunya mahkluk yang mengkonsumsi tanpa menghasilkan”.
Mereka hanya mau mengkonsumsi apa yang disediakan laut kepada mereka tanpa pernah peduli, kontribusi apa yang bisa mereka berikan atau hasilkan untuk tetap menjaga keasrian laut mereka.
Sampah-sampah rumah tangga, kian hari kian mengambang kemana-mana. Volumenya akhir-akhir ini semakin bertambah seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk desa.
Budaya konsumerisme juga turut ambil peran tak mau ketinggalan, kurir paket bolak balik dari lorong ke lorong mengantar pesanan. menambahkan beban sampah demi memuaskan dahaga penasaran dan status sosial, “makle padeh moso se laen”, pekik pembelaan yang sering terlontar dari mulut mereka. Seolah memberikan bahasa klise bahwa semua harus punya dan merasakan hal yang sama.
Sebenarnya pemerintah desa tidak serta merta tutup mata dalam upaya membabat masalah ini. Namun upaya yang dilakukan masih jauh dari kata sukses, terlalu minimalis untuk masalah sampah yang kian hari makin eksis.
Tidak ada TPS (Tempat Penampungan Sampah) yang memadai turut menjadi pelicin masyarakat untuk dengan sembrononya membuang sampah ke laut. Bagaimana tidak? Untuk TPS hanya disediakan sebuah tempat penampungan dengan ukuran 2×2 meter dengan ketinggian sepinggul orang dewasa.
Parahnya lagi, sampah yang telah dikumpulkan kemudian dilenyapkan dengan cara dibakar. Mencekoki paru-paru kita dengan emisi karbon dioksida. Merusak marwah langit Tuhan yang seharusnya biru, segar, dan menenangkan.
Bahkan DPRD Pamekasan pun angkat bicara saking jengahnya melihat tumpukan sampah dan bau tak sedap yang menampar indra pengaroma.
Desakan dari berbagai pihak menggelegar seakan meng-aamiin-kan agar masalah ini secepatnya dientaskan. Berulangkali gema untuk mengedukasi masyarakat dilayangkan agar masyarakat sadar dan tergerak hatinya menuju perbaikan. Namun apa mau di kata, tetap nihil hasil akhirnya.
Belum kelar masalah sampah yang sudah mendarah daging, karena sudah menahun belum ada solusi. Kini masalah baru yang mengancam eksistensi pantai dan laut ada lagi, Reklamasi namanya.
Sudahkah kita kenal? Reklamasi pantai adalah proses pengurugan, pengeringan, atau drainase untuk mengubah kawasan perairan/pesisir menjadi daratan baru. Tentunya ini akan berdampak pada lingkungan pesisir pantai.
Sedih rasanya melihat pantai yang dulu sewaktu masih kecil selalu kami jadikan tempat bermain bola atau mencari kepiting kecil dan lokan (salah satu jenis kerang) kini telah menjadi pondasi dan warung kopi. Tidak ada lagi keriangan sebagaimana dulu saya rasakan.
Tiada lagi emak-emak yang bawa rotan atau sandal untuk jemput anaknya pulang ketika Maghrib memanggil. Justru tempat itu sekarang menjadi penyumbang sampah-sampah domestik yang sulit terurai lewat kemasan-kemasan plastiknya.
Amat miris jika membayangkan bagaimana jika kelak Branta Pesisir tidak memiliki pantai lagi. Kemana generasi penerus kita akan bermain? Kemana mereka akan menyalurkan hobi mereka?
Apa yang bisa mereka banggakan tentang desa mereka? Sebuah desa pesisir yang tak memiliki pantai? yang diganti dengan susunan bangunan hasil reklamasi? Atau gunung fatamorgana hasil endapan sampah yang tak terurai dari generasi ke generasi? Pantaskah itu kita jadikan warisan bagi mereka?
Sepertinya sudah saatnya kita untuk merenungkan kembali, bagaimana world view kita memandang lingkungan sekitar kita, memandang laut kita, dan memandang alam kita.
Mentafakkuri alam kita sebagaimana dianjurkan pula dalam Al-Qur’an. Apakah kita sekedar menjadikan alam sebagai pemuas kebutuhan atau justru sebagai teman perjalanan menunggu panggilan Tuhan. (*)













