Kartini, Sang Pejuang Kesetaraan Perempuan

- Jurnalis

Minggu, 21 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Erni Lusiana

PERBINCANGAN tentang perempuan sangat menarik dan tidak akan ada habisnya. Banyak sekali isu-isu yang kerap kali diperdebarkan baik berupa kedudukan dan peranan.

Bahkan, terkait derajatnya yang kerap kali dianggap lebih rendah dari pada kaum laki-laki.

Tidak adanya kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan sampai detik ini masih menjadi perbincangan yang hangat dan kontroversial.

Hingga detik ini banyak perempuan Indonesia berusaha menghancurkan doktrin-doktrin yang dianggap merendah harkat dan martabatnya.

Keberanian memperjuangkan kesetaraan itu tidak akan pernah lepas dari perjuangan Raden Ajeng Kartini.

Baca juga :  Seberapa Penting Healing?

RA Kartini merupakan cikal bakal dari perjuangan dan kesejahteraan bagi perempuan khususnya dalam bidang pendidikan.

Pada mulanya, hak berpendidikan hanya dimiliki kaum laki-laki, sehingga perempuan tidak memiliki ruang untuk mengasah kemampuannya.

Tidak memiliki ruang untuk mengemukakan pendapatnya, bahkan untuk sekedar interaksi sosial.

Perempuan yang notabene akan menjadi seorang istri ini tidak bisa memiliki posisi tinggi untuk menyamai derajat seorang laki-laki.

Di samping itu, RA Kartini yakin bahwa kaum perempuan memiliki potensi yang sangat besar dalam kemajuan peradaban dunia.

Dengan demikian, pergerakan perempuan harus luas dan tidak hanya terbatas dari tanggung jawabnya sebagai seorang istri yang wajib tunduk kepada seorang laki-laki.

Baca juga :  Ketidakhadiran Bupati Sumenep dalam Retret Magelang: Antara Instruksi Politik dan Transparansi Publik

Hal inilah yang menggugah hati RA Kartini untuk memperjuangkan hak perempuan yang kala itu dianggap tertindas.

Perempuan asal Jepara ini sangat gigih dalam perjuangan hak perempuan khususnya dalam persamaan derajat yang saat ini dikenal dengan istilah emansipasi wanita.

Berkat kegigihannya, RA Kartini mampu mendirikan sekolah wanita yang dikenal dengan sekolah Kartini. Sekolah itu dibangun bersama saudarinya, Rukmini.

Berkat perjuangan RA Kartini, perlahan perempuan Indonesia banyak yang mampu keluar dari belenggu keterbatasan pendidikan dan pengetahuan.

Bahkan, perempuan bisa keluar dari tradisi pernikahan dini yang dahulu kerap kali dialami oleh perempuan Indonesia.

Baca juga :  Puasa Bukan Tekanan: Seni Mengajarkan Ramadhan Pada Anak

Atas perjuangan dan pengorbanannya, Kartini ditetapkan dan dikukuhkan sebagai pahlawan Republik Indonesia.

Penetapan itu berdasarkan surat keputusan Presiden RI Nomor 108 pada tanggal 2 Mei 1964 dan setiap tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari Kartini. (*)

Berita Terkait

Belajar Berserah di Padang Arafah
Madura Tidak Pernah Tamat
Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku
Kuasa dan Onanisme Republik
Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional
Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil
Buku dan Tantangan Membaca di Era Banjir Informasi
Tak Ada Herder di Bibir Penguasa

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 11:21 WIB

Belajar Berserah di Padang Arafah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:42 WIB

Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 03:03 WIB

Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku

Jumat, 22 Mei 2026 - 04:28 WIB

Kuasa dan Onanisme Republik

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:21 WIB

Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

Berita Terbaru

Direktur Klik Madura, Sari Purwati saat menjalankan ibadah umrah beberapa waktu lalu.

Opini

Belajar Berserah di Padang Arafah

Senin, 25 Mei 2026 - 11:21 WIB

Momen jamaah haji Indonesia tahun 2019 di padang Arafah. (DOK. SARI PURWATI)

Info Haji

Belajar Berserah di Padang Arofah

Senin, 25 Mei 2026 - 11:07 WIB