Khofifah Gubernur Bukan Emak-emak Pasar Sayur

- Jurnalis

Senin, 28 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik.

——–

Apakah persahabatan dibangun dengan standar Khofifah? Begitu kira-kira cuplikan percakapan telepon seseorang di seberang sana. Percakapan itu terdengar cukup jelas antara tokoh publik dengan sahabatnya.

Terlihat dan terdengar jelas dari intonasi dan raut wajah yang serius seolah sedang menggambarkan kekecewaan mereka. Khofifah? Ya, yang dimaksud dalam percakapan itu adalah “gubernur”.

Pembahasan panjang mereka tidak bergeser dari pelantikan PW Ansor Jawa Timur yang baru selesai diselenggarakan. Suasana makin tegang ketika masuk pada substansi kegiatan. Bahkan tidak sedikit yang berpendapat seolah sang gubernur tidak peduli terhadap TNI.

Di tengah banjir sorotan RUU TNI dan badai pecah-belah, Khofifah justru menunjukkan sosok pemimpin dengan gaya kaku. Padahal kegiatan itu diselenggarakan dengan tema “Manunggal Bersama TNI.”

Tema ini bukan sekedar tagline, bukan bunyi toa penjual jamu. Tetapi, tema yang mampu menginjeksi darah juang. Perekat rakyat bersama TNI.

Pertanyaan publik yang belum terjawab adalah: “Apa yang menjadi penyebab Khofifah tidak hadir?.” Wagubnya tidak hadir, Sekda Provinsi juga tidak hadir. Wallahu a’lam. Kata seorang anggota Banser yang biasa ngatur lalu lintas.

Baca juga :  Melepas Bulan Penuh Berkah

“Ketidak hadiran gubernur tanpa penjelasan mirip dengan naiknya harga sembako tanpa pemberitahuan.” Tak cukup sampai disitu, isu tentang dugaan terjadinya penggembosan dalam acara pelantikan PW Ansor Jatim makin menguat paska tersebarnya sebuah video.

Eits.. Tunggu dulu netizen…!! Sebelum lanjut membaca, lebih asyik jika tulisan ini dinikmati bersamaan secangkir kopi Prancak, kopi khas berasal dari Pasongsongan Sumenep.

Kopi ini dari kampungnya Syafril (Ketua PW Ansor Jatim) dilahirkan. Paling tidak dapat mengurangi potensi tegang, agar tidak ada yang salah mencerna lalu tersinggung.

Polemik di atas sebetulnya tidak ingin saya tulis karena menyangkut organisasi besar Vs Ibu besar. Tapi sekali lagi jangan terlalu serius lah. Anggap saja air kumur untuk membersihkan mulut yang sedang bau.

Ini seperti cerita santri yang kentut saat kerja bakti. Terasa baunya terdengar bunyinya tapi tak ada yang berani tunjuk tangan apa lagi acung tangan.

Absennya beberapa tokoh dalam acara Apel Bersama TNI seperti Kapolda Jawa Timur, Ketua PW NU Jawa Timur dan beberapa tokoh lain cukup menyisakan tanda tanya.

Baca juga :  Gelar Taaruf Pengurus, PW GP Ansor Jatim Komitmen Kawal Isu-isu SDA, ESDM dan Lingkungan

Padahal, menurut informasi beberapa orang, sebelumnya para tokoh itu menyatakan siap hadir, lalu lenyap tak tampak wajahnya.

Tanda tanya berikutnya adalah isu berkaitan dengan dugaan operasi penggembosan. Apakah benar adanya? atau hanya perasaan orang-orang baper dan merasa penting saja.

Meski mbah google masih menyimpan pemberitaan tentang Khofifah di masalalu, dengan judul “Khofifah vs Gus Ipul identik ‘perang’ Muslimat NU lawan GP Ansor.” Tapi itu masalalu tak mungkin Khofifah dendam apa lagi sakit hati pada organisasi.

Hanya saja, aroma semakin menguat ketika Emil (Wagub) yang diundang sebagai Dewan Penasehat Ansor juga ikut-ikutan tidak hadir. Seolah Emil sebagai pemimpin muda Jawa Timur ikut ambil posisi dalam bidak catur yang keliru. Padahal dalam catur politik selalu ada umpan yang sengaja dipasang di tepi jurang.

Potongan video Sekda Provinsi yang mengatakan bahwa “Jatim Expo bukanlah sebagai ukuran bahwa organisasi maju dan berkembang,” seolah sedang mengkonfirmasi posisi dan suasana kebatinan Khofifah dalam menyikapi kegiatan Manunggal bersama TNI.

Baca juga :  Jelang Demo 3 September, Forum Intelektual Jatim Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas

Sekda seolah lupa kalau kegiatan di Jatim International Expo itu tidak hanya rakyat Ansor dan Banser. Tetapi ada TNI dari tiga matra yang sedang berupaya berdiri bersama menjaga NKRI.

Dari sisi yang lain, ada yang mengatakan bahwa Khofifah sebagai Gubernur Jatim pasti punya kesibukan level langit. Khofifah tidak seperti emak emak yang menghabiskan waktu bergosip dengan pedagang sayur.

Dia sedang sibuk ngurus Bank Jatim yang  kemalingan. Atau sedang mencari cara bagaimana dana hibah provinsi bisa balik ke negara lagi.

Khofifah yang sedang memasuki periode terakhir menjabat wajib memiliki legasi. Citra baik sebagai pejabat sekaligus kader NU. Paling tidak Khofifah punya karya yang memukau seperti keindahan patung David “Michelangelo”.

Pesan moralnya adalah, jika algoritma AI ingin membuat robot makin manusiawi, jangan sampai manusia manjadi robot yang di kendalikan hawa nafsunya. (*)

——-

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dengan demikian seluruh isi opini merupakan tanggung jawab penulis.

Berita Terkait

Belajar Berserah di Padang Arafah
Madura Tidak Pernah Tamat
Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku
Kuasa dan Onanisme Republik
Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional
Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil
Buku dan Tantangan Membaca di Era Banjir Informasi
Tak Ada Herder di Bibir Penguasa

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 11:21 WIB

Belajar Berserah di Padang Arafah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:42 WIB

Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 03:03 WIB

Ada Borok di Eloknya Wajah Desaku

Jumat, 22 Mei 2026 - 04:28 WIB

Kuasa dan Onanisme Republik

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:21 WIB

Menatap Cermin Sejarah, Menggali Gen Ketangguhan: Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

Berita Terbaru

Direktur Klik Madura, Sari Purwati saat menjalankan ibadah umrah beberapa waktu lalu.

Opini

Belajar Berserah di Padang Arafah

Senin, 25 Mei 2026 - 11:21 WIB

Momen jamaah haji Indonesia tahun 2019 di padang Arafah. (DOK. SARI PURWATI)

Info Haji

Belajar Berserah di Padang Arofah

Senin, 25 Mei 2026 - 11:07 WIB