Oleh: Abrari Alzael, Budaywan dan Jurnalis Senior.
******
PADA MUKTAMAR NU ke-28 di Ponpes Krapyak pada tahun 1989, KHR As’ad Syamsul Arifin memunculkan satire. Jika imam dalam shalat batal karena kentut misalnya, makmum harus menyatakan mufaraqah, berspisah. Ia menyindir ketua PBNU saat itu, KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur.
Menanggapi metafora itu, Gus Dur santai saat memberi tanggapan ringan. Makmum yang mendapati imamnya batal dalam shalat, terdapat dua pilihan ; shalat sendiri, atau mencari imam lain.
Bagaimana jika pemimpin bangsa yang batal sebagai imam? Di dalam shalat, bila imam lupa dalam bacaan, diingatkan makmum dan imam mendengarkan lalu ingatannya muncul lagi. Bacaan yang sejenak terlupa kemudian teringat kembali. Bagaimana bila pemimpin bangsa yang lupa kemudian diingatkan tetapi tidak mau mendengar?
Frase tidak mau mendengar, tidak sama dengan tuna rungu. Ini semacam arogansi kuasa sebagaimana Louis XIV di Prancis yang bengis, arogan, kejam dalam suasana rakyatnya yang kelaparan, saat itu, di rentang tahun 1643 – 1715. Ia berkuasa selama 72 tahun, empat puluh tahun lebih lama dibanding Soeharto yang hanya berkuasa 32 tahun.
Baik Louis XIV maupun Soeharto, keduanya meninggal karena digerogoti penyakit. Louis terkena gangren (pembusukan jaringan tubuh) yang disebabkan oleh jamur, kromoblastomikosis. Sedangkan Soeharto, meninggal sebab komplikasi (paru-paru, ginjal, jantung, dan gangguan pencernaan.
Benar kata Ariel, tak ada yang abadi. Tetapi ketidakabadian inilah yang kadang membuat pihak tertentu lupa. Ada yang hendak berkuasa secara berkelanjutan. Jika dirinya tak bisa melanjutkan kuasa, anaknya dititipkan supaya kuasa terus dipegang erat-erat.
Padahal, pemegangan atas apapun yang seolah tidak ingin dilepaskan, di sinilah fatsunnya, tentang kenestapaan itu. Ia lupa bahwa teori kemelakatan itu sangat menyedihkan, menyiksa.
Yang cinta pacar sedalam mungkin dalam lekat, akan terasa akibatnya ketika terpisahkan. Yang mendekap kekuasaan seerat lekat, akan terasa sangat kesepian saat kekuasaan itu terlempar. Yang cinta harta, ia juga akan tersiksa manakala hartanya habis atau hilang secara perlahan. Semua itu karena terjebak pada teori kemelekatan itu sendiri. Sebab sejatinya, tidak ada yang benar-benar melekat.
Tetapi dalam reportoar tertentu, tiba-tiba terdapat mentri yang memanggul sekarung beras untuk disumbangkan kepada korban bencana. Semangatnya sudah benar, mengadaptasi khalifah, Umar bin Khattab. Ia lupa bahwa Umar benar-benar membawa beras, just do it.
Tetapi khalifah saat ini, ia tidak hanya memanggul beras, tetapi membawa cameraman juga, supaya derapnya ter-shoot dengan baik, dan dipublikasikan ke seantero jagat, menegaskan dirinya ada. Apakah salah? Tentu tidak, masalahnya apakah harus seludruk itu?
Jadi teringat kisah seorang tuna netra yang membawa obor di malam hari. Ia sendiri sudah tidak bisa melihat cahaya, dan mata biasa memungkinkan untuk menilai gila pada tuna netra ini, seolah-olah tidak ada gunanya.
Ketika ada yang bertanya untuk apa si tuna netra membawa lentara di gelap cahaya, jawabannya mengagetkan banyak pihak yang tidak tuna netra ; “Meski saya buta, dan tetap menggenggam lentera, supaya yang bisa melihat, tidak menabrak saya”.
Nyatanya, dalam cerita kebangsaan republiken, tabrak-menabrak kerap terjadi. Mereka tidak saja menabrak kolega, lawan, penghalang, dan pengingatnya, ia menabrak akal sehatnya sendiri, segarang itu. Ia memposisikan diri sebagai penguasa rimba, serupa singa di belantara.
Tetapi di sisi lain, ia lupa bahwa segarang-garangnya singa, bahwa singa hanyalah binatang tontonan yang terhina di arena sirkus. Itulah sebabnya, Kevin Costner tidak memilih Dances with Lions dalam debut sinematografi, melainkan memilih diksi Dances with Wolves (1990). Serigala mungkin kalah dalam bertarung melawan singa, tetapi serigala tidak mau ditindas dalam sirkus.
Oleh karena itu, jangan-jangan pemimpin yang diyakini tegas di dalam negeri terutama saat di panggung menjadi singa podium, namun ketika berkunjung ke luar negeri, tak lebih sebagai singa yang ditindas karena tak lebih sebagai properti dalam sirkus yang mereka buat? Jangan-jangan, memang ya.
Serupa seseorang yang meledak-meledak di bumi ini tetapi di depan Uncle Sam, hanya dijadikan tukang pegang stop map. Serapuh itukah sebagaimana seekor singa saat bersaksi di depan Ya’cub ketika dimintai keterangan sebagai pemangsa Yusuf?
Mungkin perlu belajar menjadi singa kepada Sisingamangaraja XII (Patuan Bosar Sinambela), teguh prinsip dan pantang menyerah, terutama dalam menolak imperialisme. (*)













