PAMEKASAN || KLIKMADURA – Fenomena penyegelan lembaga pendidikan di Kabupaten Pamekasan mulai menjadi perhatian publik. Setelah kasus yang terjadi di SDN Tamberu 2, kini persoalan serupa juga menimpa SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan. Situasi tersebut mendapat sorotan serius dari DPD Partai Gelora Kabupaten Pamekasan.
Ketua DPD Partai Gelora Pamekasan Mohammad Saedy Romli menegaskan, sekolah seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar serta membangun masa depan.
Karena itu, konflik yang berujung pada penyegelan sekolah dinilai sangat memprihatinkan.
“Kalau sudah seperti ini siapa yang menjadi korban? Tentu para siswa. Kasihan mereka,” ujarnya.
Menurut Edy, persoalan apa pun yang terjadi di internal lembaga maupun persoalan pribadi semestinya tidak sampai mengganggu aktivitas pendidikan. Sebab, dampak paling besar justru dirasakan para siswa yang kehilangan hak belajar secara normal.
Ia pun mengajak semua pihak untuk menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin dan mengedepankan musyawarah. Menurutnya, keputusan yang diambil dalam kondisi emosi hanya akan memperpanjang konflik.
“Karena kalau sedang amarah tidak diperkenankan mengambil keputusan, makanya hadapi dengan kepala dingin,” katanya.
Politikus yang juga menjabat Ketua Fraksi Gelora Perjuangan DPRD Kabupaten Pamekasan itu menilai, pemerintah daerah harus hadir dalam situasi seperti ini.
Pemerintah diharapkan tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktif mencarikan jalan keluar agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan, kata dia, yakni menyediakan tempat belajar sementara bagi sekolah yang terdampak penyegelan. Selain itu, sistem pembelajaran daring juga dapat menjadi alternatif sementara agar siswa tidak kehilangan waktu belajar.
“Bisa dengan solusi-solusi lain seperti Kegiatan Belajar Mengajar menggunakan sistem online,” tegasnya.
Edy berharap persoalan penyegelan sekolah di Pamekasan tidak terus berulang. Ia meminta semua pihak menjadikan kepentingan siswa sebagai prioritas utama dalam setiap penyelesaian konflik.
“Benar-benar kasihan para siswa. Harusnya bisa belajar dengan layak malah mendapatkan kejadian seperti ini,” pungkasnya. (enk/nda)













