Oleh: Lailatul Firdausi, Dosen Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Universitas Al-Amien Prenduan.
****
BULAN Ramadhan memiliki tradisi yang menjadi pembeda dari bulan lainnya, dimana pada bulan Ramadhan terdapat aktivitas rutin umat muslim yakni sahur, puasa, berbuka puasa dan tarawih. Pada bulan ini menjadi ajang memperbanyak pahala dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tidak sedikit orang tua yang memiliki anak usia 4-6 tahun, ikut serta mengajak anaknya berpuasa di bulan Ramadhan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah anak usia 4-6 tahun harus berpuasa penuh? Atau justru yang lebih penting yakni menumbuhkan rasa cinta terhadap Ramadhan?
Nah, dari sini kita harus memperkuat mindset bahwa puasa bagi anak usia 4-6 tahun bukan suatu kewajiban, akan tetapi suatu proses pendidikan dalam mengenal Ramadhan. Mengajarkan anak berpuasa bukan tekanan, akan tetapi memfasilitasi perkembangan religius dan spiritual anak secara bertahap, sehingga secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa cinta terhadap bulan Ramadhan.
Anak Tumbuh melalui Pengalaman, bukan Tekanan
Menurut teori kognitif Jean Piaget menyatakan bahwa anak usia 4-6 tahun merupakan fase anak belajar melalui pengalaman langsung, dan mencontoh perilaku disekitarnya. Hal ini berarti bahwa, seorang anak belum sepenuhnya memahami makna puasa, menahan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Justru yang dipahami oleh anak yakni aktivitas bangun sahur dengan keluarga, menanti untuk berbuka puasa, dan mendapatkan apresiasi ketika anak tersebut berhasil untuk menahan lapar beberapa jam.
Sehingga, dalam mengenalkan makna berpuasa di bulan Ramadhan, sebaiknya tanpa adanya tekanan maupun paksaan dari orang tua, agar tidak bertentangan dengan prinsip perkembangan anak, sebab dalam hal ini yang paling penting yakni proses mengenalkan kepada anak secara bertahap dan berulang, menyesuaikan dengan tingkat kesiapan anak.
Perspektif Islam: Ajari Anak Beribadah Secara Bertahap
Islam memberikan kewajiban untuk berpuasa saat anak sudah akil baligh, artinya dalam islam tidak ada paksaan berpuasa bagi anak sebelum mereka baligh, dengan demikian dalam mengenalkan puasa pada anak terutama usia 4-6 tahun, sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan perkembangan anak.
Namun, realita yang sering terjadi di masyarakat adalah banyak orang tua yang memaksa anak untuk berpuasa tanpa melihat kesiapan pada anak, bahkan beberapa dari orang tua beranggapan bahwa anak yang tidak kuat berpuasa sering dipandang lemah, dan belum mampu menahan lapar. Kondisi ini memicu pengalaman religius anak yang negatif, sehingga memunculkan rasa takut terhadap agama.
Seni Mengajarkan Puasa Pada Anak
Mengenalkan puasa kepada anak dibutuhkan seni pembinaan yang mengkolaborasikan antara nilai-nilai keagamaan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Penjelasan berikut merupakan beberapa alternatif pendekatan yang dapat diterapkan pada anak.
Belajar puasa secara bertahap
Puasa pada anak bisa dimulai secara bertahap, misalnya hari pertama berpuasa dimulai dari setelah sahur sampai pukul 09.00 pagi kemudian anak diperbolehkan untuk makan. Pada hari kedua ajarkan anak untuk puasa hingga pukul 10.00 pagi. Kemudian dihari selanjutnya kenalkan anak dengan puasa setengah hari. Penerapan puasa yang dilakukan secara bertahap ini, membantu anak beradaptasi dan menjalankan puasa secara menyenangkan.
Nilai ibadah pada maknanya, bukan lamanya
Saat menjalankan ibadah puasa, ajarkan juga kepada anak untuk senantiasa bersabar, berbagi, dan peduli terhadap orang lain, hal ini sama dengan mengajarkan kepada anak bahwa puasa bukan hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum, tetapi secara tidak langsung membentuk karakter dan sikap sosial pada anak. Setiap anak tentunya memiliki durasi puasa yang berbeda, tergantung kesiapan, pertumbuhan dan tahapan perkembangannya.
Durasi puasa pada anak bukan menjadi patokan keberhasilan anak dalam berpuasa, akan tetapi mengajarkan bagaimana anak memahami makna puasa dan sesuai kemampuannya.
Membangun Ramadhan yang seru dan menyenangkan
Selama bulan Ramadhan senantiasa libatkan anak dalam berbagai hal, misalnya menyiapkan buka puasa dan sahur, memilih menu buka puasa dan sahur, berbagi takjil kepada orang lain, mempersiapkan hidangan saat menjelang hari raya, dan memilih baju yang akan digunakan saat hari kemenagan tiba. Keterlibatan dengan anak ini menjadi poin dalam menumbuhkan rasa semangat anak, dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan menyenangkan.
Memberikan apresiasi, bukan hukuman
Setiap pencapaian dalam kegiatan ibadah pada anak, sebagai orang tua sebaiknya memberikan apresiasi misalnya, anak berhasil melakasanakan puasa dari sahur sampai pukul 10.00 pagi, sebagai orang tua bisa memberikan apresiasi dengan pujian, seperti “wah kamu hebat sekali, sekarang puasanya sudah sampai pukul 10.00, besok lebih ditingkatkan lagi ya”. Nah apresiasi dari orang tua ini secara tidak langsung menjadi motivasi dan semangat anak untuk terus menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.
Sebaliknya, jika anak tidak mampu meningkatkan puasa atau bahkan lebih sedikit durasinya, maka orang tua tetap memberikan apresiasi atau pujian misalnya, “tidak apa hari ini puasanya sampai pukul 08.00, besok dicoba lagi kamu pasti bisa, semangat ya”. Pujian sederhana tersebut mampu meningkatkan percaya diri anak untuk mencoba kembali berpuasa dihari berikutnya.
Pada hakikatnya mengajarkan berpuasa pada anak merupakan upaya menanamkan rasa cinta dan keteladanan terhadap bulan Ramadhan, dan menjadikan bulan Ramadhan sebagai sarana anak untuk belajar mengenal penciptanya sejak dini. (*)
—–
Penulis merupakan dosen dan tutor Pendidikan Anak Usia Dini yang aktif mengkaji pendidikan keluarga, pengasuhan anak, dan pembentukan karakter religius anak usia dini dalam perspektif pendidikan dan keislaman.














