Oleh: Ayu Ramadhani, Mahasiswi Universitas Airlangga
****
SUMENEP || KLIKMADURA – Sabtu siang, 19 September 2026, Ruang Rapat Arya Wiraraja di Kantor Bupati Sumenep dipenuhi wajah-wajah dari empat penjuru Madura.
Mereka datang dalam tradisi silaturahmi antarduta wisata se-Madura bertajuk “Temmo Kerrong”, sebuah agenda yang terus dijaga Paguyuban Kacong Cebbing sebagai ruang bagi para duta wisata dari empat kabupaten di Pulau Garam untuk berkumpul, bertukar wawasan, dan menyatukan visi promosi pariwisata lintas daerah.
Saya hadir sebagai salah satu delegasi duta wisata Kabupaten Pamekasan. Ada harapan sederhana yang saya bawa, yakni pulang dengan relasi baru dan wawasan segar tentang dunia pariwisata.
Acara dibuka dengan sesi formal yang diwakili langsung Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa duta wisata masa kini tidak lagi bisa hanya mengandalkan pola promosi konvensional.
“Kalian adalah ujung tombak yang bertugas menjual keindahan daerah masing-masing. Oleh karena itu, duta wisata ke depan harus cakap teknologi,” tegasnya.
Pesan tersebut terasa relevan dengan perkembangan promosi pariwisata saat ini. Sebagai duta daerah, kami memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan potensi wisata melalui berbagai inovasi digital.
Persaingan promosi wisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah sebuah destinasi, tetapi juga oleh kemampuan daerah menjangkau audiens secara luas melalui teknologi.
Namun, bagi saya, momen paling membekas justru hadir setelah sesi diskusi selesai. Bersama rombongan duta wisata dari berbagai kabupaten, saya diajak menjelajahi sejumlah destinasi unggulan Sumenep.
Perjalanan dimulai dengan napak tilas sejarah di Keraton Sumenep dan Masjid Jamik, kemudian melihat proses kriya di sentra batik, hingga berakhir di destinasi penutup, Bukit Tawap.
Di Bukit Tawap, suasana perlahan berubah. Udara sejuk dan panorama alam menjadi latar yang sempurna untuk mencairkan sekat-sekat kedaerahan yang mungkin masih terasa pada awal pertemuan.
Berbagai permainan kelompok digelar secara spontan. Tawa dan kekompakan pun muncul di antara duta wisata dari empat kabupaten. Mereka yang sebelumnya saling menyapa secara formal sebagai “perwakilan daerah” perlahan berubah menjadi obrolan hangat layaknya saudara lama yang baru kembali bertemu.
Justru melalui permainan sederhana itulah chemistry antarduta wisata terbentuk. Ada sesuatu yang tidak selalu bisa dicapai melalui diskusi formal di ruang rapat, yakni rasa dekat, saling mengenal, dan keinginan untuk membangun sesuatu secara bersama-sama.
Ketua PKC Sumenep, Khairil Anwar, yang juga merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi di Madura, menuturkan bahwa semangat “Temmo Kerong” lahir dari keinginan menyatukan visi para duta wisata lintas daerah.
Menurutnya, setiap kabupaten di Madura memiliki keunikan dan potensi wisata masing-masing. Keberagaman tersebut justru dapat menjadi kekuatan apabila dikelola secara bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Forum seperti “Temmo Kerrong”, kata dia, menjadi ruang penting untuk merumuskan strategi bersama. Lebih dari itu, hubungan yang terbangun antarduta wisata diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi berlanjut dalam bentuk kolaborasi promosi yang nyata di lapangan.
Bagi saya sebagai delegasi dari Pamekasan, perjalanan pulang dari Sumenep membawa lebih dari sekadar wawasan mengenai pariwisata dan promosi digital.
Saya membawa jejaring pertemanan baru lintas kabupaten. Lebih dari itu, saya pulang dengan keyakinan bahwa pariwisata Madura akan memiliki daya dorong yang lebih kuat apabila dipromosikan secara kolektif.
Bukan hanya Sumenep, Pamekasan, Sampang, atau Bangkalan yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan empat kabupaten yang saling menggandeng dan memperkenalkan satu sama lain.
“Temmo Kerrong” pada akhirnya bukan sekadar pertemuan antarduta wisata. Ia menjadi pengingat bahwa Madura memiliki banyak potensi yang bisa dirajut menjadi satu cerita besar.
Sebab, ikatan yang kuat terkadang tidak lahir dari meja rapat, tetapi dari tawa yang dibagikan bersama di atas bukit. (*)














