SUMENEP || KLIKMADURA – Kendaraan becak motor (bentor) lalu lalang di halaman Pelabuhan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Minggu (18/10/2026). Jarum jam menunjukkan pukul 08.30 WIB. Ombak bergemuruh. Terik mentari mulai menyengat kulit. Sementara, Kapal Express Bahari 3C tampak berlenggak-lenggok mengikuti irama debur ombak.
Kapal berkapasitas 245 penumpang ini akan saya tumpangi menuju Pelabuhan Batu Guluk, Pulau Kangean. Pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Cukir ini memang bukan tujuan utama saya. Tujuan saya berlayar kali ini adalah Pulau Saobi. Salah satu pulau kecil yang secara administrasi masuk Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean. Tapi, tidak ada tempat lain, kapal berkecepatan 18,9 knots atau sekitar 35 kilometer perjam itu hanya bisa berlabuh di pelabuhan tersebut.
Satu persatu penumpang mulai memasukkan barang bawaan ke dalam kapal. Rata-rata, barang-barang tersebut dibungkus kardus. Ada sebagian dibungkus plastik. Pemandangan yang begitu indah itu semakin terasa lengkap dengan gelak tawa anak-anak kecil yang ikut berlayar.
Tepat pukul 09.00 WIB, kapal buatan tahun 2010 itu angkat jangkar, kemudian berlayar menuju pulau habitat asli ayam bekisar. Perjalanan dari Pelabuhan Kalianget menuju Pelabuhan Batu Guluk memerlukan waktu sekitar 4 jam.
Irama musik dangdut menemani sepanjang perjalanan. Ikan-ikan terlihat berkejaran. Sebagian penumpang, terlelap dengan begitu pulas. Ada pula, penumpang yang terlihat sibuk mengabadikan pemandangan laut lepas.
Tanpa terasa, sudah empat jam mengarungi lautan. Kapal bersiap sandar. Sementara dari kejauhan, terlihat pemuda berbadan kecil berada di ujung pelabuhan terbesar di Pulau Kangean itu. Dia adalah Solihin. Seorang pemuda berusia 29 tahun yang akan menemani saya selama berada di Pulau Kangean.
Kami berdua kemudian menuju Sungai Batu-batu, Desa Gelaman, Kecamatan Arjasa. Di sungai ini, tersedia jasa penyeberangan menggunakan perahu kecil menuju Pulau Saobi. Waktu tempuh menuju pulau tujuan kami itu kisaran 1 jam.
Setibanya di Pulau Saobi, kami melanjutkan perjalanan menggunakan motor menuju rumah Solihin. Saat laju kendaraan tiba di Dusun Inpres, mata ditakjubkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero.

Perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara itu berhasil menjangkau masyarakat kepulauan terluar Pulau Madura. Saya sempat memotret bangunan PLTS itu. Sayangnya, tidak ada satu pun petugas sehingga saya tidak bisa masuk dan tidak bisa memotret dari jarak dekat.
Solihin mengatakan, PLTS di Desa / Pulau Saobi diresmikan pada 2019 oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Kemudian, listrik dari pembangkit tersebut secara resmi dialirkan ke rumah-rumah penduduk pada April 2020.
Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam kegelapan akhirnya bisa menikmati energi listrik selama 12 jam perhari. Keberadaan pembangkit listrik itu membuka lembar kehidupan baru. Semangat baru, hingga mimpi-mimpi baru.
Menurut Solihin, sebelum PLTS masuk, aktivitas masyarakat serba terbatas. Bahkan, layanan pendidikan, kesehatan dan layanan publik lainnya juga sangat terbatas sehingga mempengaruhi perkembangan sumber daya manusia (SDM) yang ada.
Anak-anak di Desa / Pulau Saobi tidak hanya mengandalkan pendidikan formal. Tetapi, mereka juga ditempa dengan pendidikan nonformal seperti madrasah diniyah pada sore hari dan malam harinya mengaji di langgar.
Namun, aktivitas belajar tersebut sangat terbatas. Digitalisasi tidak begitu massif di lembaga pendidikan lantaran tidak ada energi listrik. Bahkan, saat malam hari, para generasi penerus bangsa itu harus menggunakan senter agar bisa belajar dan mengaji di langgar.
”Alhamdulillah setelah adanya PLTS, anak-anak di pulau kami bisa belajar dengan lebih baik dan lebih mengenal dunia digital. Bagi kami, listrik adalah kebutuhan utama,” kata tokoh pemuda Pulau Saobi tersebut.
Solihin mengatakan, keberadaan listrik juga berdampak positif terhadap semangat anak-anak muda Pulau Saobi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat sekarang, tidak sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi untuk mengejar mimpi.
Roda perekenomian setelah adanya PLTS di Pulau Saobi juga mengalami tren positif. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terus tumbuh dan meningkat. Bahkan, muncul bermacam usaha rumahan yang dimotori oleh ibu-ibu nelayan.
”Saat musim paceklik, ibu-ibu melalui usaha yang dikembangkan bisa membantu perekonomian keluarga. Usaha-usaha ini bisa berjalan karena adanya listrik yang disediakan oleh PLN,” katanya.
Solihin menyampaikan, terima kasih kepada PT. PLN (Persero) yang telah menyediakan layanan listrik untuk warga kepulaluan terluar Madura. Dia berharap, layanan tersebut bisa terus ditingkatkan. Mengingat, masih ada beberapa pulau yang belum tersentuh aliran listrik.
Di Pulau Saobi, terdapat sembilan dusun. Namun, saat sekarang, baru tujuh dusun yang teraliri listrik. Yakni, Dusun Jembatan, Timur Sungai, Masjid, Inpres, Balai, Lao’anna dan Dusun Sapapan. Sementara, dua dusun yang belum teraliri listrik yakni, Dusun Pajenassem dan Bungin Nyarat.
”Semoga nantinya, semua dusun di Pulau Saobi bisa teraliri listrik sehingga seluruh masyarakat dapat beraktivitas dengan baik, pendidikan berjalan dengan baik dan perekonomian masyarakat semakin baik,” katanya.
Sementara itu, Manajer PT. PLN (Persero), Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kepulauan Kangean, Hairul Ismail mengatakan, pihaknya akan terus memaksimalkan layanan. Penambahan kapasitas kelistrikan di Pulau Saobi menjadi perhatian khusus.
“Saat ini, sedang dilakukan proses survei dan kunjungan lapangan (site visit) ke pulau-pulau untuk mengidentifikasi kebutuhan serta menentukan langkah pengembangan kelistrikan secara bertahap,” katanya.
Hairul mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, untuk bersama-sama peduli dan menjaga fasilitas PLTS. Dengan demikian, pembangkit listrik tersebut dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.
Terdepat beberapa tindakan pemeliharaan jaringan listrik yang bisa dikolaborasikan dengan masyarakat. Di antaranya, pemangkasan pohon atau ranting yang menghalangi sinar matahari ke panel surya.
Kemudian, menjaga kebersihan lingkungan PLTS agar aman dari hewan melata yang berpotensi merusak atau menggigit kabel instalasi. Lalu, menggunakan listrik secara bijak sesuai kebutuhan dan daya yang tersedia.
Masyarakat juga dihimbau untuk mengoptimalkan penggunaan peralatan listrik berdaya besar pada siang hari saat energi surya tersedia. Sementara, pada malam hari, memprioritaskan kebutuhan penerangan dan peralatan penting lainnya.
“Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengoptimalkan pemanfaatan energi surya, menjaga ketahanan baterai, serta mendukung jam operasional listrik agar dapat berlangsung lebih lama sesuai kapasitas sistem yang tersedia,” terangnya.
Hairul mengatakan, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri untuk memaksimalkan pelayanan kelistrikan. Dibutuhkan sinergitas dari pemerintahan desa, masyarakat dan seluruh pihak lainnya.
“Kami akan terus berupaya agar pelayanan kelistrikan di Pulau Saobi semakin baik, andal, dan berkelanjutan. Tentunya, kami butuh dukungan dan sinergitas dari semua pihak,” katanya. (nda)














