SUMENEP || KLIKMADURA – Dukungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap inisiatif Board of Peace menuai kritik dari kalangan muda NU Jawa Timur.
Aktivis Muda NU Jatim, Siswadi, menilai langkah tersebut patut ditinjau ulang karena dinilai tidak sejalan dengan komitmen NU terhadap perjuangan kemanusiaan dan politik luar negeri Indonesia.
Siswadi menegaskan bahwa Board of Peace berasal dari inisiatif Donald Trump. Ia menilai, rekam jejak politik luar negeri Trump tidak pernah berpihak pada keadilan, terutama bagi rakyat Palestina.
“NU selama ini berdiri di atas nilai kemanusiaan universal, bukan pada kepentingan negara adidaya,” ujarnya.
Ia mempertanyakan alasan NU harus mengikuti proyek yang dinilainya sering mengabaikan penderitaan bangsa tertindas.
Siswadi juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.
“Prinsip bebas aktif bukan slogan, tetapi komitmen moral Indonesia untuk tidak menjadi alat kepentingan siapa pun,” tuturnya.
Ia menilai inisiatif Board of Peace tidak membawa keuntungan berarti bagi perjuangan Palestina.
Menurutnya, proyek semacam itu hanya memoles konflik tanpa menyentuh akar persoalan, yaitu penjajahan dan ketidakadilan..Perdamaian, kata Siswadi, tidak bisa dibangun di atas proyek simbolik.
“Perdamaian tanpa keadilan itu semu, dan kita harus berani menyebut siapa yang menindas dan siapa yang ditindas,” ungkapnya.
Siswadi berharap PBNU meninjau kembali sikapnya terkait dukungan terhadap Board of Peace.
Ia menyebut bahwa PBNU seharusnya tetap menjadi penuntun moral, bukan bagian dari agenda global yang tidak sejalan dengan nilai kemanusiaan NU.
“Menjaga NU berarti menjaga keberpihakan pada kemanusiaan, keadilan, dan kemerdekaan bangsa tertindas termasuk Palestina,” tandasnya. (nda)














