Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel

- Jurnalis

Sabtu, 4 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi buku Laut Bercerita-Leila S. Chudori bersama Ramzi Ahmad M dan Widya Sukma H.M di kafe Balada Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Diskusi buku Laut Bercerita-Leila S. Chudori bersama Ramzi Ahmad M dan Widya Sukma H.M di kafe Balada Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Gerakan aktivis mahasiswa di tahun 1998 untuk melawan orde baru memang selalu hangat diperbincangkan di beberapa diskusi publik. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori berhasil menjadi sorotan para pembaca untuk mengulas sejarah kelam Indonesia kala itu.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan || Klik Madura.

MENGINGAT sejarah tidak harus mengulang kejadian serupa, buku bisa menjadi jalan untuk mengetahui keadaan di masa-masa sebelumnya. Leila S. Chudori menulis novel Laut Bercerita tidak sekedar merangkai beberapa kata.

Namun mengumpulkan beberapa data selama lima tahun denga melakukan riset yang mendalam, membaca arsip hingga mewawancarai korban dan keluarga aktivis korban di tahun 1998.

Kafe yang bernuansa putih yang berada di pinggir jalan di daerah Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan itu selalu memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendiskusikan beberapa buku.

Kali ini novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menjadi sajian hangat di Jumat (3/7/2026) malam itu di temani aroma kopi yang nikmat.

Yang hadir lumayan banyak, dari beberapa generasi, ada generasi milenial, gen-Z bahkan juga gen alpha yang baru menginjak jenjang SMA. Hal itu dapat dibuktikan betapa antusiasnya masyarakat Kabupaten Pamekasan terhadap diskusi-diskusi buku ini.

Baca juga :  Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Pengulas kali ini Ramzi Ahmad M calon mahasiswa baru Unesa yang ditemani Widya Sukma H.M sebagai pemandu diskusi santai malam itu. Dalam pemaparannya pria yang akrab disapa Aam ini menyebutkan novel Laut Bercerita ini pertamakali terbit di tahun 2017 yang sebelumnya penulis melakukan riset secara mendalam kurang lebih 5 tahun.

“Buku ini bergenre historical fiction. Mengisahkan sang tokoh utama Biru Laut bersama teman-temannya seperti Sunu, Alex, Daniel, Naratama dan juga Bram yang tergabung di organisasi mahasiswa bernama Winatra yang dipimpin oleh Kasih Kinanti yang bergerak melalui diskusi sastra, sosial dan politik untuk melawan rezim orde baru kala itu,” jelasnya.

Novel Laut Bercerita ini tidak hanya mengangkat kisah perlawanan para aktivis mahasiswa terhadap pemerintahan orde baru. Namun, juga mengajarkan tentang kehilangan orang-orang yang dicintai, terkasih, juga seorang Kakak yang hilang tanpa meninggalkan jejak.

Hal itu menjadi trauma psikologis bagi keluarga korban dan juga aktivis yang kembali usai mendapatkan siksaan yang teramat keji dari pemerintah. Ada tiga unsur gangguan psikologis menurut Aam yang menimpa keluarga tokoh Laut dan Alex yang bisa kembali pulang ke pelukan keluarga.

Baca juga :  Antara Komitmen dan Setia

“Kalau untuk keluarga korban yang hilang itu menderita gangguan psikologis yang namanya ambiguous loss. Kemudian bagi para aktivis yang bisa kembali itu mengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan biasanya memiliki perasaan Survivor Guilt,” ujar Aam.

Adapun untuk Ambiguous Loss itu sendiri yakni perasaan kehilangan yang terjadi tanpa adanya kepastian, penyelasain ataupun kejelasan. Hal ini tergambar dari situasi keluarga para korban aktivis yang hilang bahkan sampai saat ini tidak ada kabarnya, misal meninggal itu dikubur dimana? Misal masih hidup sekarang ada dimana? Tidak ada yang tahu.

Sedangkan bagi aktivis yang bisa kembali usai mendapatkan penyiksaan yang sangat kejam yang digambarkan pada novel itu seperti di setrum, di gantung pada posisi terbalik, mata di tutup yang hanya dibuka ketika ke kamar mandi, dan sebagainya. Itu mengidap sindrom survivor guit dimana keadaan psikologis yang merasa bersalah, malu atau tertekan secara berlebihan karena selamat dari kejadian itu.

“Dan itu biasanya menjadi gejala dari PTSD itu sendiri dimana kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan hingga mengancam jiwanya,” terang Aam.

Baca juga :  Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”

Diskusi terus berjalan, beberapa pertanyaan juga berdatangan dari para peserta diskusi. Mulai dari menanyakan perihal pentingnya politik di kehidupan sehari-hari, tentang pentingnya aksi dalam bentuk menyampaikan pendapat kepada pemerintah, dan sebagainya.

Terlebih, di momen saat ini menyampaikan aspirasi kepada pemerintah tidak cukup saat aksi. Namun, bersuara di media sosial tanpa henti juga menjadi salah satu jalan agar suara masyarakat bisa di dengar oleh pemerintah.

“Karena kalau mau berbicara aksi, ada aksi damai yang sudah dilakukan sejak tahun 2007 lalu. Seperti yang dilakukan Asmara Jati adik dari Biru Laut, kemudian Bram, Aswin, Alex juga Anjani kekasih Laut serta Ibu Arya Wibisana orang tua dsri Laut. Itu ada di halaman 367 di novelnya,” ujar Aam.

Pengulasan Buku Laut Bercerita selesai tepat di pukul 22.00 WIB, para peserta diskusi merasa puas pada kegiatan kali ini.

“Dan ini yang bisa dirasakan kalau bisa memilih mau pilih apa? Mana yang lebih sulit: kehilangan seseorang atau hidup tanpa pernah mengetahui nasibnya,” tulis Aam. (*)

Berita Terkait

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy
Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”
Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto
Makna Cinta
Belajar Tulus dari Hati Suhita
Kumpulan Sajak Nuril Izza Afgarina
[CERPEN] You Can Call Me, Saaa…
Antara Komitmen dan Setia

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:51 WIB

Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:04 WIB

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Selasa, 19 Mei 2026 - 05:41 WIB

Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”

Jumat, 15 Mei 2026 - 02:22 WIB

Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto

Minggu, 23 November 2025 - 02:17 WIB

Makna Cinta

Berita Terbaru