Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.
****
BARANGKALI, manusia tidak pernah benar-benar siap menghadapi kehilangan. Sebab kehilangan selalu datang diam-diam. Tidak mengetuk pintu. Tidak meminta izin. Ia masuk begitu saja ke dalam hidup seseorang, lalu mengubah seluruh warna dunia di matanya. Dan sejak itu, tak ada lagi yang benar-benar sama.
Begitulah barangkali yang dirasakan Budi Hariyanto (BH. Riyanto) ketika dua perempuan paling penting dalam hidupnya pergi dalam waktu yang hampir berdekatan.
Juli 2025, istrinya wafat. Tiga bulan setelahnya, Oktober 2025, ibundanya menyusul pulang ke pangkuan keabadian. Dua kehilangan itu seperti dua musim kemarau yang datang berturut-turut. Panjang, kering, dan menyisakan retak di banyak sudut jiwa.
Kesedihan memang tidak selalu menangis keras. Kadang ia hanya menjadi sunyi yang menetap lama di dalam dada. Sunyi yang membuat seseorang lebih sering termenung di halaman rumah. Lebih lama memandangi langit sore. Lebih peka mendengar suara angin yang menggoyang ranting-ranting tua.
Dan dari kesunyian itulah semuanya bermula.
Pak Budi – begitu saya memanggilnya – mulai memperhatikan daun-daun yang berguguran di halaman rumahnya. Daun yang semula hijau, segar, muda, dan tampak begitu hidup.
Daun yang sebelumnya menari bersama cahaya matahari. Namun perlahan berubah warna. Menguning. Mengering. Rapuh. Lalu jatuh ke tanah tanpa suara.
Bukankah manusia juga demikian? Kita lahir seperti daun muda. Hijau, indah, penuh harapan. Kita tumbuh dengan mimpi-mimpi yang bergelantungan di ranting usia. Kita merasa hidup akan panjang dan waktu akan selalu berpihak kepada kita.
Tetapi kehidupan diam-diam bekerja seperti musim. Ia mengubah segalanya tanpa meminta persetujuan siapa pun. Rambut yang dulu hitam mulai memutih. Tubuh yang dulu tegap mulai membungkuk.
Orang-orang yang dulu menemani perlahan pergi satu demi satu. Hingga akhirnya manusia sadar bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat menuju gugur.
Mungkin karena itulah daun-daun begitu memikat hati Pak Guru Budi. Ia tidak sedang melihat tumbuhan. Ia sedang melihat dirinya sendiri.
Daun-daun itu kemudian menjelma menjadi bahasa yang tidak sanggup diucapkan mulut. Menjadi metafora tentang kehilangan yang terlalu dalam bila hanya dijelaskan dengan kata-kata biasa.
Maka Pak Budi memilih berbicara lewat warna. Lewat sapuan kuas. Lewat garis-garis yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kesedihan yang panjang. Lalu lahirlah pameran Kontemplasi Daun-Daun di Hotel Odaita, Pamekasan.
Namun pameran itu sesungguhnya bukan sekadar pameran lukisan. Ia adalah ruang sunyi tempat seorang manusia sedang berbicara dengan kenangannya sendiri.
Setiap lukisan terasa seperti halaman-halaman diary yang ditulis menggunakan air mata. Setiap warna tampak seperti serpihan perasaan yang jatuh perlahan dari hati yang patah.
Ada daun yang berdiri sendiri di tengah bidang kanvas yang gelap. Ia tampak kesepian seperti seseorang yang ditinggalkan separuh jiwanya. Ada daun-daun yang bertumpuk dan saling menempel seolah sedang berpelukan agar tidak ikut hanyut dibawa kesedihan.
Ada pula warna-warna terang yang muncul malu-malu di antara latar kelam seperti harapan kecil yang bertahan di tengah duka paling sunyi.
Seni bukan sekadar keindahan visual. Seni adalah cara manusia bertahan hidup ketika kata-kata tak lagi mampu menampung luka. Seni adalah tempat seseorang menyembunyikan tangis agar dunia tidak melihat betapa rapuh dirinya.
Sebab tidak semua orang bisa menangis di depan banyak manusia. Ada yang memilih diam. Ada yang memilih berdoa. Dan ada pula yang memilih melukis daun-daun gugur di atas kanvas.
Yang paling menggetarkan justru ketika Pak Budi menyadari bahwa beberapa corak dalam lukisannya ternyata mirip dengan pakaian-pakaian yang dulu sering dipakai almarhum istrinya.
Ia tidak pernah merencanakan motif-motif itu. Tangannya bergerak begitu saja mengikuti arus perasaan yang mengendap di dalam dirinya. Tetapi setelah lukisan selesai, ia seperti menemukan kembali jejak perempuan yang dicintainya di antara warna-warna yang tercipta tanpa sadar.
Ada motif yang menyerupai kerudung. Ada warna-warna yang mengingatkannya pada daster rumah sang istri. Ada lipatan-lipatan garis yang terasa seperti bayangan perempuan yang dulu menemaninya berbincang di ruang makan.
Bukankah cinta memang seperti itu? Ia tidak benar-benar pergi meski tubuh seseorang telah tiada. Cinta tinggal dalam ingatan. Dalam aroma rumah. Dalam kebiasaan kecil. Dalam warna pakaian. Dalam benda-benda sederhana yang tiba-tiba membuat dada sesak tanpa alasan.
Dan kadang, cinta yang kehilangan jalan pulang akan menemukan caranya sendiri untuk hidup kembali melalui lukisan, puisi, atau doa-doa yang dipanjatkan diam-diam setiap malam.
Pak Budi tampaknya sedang mengalami fase paling sunyi dalam hidup seorang manusia. Belajar ikhlas tanpa benar-benar siap melepaskan. Dan itu bukan perkara mudah. Sebab menerima kematian orang yang dicintai sejatinya sama dengan belajar hidup dengan ruang kosong yang tidak akan pernah bisa terisi sepenuhnya.
Tetapi hidup selalu punya cara aneh untuk menyembuhkan manusia. Kesedihan yang dipeluk terlalu lama kadang berubah menjadi kebijaksanaan. Luka yang dirawat dengan kesabaran kadang menjelma karya yang menghidupkan banyak perasaan orang lain.
Dan dari tangan Pak Budi, duka itu tumbuh menjadi daun-daun yang tidak lagi sekadar daun. Ia berubah menjadi simbol tentang kehidupan, tentang kefanaan, tentang cinta yang tetap hidup meski jasad seseorang telah lama terkubur tanah.
Pada akhirnya, manusia memang hanya daun-daun kecil di pohon semesta. Kita tumbuh. Kita menghijau. Kita menari sebentar bersama angin kehidupan.
Lalu perlahan mengering dimakan usia.
Dan suatu hari nanti, kita pun gugur.
Namun barangkali, yang membuat hidup menjadi berarti bukanlah seberapa lama kita bertahan di ranting dunia. Melainkan seberapa dalam kita meninggalkan rasa di hati orang-orang setelah kita tiada. Maaf. (*)













