Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tuhan, Dia Bukan Wakil-Mu

Tuhan, dia bukan wakil-Mu.

 

Dia berkata,

“Aku pinjam dulu.”

Namun tak pernah ia kembalikan.

Lalu katanya,

Engkau akan menggantinya di alam baka.

 

Dia berkata,

“Loncatlah ke jurang itu!”

Aku tak mau, Tuhan.

Namun katanya,

surga-Mu telah menantiku.

 

Dia berkata,

“Bunuh orang itu!”

Aku tak mau, Tuhan.

Namun katanya,

orang itu adalah musuhku.

 

Tuhan, dia mencintai-Mu.

Bibirnya basah memuji nama-Mu.

Tubuhnya kurus sebab memikirkan-Mu, Tuhan.

 

Namun dia tak suka memelihara ayam.

Dia lebih suka memelihara manusia,

manusia yang menjilati kotoran di kandangnya.

****

Dalam Doamu

Dalam doamu aku terasup—

bukan sekadar kata yang naik ke langit,

melainkan cahaya yang menembus kabut,

menjadi darah dan tulangku,

agar aku tetap tegak

saat dunia mengguncang tiang hidup.

 

Dalam doamu aku berusuk—

setiap helai doa yang kau ucapkan

menjadi kekuatan yang mengalir ke urat,

hingga ketika badai meruntuhkan banyak hal,

aku tak jatuh,

sebab kau telah menambatkanku

pada sesuatu yang lebih abadi dari waktu.

 

Dalam doamu aku bertanya—

ketika jalan tertutup kabut

dan takdir belum terbaca,

jawaban tak datang lewat suara,

melainkan lewat tenang yang kau kirimkan dari jauh,

seolah kau berbisik melintasi tahun:

 

“Pergilah.

Perlindungan telah kutitipkan

di setiap langkahmu.”

 

Dalam doamu pula aku mengadu—

bahwa dunia kadang tajam,

dan hati kadang retak oleh lelah.

Kaulah ruang paling sunyi dan aman,

tempat segala luka luruh menjadi damai,

tempat aku kembali menjadi anak kecil

yang tak perlu takut pada apa pun.

Baca juga :  Penyesalan Masa Tua

 

Biarlah aku tertidur,

merasakan telapak tanganmu yang kasar dan keriput—

bekas tanah,

bekas keringat,

bekas kasih yang tak terhitung.

Tangan itu mengusap rambutku perlahan,

menghapus cemas yang menumpuk di pelupuk mata.

 

Sentuhan itu tak pernah hilang.

Ia tertanam di kulitku,

berdenyut dalam ingatan,

lebih nyata dari apa pun

yang dapat dilihat mata.

 

Biarkan telingaku tetap terbuka,

menembus masa lalu yang mulai pudar,

mendengar bisikmu yang naik ke singgasana Tuhan:

 

“Jagalah dia.

Jauhkan dari bahaya dan gelap.

Berikan jalan yang terang,

seperti aku selalu mendoakannya.”

 

Doamu tak pernah sekadar bunyi, Nenek.

Ia adalah arus yang terus mengalir,

jembatan yang tak putus antara bumi dan langit,

payung yang kau rajut dari kasih dan air mata,

menjadi atap yang meneduhiku seumur hidup.

 

Meski ragamu telah lama pulang ke asalnya,

cahayamu tak pernah padam.

 

Setiap langkahku

adalah jejak dari doamu.

Setiap senyumku

adalah pantulan dari harapanmu.

Setiap keberanianku

adalah bagian dari kekuatan yang kau tinggalkan.

 

Dan pada setiap sujudku kelak,

akan kusebut namamu beriringan dengan nama-Nya,

karena doamu adalah warisan teragung—

tak habis dimakan waktu,

tak usang dimakan zaman.

 

Ia hidup di dalam diriku,

tumbuh, berbuah, lalu menyebar,

melampaui usia dan kematian,

menjadi kasih yang abadi,

yang tak akan pernah hilang dari dunia ini.

****

Aku Rakyat Jelata

Aku rakyat jelata,

 

mengunyah sisa panen

dan menelan janji yang tak pernah tiba.

Baca juga :  Kumpulan Sajak Nuril Izza Afgarina

 

Aku rakyat jelata,

 

yang saban hari mendengar tawa dari balik jendela kekuasaan,

sementara nasib kami dijadikan angka dalam pidato.

 

Sekolahku tak tinggi,

bukuku tak bertumpuk.

 

Namun hidup adalah guru yang tak pandai berdusta.

 

Maka aku tahu,

 

tak semua yang berilmu mengenal nurani,

tak semua yang berkuasa mengerti kebijaksanaan.

 

Sebab yang paling busuk

 

bukan beras di piringku,

bukan lumpur di jalan yang kupijak,

 

melainkan pikiran yang membusuk

di balik jas dan jabatan,

 

yang fasih berbicara tentang rakyat,

namun asing pada penderitaan rakyat,

 

lalu berdiri di hadapan kami

dan menyebut dirinya pemimpin.

****

Menempa Sunyi

Di lengkung langit yang enggan membuka pagi,

kita dua sauh yang terlepas dari janji.

Mencari dasar pada laut yang berganti wajah,

sementara pertemuan hanyalah riak yang singgah.

 

Takdir bersembunyi di lipatan waktu,

menjadi rindu yang mengetuk jendela kelabu.

Bukan tentang siapa paling lama menunggu,

melainkan siapa yang sanggup melepaskan tanpa membatu.

 

Kita pernah menitipkan nama pada tepi musim,

lalu menyaksikan waktu datang sebagai hakim.

Mengajarkan bahwa yang rapuh bukan degup di dada,

melainkan jarak yang perlahan kehilangan suara.

 

Kini kubiarkan sepi menjelma larik-larik cahaya,

menghangatkan sisa luka yang lama terjaga.

Di ujung air mata yang luruh tanpa gaduh,

cinta yang patah belajar tumbuh.

 

Dan bila suatu musim mempertemukan jejak,

tak ada lagi kesibukan menghitung retak.

Yang telah pergi tak meminta penyesalan,

ia tinggal sebagai arah bagi perjalanan.

Baca juga :  Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”

 

Maka kutempa sunyi menjadi nyala,

meski kecil, tetap menjaga cahaya.

Sebab kehilangan bukan penutup cerita,

melainkan pintu pertama menuju penerimaan.

****

Jatuh Cinta di Negeri yang Sakit

Aku jatuh cinta

ketika negeri ini batuk sepanjang musim.

Di trotoar,

poster-poster mengelupas dari tembok,

meninggalkan bekas lem

seperti janji yang lupa pada mulut pengucapnya.

Di persimpangan,

lampu-lampu masih berjaga semalaman,

namun wajah-wajah berlalu

dengan mata yang sibuk menghindari cermin.

Setiap pagi koran datang

membawa bau tinta dan kecemasan.

Nama-nama berganti,

tetapi luka tetap menemukan alamatnya.

Lalu kutemukan matamu.

Di sana

tak ada pengeras suara,

tak ada slogan yang dipoles berulang-ulang,

tak ada tangan yang berebut tepuk tangan.

Hanya keteduhan sederhana: segelas air di tengah kemarau panjang,

jendela yang masih terbuka

ketika banyak rumah memilih mengunci dirinya.

Maka kucintaimu diam-diam,

seperti seseorang melindungi nyala lilin

dengan kedua telapak yang hampir terbakar.

Sebab di negeri yang sakit ini,

harapan sering datang tanpa tanda jasa:

tumbuh di sela retak trotoar,

bertahan pada akar yang tak terlihat.

Dan mungkin cinta adalah salah satunya—

hal kecil yang tetap hidup

sesudah pidato usai,

sesudah baliho diturunkan,

sesudah banyak orang lupa

apa yang pernah mereka perjuangkan.

****

Biografi Penulis

Joni Efendy lahir pada 28 Oktober 2010. Ia merupakan santri aktif di Pondok Pesantren Nurul Muchlishin, Pakondang, Rubaru, Sumenep. Ia memiliki ketertarikan besar dalam dunia literasi, terutama membaca dan menulis, sebagai sarana memperluas wawasan serta menuangkan gagasan melalui karya tulis.

Berita Terkait

Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”
Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto
Makna Cinta
Belajar Tulus dari Hati Suhita
Kumpulan Sajak Nuril Izza Afgarina
[CERPEN] You Can Call Me, Saaa…
Antara Komitmen dan Setia
Kumpulan Puisi Fardan,d 

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:04 WIB

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Selasa, 19 Mei 2026 - 05:41 WIB

Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”

Jumat, 15 Mei 2026 - 02:22 WIB

Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto

Minggu, 23 November 2025 - 02:17 WIB

Makna Cinta

Minggu, 14 September 2025 - 01:35 WIB

Belajar Tulus dari Hati Suhita

Berita Terbaru

Sastra

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Kamis, 4 Jun 2026 - 06:04 WIB