Tuhan, Dia Bukan Wakil-Mu
Tuhan, dia bukan wakil-Mu.
Dia berkata,
“Aku pinjam dulu.”
Namun tak pernah ia kembalikan.
Lalu katanya,
Engkau akan menggantinya di alam baka.
Dia berkata,
“Loncatlah ke jurang itu!”
Aku tak mau, Tuhan.
Namun katanya,
surga-Mu telah menantiku.
Dia berkata,
“Bunuh orang itu!”
Aku tak mau, Tuhan.
Namun katanya,
orang itu adalah musuhku.
Tuhan, dia mencintai-Mu.
Bibirnya basah memuji nama-Mu.
Tubuhnya kurus sebab memikirkan-Mu, Tuhan.
Namun dia tak suka memelihara ayam.
Dia lebih suka memelihara manusia,
manusia yang menjilati kotoran di kandangnya.
****
Dalam Doamu
Dalam doamu aku terasup—
bukan sekadar kata yang naik ke langit,
melainkan cahaya yang menembus kabut,
menjadi darah dan tulangku,
agar aku tetap tegak
saat dunia mengguncang tiang hidup.
Dalam doamu aku berusuk—
setiap helai doa yang kau ucapkan
menjadi kekuatan yang mengalir ke urat,
hingga ketika badai meruntuhkan banyak hal,
aku tak jatuh,
sebab kau telah menambatkanku
pada sesuatu yang lebih abadi dari waktu.
Dalam doamu aku bertanya—
ketika jalan tertutup kabut
dan takdir belum terbaca,
jawaban tak datang lewat suara,
melainkan lewat tenang yang kau kirimkan dari jauh,
seolah kau berbisik melintasi tahun:
“Pergilah.
Perlindungan telah kutitipkan
di setiap langkahmu.”
Dalam doamu pula aku mengadu—
bahwa dunia kadang tajam,
dan hati kadang retak oleh lelah.
Kaulah ruang paling sunyi dan aman,
tempat segala luka luruh menjadi damai,
tempat aku kembali menjadi anak kecil
yang tak perlu takut pada apa pun.
Biarlah aku tertidur,
merasakan telapak tanganmu yang kasar dan keriput—
bekas tanah,
bekas keringat,
bekas kasih yang tak terhitung.
Tangan itu mengusap rambutku perlahan,
menghapus cemas yang menumpuk di pelupuk mata.
Sentuhan itu tak pernah hilang.
Ia tertanam di kulitku,
berdenyut dalam ingatan,
lebih nyata dari apa pun
yang dapat dilihat mata.
Biarkan telingaku tetap terbuka,
menembus masa lalu yang mulai pudar,
mendengar bisikmu yang naik ke singgasana Tuhan:
“Jagalah dia.
Jauhkan dari bahaya dan gelap.
Berikan jalan yang terang,
seperti aku selalu mendoakannya.”
Doamu tak pernah sekadar bunyi, Nenek.
Ia adalah arus yang terus mengalir,
jembatan yang tak putus antara bumi dan langit,
payung yang kau rajut dari kasih dan air mata,
menjadi atap yang meneduhiku seumur hidup.
Meski ragamu telah lama pulang ke asalnya,
cahayamu tak pernah padam.
Setiap langkahku
adalah jejak dari doamu.
Setiap senyumku
adalah pantulan dari harapanmu.
Setiap keberanianku
adalah bagian dari kekuatan yang kau tinggalkan.
Dan pada setiap sujudku kelak,
akan kusebut namamu beriringan dengan nama-Nya,
karena doamu adalah warisan teragung—
tak habis dimakan waktu,
tak usang dimakan zaman.
Ia hidup di dalam diriku,
tumbuh, berbuah, lalu menyebar,
melampaui usia dan kematian,
menjadi kasih yang abadi,
yang tak akan pernah hilang dari dunia ini.
****
Aku Rakyat Jelata
Aku rakyat jelata,
mengunyah sisa panen
dan menelan janji yang tak pernah tiba.
Aku rakyat jelata,
yang saban hari mendengar tawa dari balik jendela kekuasaan,
sementara nasib kami dijadikan angka dalam pidato.
Sekolahku tak tinggi,
bukuku tak bertumpuk.
Namun hidup adalah guru yang tak pandai berdusta.
Maka aku tahu,
tak semua yang berilmu mengenal nurani,
tak semua yang berkuasa mengerti kebijaksanaan.
Sebab yang paling busuk
bukan beras di piringku,
bukan lumpur di jalan yang kupijak,
melainkan pikiran yang membusuk
di balik jas dan jabatan,
yang fasih berbicara tentang rakyat,
namun asing pada penderitaan rakyat,
lalu berdiri di hadapan kami
dan menyebut dirinya pemimpin.
****
Menempa Sunyi
Di lengkung langit yang enggan membuka pagi,
kita dua sauh yang terlepas dari janji.
Mencari dasar pada laut yang berganti wajah,
sementara pertemuan hanyalah riak yang singgah.
Takdir bersembunyi di lipatan waktu,
menjadi rindu yang mengetuk jendela kelabu.
Bukan tentang siapa paling lama menunggu,
melainkan siapa yang sanggup melepaskan tanpa membatu.
Kita pernah menitipkan nama pada tepi musim,
lalu menyaksikan waktu datang sebagai hakim.
Mengajarkan bahwa yang rapuh bukan degup di dada,
melainkan jarak yang perlahan kehilangan suara.
Kini kubiarkan sepi menjelma larik-larik cahaya,
menghangatkan sisa luka yang lama terjaga.
Di ujung air mata yang luruh tanpa gaduh,
cinta yang patah belajar tumbuh.
Dan bila suatu musim mempertemukan jejak,
tak ada lagi kesibukan menghitung retak.
Yang telah pergi tak meminta penyesalan,
ia tinggal sebagai arah bagi perjalanan.
Maka kutempa sunyi menjadi nyala,
meski kecil, tetap menjaga cahaya.
Sebab kehilangan bukan penutup cerita,
melainkan pintu pertama menuju penerimaan.
****
Jatuh Cinta di Negeri yang Sakit
Aku jatuh cinta
ketika negeri ini batuk sepanjang musim.
Di trotoar,
poster-poster mengelupas dari tembok,
meninggalkan bekas lem
seperti janji yang lupa pada mulut pengucapnya.
Di persimpangan,
lampu-lampu masih berjaga semalaman,
namun wajah-wajah berlalu
dengan mata yang sibuk menghindari cermin.
Setiap pagi koran datang
membawa bau tinta dan kecemasan.
Nama-nama berganti,
tetapi luka tetap menemukan alamatnya.
Lalu kutemukan matamu.
Di sana
tak ada pengeras suara,
tak ada slogan yang dipoles berulang-ulang,
tak ada tangan yang berebut tepuk tangan.
Hanya keteduhan sederhana: segelas air di tengah kemarau panjang,
jendela yang masih terbuka
ketika banyak rumah memilih mengunci dirinya.
Maka kucintaimu diam-diam,
seperti seseorang melindungi nyala lilin
dengan kedua telapak yang hampir terbakar.
Sebab di negeri yang sakit ini,
harapan sering datang tanpa tanda jasa:
tumbuh di sela retak trotoar,
bertahan pada akar yang tak terlihat.
Dan mungkin cinta adalah salah satunya—
hal kecil yang tetap hidup
sesudah pidato usai,
sesudah baliho diturunkan,
sesudah banyak orang lupa
apa yang pernah mereka perjuangkan.
****
Biografi Penulis
Joni Efendy lahir pada 28 Oktober 2010. Ia merupakan santri aktif di Pondok Pesantren Nurul Muchlishin, Pakondang, Rubaru, Sumenep. Ia memiliki ketertarikan besar dalam dunia literasi, terutama membaca dan menulis, sebagai sarana memperluas wawasan serta menuangkan gagasan melalui karya tulis.













