Nyadran Keluarga Keraton Surakarta, Menapaki Jejak Cinta Susunan Pakubuwono IV di Pamekasan

- Jurnalis

Selasa, 17 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana haru saat Keluarga k
Keraton Surakarta nyekar di makam mertua Susunan Pakubuwono IV R. Alsari di area makam Ronggosukowati, Kelurahan Kolpajung, Pamekasan. (YUSRIL RAHMAN SYAKUR/KLIK MADURA).

Suasana haru saat Keluarga k Keraton Surakarta nyekar di makam mertua Susunan Pakubuwono IV R. Alsari di area makam Ronggosukowati, Kelurahan Kolpajung, Pamekasan. (YUSRIL RAHMAN SYAKUR/KLIK MADURA).

Nyadran adalah ritual sakral yang menghubungkan para leluhur dengan anak-cucu yang masih hidup. Dalam suasana penuh khidmat, keluarga Keraton Surakarta melaksanakan tradisi tersebut di makam R. Alsari, mertua Susunan Pakubuwono IV, yang berada di kompleks makam Ronggosukowati, Pamekasan.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan | Klik Madura.

****

SUASANA di Jalan Jokotole, Kelurahan Barurambat Timur, tepatnya di pendopo budaya Pamekasan, tampak berbeda pagi itu. Rombongan keluarga Keraton Surakarta Hadiningrat hadir dengan balutan busana adat.

para pria berbaju beskap putih dipadukan kain batik dan blangkon, sementara para perempuan tampil anggun dalam kebaya dan sanggul yang memancarkan wibawa. Mereka datang untuk satu tujuan sakral. Yakni, melakukan tradisi nyadran di bulan Ruwah atau Sya’ban.

Dari pendopo budaya, iring-iringan mulai bergerak menuju makam R. Alsari (R.T.A. Tjokro Adinigrat), mertua Susunan Pakubuwono IV sekaligus mantan Bupati Pamekasan. Prosesi tersebut dikawal ratusan anggota PSHT yang dipimpin Ketua DKP Pamekasan, Arief Wibisono.

Baca juga :  Bersiap Layani Pasien Bedah BPJS, RSIA Puri Bunda Madura Jalani Kredensialing

Cuaca siang itu begitu bersahabat, tidak terik, namun cukup cerah untuk menjaga suasana khidmat. Aroma dupa sudah tercium ketika rombongan memasuki area pemakaman Ronggosukowati, tempat para raja Pamekasan dimakamkan.

Tradisi nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Lantunan tahlil dan sholawat mengalun di antara pepohonan, memadukan ritual, sejarah, dan rasa rindu kepada para leluhur.

Rombongan dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah Wandansari, didampingi adiknya Gusti Kanjeng Ratu Ayus Gus Indriya, bersama sejumlah kerabat keraton lainnya serta tamu daerah, termasuk Walikota Salatiga Kanjeng Raden Ario Robby Nanuwijaya dan istrinya Kanjeng Mas Ayu Retno Purnamaningrum.

“Kedatangan kami dari Keraton Surakarta Hadiningrat ini untuk menyambung benang yang pernah tersambung pada abad ke-18,” ujar Gusti Moeng, sapaan akrab GKR Wandansari.

Ia mengisahkan bahwa pada abad ke-18, Sinuwun Pakubuwono IV atau Raden Mas Subadya telah dijodohkan sejak muda dengan putri tertua adipati Pamekasan, Kanjeng Raden Ayu Handoyo.

Baca juga :  478 Mahasiswa dari 16 Prodi Diwisuda, Rektor UIM Tekankan Nilai Islam Tetap Dipertahankan

Saat itu, Raden Ayu Handoyo telah dipingit sejak usia delapan tahun, sementara Subadya masih menempuh pendidikan di pesantren di Bekonang, Sukoharjo.

“Dan setelah sama-sama memasuki akhir baligh mereka dinikahkan dan dikaruniai putra atas nama Gusti Sugandi. Namun saat berumur 1,5 tahun Raden Ayu Handoyo ini wafat sebelum Susunan Pakubuwono IV ini naik tahta menjadi Raja. Kemudian ketika menjadi Raja beliau menikahi adik mantan istrinya Raden Ayu Soepinah yang nantinya ibu Sinuwun Pakubuwono VII,” jelas Gusti Moeng, dengan kebaya putih bermotif ungu dan hitam yang tampak anggun dalam cahaya siang itu.

Ia menegaskan bahwa Pakubuwono IV amat mencintai istrinya yang berdarah Madura tersebut. Rasa cinta itu bahkan diabadikan melalui sebuah tari serimpi bernama Ludira Madura atau Ludira Madu, simbol bahwa sang raja memiliki pertalian darah dan batin dengan tanah Madura.

Baca juga :  Mobil Pikap Angkut Rombongan Personel Drumband Terguling, Dua Orang Kritis

Nyadran yang dilaksanakan ini bukanlah kegiatan baru. Tradisi tersebut sudah mereka jalankan sejak sepuluh tahun lalu. Namun, lima tahun pertama dihabiskan dengan menelusuri jejak leluhur—mencari babat Madura yang menghubungkan keraton dan Pamekasan.

“Ternyata ada di Pamekasan ini dan menjadi Bupati. Alhamdulillah dan terima kasih sudah dirawat dengan baik pesarean eyang kami. Dan kegiatan ini akan menjadi kalender event tetap di Pamekasan seperti yang disampaikan Bupati Pamekasan tadi malam,” tutupnya.

Tradisi itu bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan menemukan kembali jalinan sejarah yang pernah kuat terhubung antara Surakarta dan Madura.

Nyadran menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara leluhur dan para pewaris yang terus menjaga jejaknya. (*)

Berita Terkait

ASN Pamekasan WFH Setiap Jumat, Bupati Tekankan Efisiensi dan Perubahan Budaya Kerja
Berangkat Ngantor Naik Sepeda, Kadisdikbud Pamekasan Ajak ASN Hemat BBM Sekaligus Jaga Kebugaran
Bocah 5 Tahun di Kecamatan Pasean Tewas Diserang Monyet Peliharaan, Polisi Selidiki Pemilik
Keterangan Dua Terdakwa Kasus Pembunuhan Berbeda dari BAP, Kuasa Hukum Korban Berharap Hukuman Seumur Hidup
Konflik Timur Tengah Memanas, Pemkab Pamekasan Siapkan Edaran Hemat BBM
SPPG Yayasan As-Salman Ditutup BGN, Ribuan Siswa di Pamekasan Belum Terima MBG
Setahun Jabatan Bupati-Wabup, Ketua Dewan Minta Fokus Reformasi Birokrasi dan Kurangi Seremonial
Paripurna LKPJ 2025, DPRD Pamekasan Ingatkan Kinerja Awal Bupati Belum Maksimal

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 08:41 WIB

ASN Pamekasan WFH Setiap Jumat, Bupati Tekankan Efisiensi dan Perubahan Budaya Kerja

Kamis, 2 April 2026 - 08:04 WIB

Berangkat Ngantor Naik Sepeda, Kadisdikbud Pamekasan Ajak ASN Hemat BBM Sekaligus Jaga Kebugaran

Kamis, 2 April 2026 - 05:29 WIB

Bocah 5 Tahun di Kecamatan Pasean Tewas Diserang Monyet Peliharaan, Polisi Selidiki Pemilik

Rabu, 1 April 2026 - 13:32 WIB

Keterangan Dua Terdakwa Kasus Pembunuhan Berbeda dari BAP, Kuasa Hukum Korban Berharap Hukuman Seumur Hidup

Rabu, 1 April 2026 - 08:25 WIB

SPPG Yayasan As-Salman Ditutup BGN, Ribuan Siswa di Pamekasan Belum Terima MBG

Berita Terbaru

Opini

Trump, Tuan yang Mahasyahwat

Jumat, 3 Apr 2026 - 07:17 WIB