Nyadran adalah ritual sakral yang menghubungkan para leluhur dengan anak-cucu yang masih hidup. Dalam suasana penuh khidmat, keluarga Keraton Surakarta melaksanakan tradisi tersebut di makam R. Alsari, mertua Susunan Pakubuwono IV, yang berada di kompleks makam Ronggosukowati, Pamekasan.
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan | Klik Madura.
****
SUASANA di Jalan Jokotole, Kelurahan Barurambat Timur, tepatnya di pendopo budaya Pamekasan, tampak berbeda pagi itu. Rombongan keluarga Keraton Surakarta Hadiningrat hadir dengan balutan busana adat.
para pria berbaju beskap putih dipadukan kain batik dan blangkon, sementara para perempuan tampil anggun dalam kebaya dan sanggul yang memancarkan wibawa. Mereka datang untuk satu tujuan sakral. Yakni, melakukan tradisi nyadran di bulan Ruwah atau Sya’ban.
Dari pendopo budaya, iring-iringan mulai bergerak menuju makam R. Alsari (R.T.A. Tjokro Adinigrat), mertua Susunan Pakubuwono IV sekaligus mantan Bupati Pamekasan. Prosesi tersebut dikawal ratusan anggota PSHT yang dipimpin Ketua DKP Pamekasan, Arief Wibisono.
Cuaca siang itu begitu bersahabat, tidak terik, namun cukup cerah untuk menjaga suasana khidmat. Aroma dupa sudah tercium ketika rombongan memasuki area pemakaman Ronggosukowati, tempat para raja Pamekasan dimakamkan.
Tradisi nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Lantunan tahlil dan sholawat mengalun di antara pepohonan, memadukan ritual, sejarah, dan rasa rindu kepada para leluhur.
Rombongan dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah Wandansari, didampingi adiknya Gusti Kanjeng Ratu Ayus Gus Indriya, bersama sejumlah kerabat keraton lainnya serta tamu daerah, termasuk Walikota Salatiga Kanjeng Raden Ario Robby Nanuwijaya dan istrinya Kanjeng Mas Ayu Retno Purnamaningrum.
“Kedatangan kami dari Keraton Surakarta Hadiningrat ini untuk menyambung benang yang pernah tersambung pada abad ke-18,” ujar Gusti Moeng, sapaan akrab GKR Wandansari.
Ia mengisahkan bahwa pada abad ke-18, Sinuwun Pakubuwono IV atau Raden Mas Subadya telah dijodohkan sejak muda dengan putri tertua adipati Pamekasan, Kanjeng Raden Ayu Handoyo.
Saat itu, Raden Ayu Handoyo telah dipingit sejak usia delapan tahun, sementara Subadya masih menempuh pendidikan di pesantren di Bekonang, Sukoharjo.
“Dan setelah sama-sama memasuki akhir baligh mereka dinikahkan dan dikaruniai putra atas nama Gusti Sugandi. Namun saat berumur 1,5 tahun Raden Ayu Handoyo ini wafat sebelum Susunan Pakubuwono IV ini naik tahta menjadi Raja. Kemudian ketika menjadi Raja beliau menikahi adik mantan istrinya Raden Ayu Soepinah yang nantinya ibu Sinuwun Pakubuwono VII,” jelas Gusti Moeng, dengan kebaya putih bermotif ungu dan hitam yang tampak anggun dalam cahaya siang itu.
Ia menegaskan bahwa Pakubuwono IV amat mencintai istrinya yang berdarah Madura tersebut. Rasa cinta itu bahkan diabadikan melalui sebuah tari serimpi bernama Ludira Madura atau Ludira Madu, simbol bahwa sang raja memiliki pertalian darah dan batin dengan tanah Madura.
Nyadran yang dilaksanakan ini bukanlah kegiatan baru. Tradisi tersebut sudah mereka jalankan sejak sepuluh tahun lalu. Namun, lima tahun pertama dihabiskan dengan menelusuri jejak leluhur—mencari babat Madura yang menghubungkan keraton dan Pamekasan.
“Ternyata ada di Pamekasan ini dan menjadi Bupati. Alhamdulillah dan terima kasih sudah dirawat dengan baik pesarean eyang kami. Dan kegiatan ini akan menjadi kalender event tetap di Pamekasan seperti yang disampaikan Bupati Pamekasan tadi malam,” tutupnya.
Tradisi itu bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan menemukan kembali jalinan sejarah yang pernah kuat terhubung antara Surakarta dan Madura.
Nyadran menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara leluhur dan para pewaris yang terus menjaga jejaknya. (*)














